Zulhas Sebut Harga Beras Bisa Tembus Rp20 Ribu Jika RI Terus Impor

2026/09/04

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memperingatkan harga beras Indonesia bisa menembus Rp16 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram (kg) jika ketergantungan terhadap pangan impor terus berlanjut.

Menurutnya, harga beras yang semakin mahal dapat mendorong masyarakat beralih ke gandum yang harganya lebih murah.

"Kalau kita terus tidak mau tahu juga, nanti harga beras kita bisa sampai Rp16 ribu, Rp20 ribu (per kg), sementara harga harga-harga gandum akan murah. Orang akan pindah makannya," kata pria yang akrab disapa Zulhas itu dalam acara launching buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan peningkatan konsumsi gandum Indonesia terjadi di tengah tingginya biaya produksi beras dalam negeri. Zulhas membandingkan biaya untuk menghasilkan 1 kilogram beras di Indonesia yang disebut mencapai Rp12 ribu, sedangkan Thailand dan Vietnam hanya sekitar Rp3.800.

"Negara tetangga kita dekat, Thailand, Vietnam itu, untuk dapat 1 kilo beras, dia hanya mengeluarkan biaya Rp3.800. Kita untuk 1 kg beras, itu perlu biaya Rp12 ribu. Betapa kita kalah jauh tertinggal," ujarnya.

Menurut Zulhas, perbedaan biaya tersebut berkaitan dengan teknologi, varietas baru, serta manajemen pengolahan sawah yang membuat produktivitas negara lain lebih tinggi.

[Gambas:Youtube]

Ia kemudian menyoroti impor gandum Indonesia yang meningkat tajam. Saat dirinya menjadi anggota DPR pada 2004, konsumsi gandum Indonesia disebut masih sekitar 3-4 juta ton. Kini, angkanya telah mencapai sekitar 13 juta ton.

"Saya jadi anggota DPR tahun 2004, kita makan gandum mungkin 3-4 juta. Sekarang kita makan gandum yang kita tidak bisa tanam 13 juta ton, sekarang. Berarti dari 3-4 juta sekarang 13 (juta ton) berapa kali itu, ya?" tutur Zulhas.

Zulhas menjelaskan kenaikan konsumsi ganduk terjadi karena harga beras yang mahal membuat masyarakat beralih ke produk berbahan gandum yang dinilai lebih murah, seperti roti. Ia memperkirakan pola tersebut dapat terus berlanjut jika harga beras tetap tinggi.

"Kenapa (konsumsi) gandum naik 13 juta (ton)? Karena beras kita mahal, gandumnya murah, (konsumsi) pindah. Dia enggak makan nasi goreng, makan roti, karena lebih murah, gitu. Nanti terus akan begitu," imbuhnya.

Zulhas mengatakan ketergantungan terhadap impor tidak hanya terjadi pada gandum. Ia menyebut Indonesia pada 2024 mengimpor 4,5 juta ton beras, sekitar 1 juta ekor sapi per tahun, 4 juta ton kedelai, serta rata-rata 6 juta ton gula. Untuk gandum, impor mencapai sekitar 13 juta ton karena komoditas tersebut tidak dapat ditanam di Indonesia.

"Kalau saudara-saudara mengikuti, hampir semua makan kita ini impor kita ini. Tahun 2024 kita impor beras itu 4,5 juta. Tapi kita sudah biasa, ah sudah. Kita kalau enggak ada beras ya impor saja," katanya.

Menurutnya, ketergantungan impor juga berisiko membuat Indonesia menghadapi harga pangan yang lebih mahal dan bergantung pada negara lain. Ia mengaku pernah mengalami kondisi tersebut saat menjabat sebagai menteri perdagangan, ketika RI kesulitan mendapatkan pasokan beras dari negara lain.

Zulhas juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap bibit impor. Ia mengatakan kondisi tersebut terjadi pada hampir seluruh tanaman pangan.

"Hampir seluruh tanaman-tanaman pangan, itu semua bibitnya kita impor. Yang sekali pakai, sudah gitu impor lagi seperti ayam tadi. Terus akan tergantung," ucapnya.

Ia mencontohkan kedelai yang produktivitasnya masih jauh dibandingkan negara-negara yang telah mengembangkan rekayasa genetik. Menurut Zulhas, satu hektare kedelai dengan bibit yang digunakan di Indonesia menghasilkan sekitar 1 ton, sementara di negara lain dapat mencapai 10 ton per hektare.

Ia mengatakan rendahnya produktivitas tersebut membuat harga kedelai dalam negeri bisa tiga hingga empat kali lebih mahal.

Zulhas mengatakan pemerintah tidak akan membenahi seluruh komoditas pangan sekaligus. Program swasembada dilakukan bertahap, dimulai dari beras dan jagung, kemudian gula, garam, ikan, hingga daging.

"Oleh karena itu, tidak semua kita lakukan sekaligus. Kita bertahap, sekarang beras, jagung, kemudian ini kita akan berkembang ke gula, sama garam, terus ikan, daging belakangan, enggak mudah juga daging itu," katanya.

Ia mengakui masih banyak pekerjaan rumah untuk menekan biaya produksi pangan, termasuk dari sisi mekanisasi dan produktivitas.

"Makanya kita masih mahal, masih PR kita banyak ini, tapi kita sudah memulai sesuatu-sesuatu yang bertanggung jawab, kira-kira begitu," ujar Zulhas.

(del/ins)