Pengunduran diri perdana menteri secara otomatis menyebabkan seluruh kabinet harus mengajukan pengunduran diri, sehingga perombakan pemerintahan yang lebih luas pun diperkirakan terjadi.
Salah satu posisi yang paling menjadi sorotan adalah Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov. Pergantian tersebut terjadi ketika Ukraina dinilai mulai meningkatkan tekanan terhadap Rusia melalui serangan drone jarak jauh yang menyasar berbagai target strategis, termasuk fasilitas energi.
Fedorov, 35 tahun, dikenal sebagai tokoh yang mendorong inovasi teknologi dan berasal dari luar struktur tradisional Kementerian Pertahanan. Ia baru menjabat sebagai menteri pertahanan selama enam bulan sebelum mengumumkan pengunduran dirinya pada Rabu.
Sejumlah anggota parlemen Ukraina menyebut Zelenskyy berencana menunjuk Menteri Dalam Negeri Ihor Klymenko, yang telah menjabat sejak 2023, untuk mengambil alih posisi Menteri Pertahanan.
Namun, keputusan tersebut menuai kritik dari sejumlah pihak. Beberapa anggota parlemen mempertanyakan alasan penggantian Fedorov saat Ukraina sedang berupaya meningkatkan kemampuan militernya melalui penggunaan drone jarak jauh dan memperlambat kemajuan pasukan Rusia di medan perang.
Oleksandr Merezhko, Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Ukraina sekaligus anggota partai Zelenskyy, menyatakan kekecewaannya terhadap kemungkinan pencopotan Fedorov.
“Fedorov sangat dihormati oleh mitra internasional kami. Namanya dikaitkan dengan harapan akan adanya reformasi nyata di Kementerian Pertahanan,” tulis Merezhko di media sosial.
Kritik lebih keras datang dari Maria Berlinska, aktivis relawan dan pendukung pengembangan teknologi perang drone. Ia menyebut keputusan mengganti Fedorov sebagai salah satu kesalahan terbesar Presiden Zelenskyy.
“Keputusan presiden ini tidak hanya akan merugikan kita, tetapi dampaknya bisa sangat besar. Harganya dapat berupa nyawa dan kesehatan ratusan ribu orang, bahkan lebih,” ujarnya.