Jakarta, CNN Indonesia --
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia turut berdampak pada sektor pariwisata negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Sejumlah bisnis wisata luar ruangan mengalami penurunan pemesanan hingga 30 persen, karena pelanggan menunda atau membatalkan aktivitas akibat kualitas udara yang memburuk.
Asap dari kebakaran di wilayah Sumatra bagian selatan dan Kalimantan terbawa angin dari arah tenggara menuju Singapura. Badan Lingkungan Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) menyebut kondisi tersebut menyebabkan kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aktivitas wisata yang mengharuskan pengunjung berada di luar ruangan dalam waktu lama atau melakukan kegiatan fisik berat menjadi yang paling terdampak. Sejumlah operator tur pun menawarkan alternatif kegiatan agar pelanggan tetap bisa berwisata dengan lebih nyaman.
Mengutip VN Express, Yeo Yen Ping, pendiri On A Roll Tour, mengatakan pemesanan tur menggunakan skuter tendang (kick scooter) dan tur jalan kaki turun 10-20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pilihan Redaksi
- Prediksi Wisata 2027, Media Asing Soroti Bali yang Tak Lagi Menarik
- 9 Tempat Wisata di Dunia yang Dulu Berjaya tapi Kini Terbengkalai
- Wisata Danau Toba Terganggu Asap Karhutla
Namun, berdasarkan laporan Channel News Asia (CNA), Yeo Yen Ping menilai penurunan tersebut kemungkinan juga dipengaruhi kenaikan harga hotel dan tiket pesawat.
Tur skuter yang ditawarkan perusahaannya mencakup jarak sekitar 8-10 kilometer. Ketika kualitas udara mencapai tingkat tidak sehat, Yeo menyarankan pelanggan beralih ke tur jalan kaki atau pengalaman wisata dalam ruangan.
Perusahaannya juga memasukkan sejumlah lokasi berpendingin udara ke dalam rute tur, seperti National Gallery, Victoria Theatre and Concert Hall, museum, serta Singapore City Gallery sehingga wisatawan tetap bisa menghabiskan waktu meski di dalam ruangan.
Dampak kabut asap juga dirasakan Wonderlust Adventures, perusahaan penyewaan kapal pesiar yang menawarkan pengalaman berwisata di perairan terbuka.
Direktur perusahaan, Quek Wee Teck, mengatakan bisnisnya turun 30 persen sejak September 2026. Wisatawan menyumbang lebih dari separuh pelanggan perusahaan, termasuk pengunjung dari China, India, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat.
Penyewaan kapal pesiar di perusahaan tersebut memiliki durasi minimum empat jam. Karena pelanggan menghabiskan sebagian besar waktu di perairan terbuka, pilihan untuk mengalihkan aktivitas ke dalam ruangan juga lebih terbatas.
Quek mengatakan perusahaan biasanya menerima banyak pelanggan asal China selama libur Hari Nasional China yang dimulai pada 1 Oktober. Namun, tahun ini jumlah pelanggan dari negara tersebut mengalami penurunan tajam.
Berbeda dengan dua bisnis sebelumnya, Singapore River Cruise belum mengalami perubahan bisnis yang signifikan akibat kabut asap. Operator tersebut menawarkan perjalanan kapal selama sekitar 40 menit.
Durasi yang lebih singkat ini menjadi salah satu perbedaan dibandingkan tur skuter jarak jauh dan penyewaan kapal pesiar selama beberapa jam. Meski demikian, kondisi kualitas udara tetap perlu diperhatikan oleh wisatawan yang ingin melakukan aktivitas di luar ruangan.
Kabut asap akibat karhutla di Indonesia mulai memengaruhi kualitas udara Singapura pada awal September 2026. Pada 4 September, indeks standar polutan selama 24 jam (Pollutant Standards Index/PSI) di wilayah pusat Singapura mencapai 101, yang masuk kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut kembali memburuk pada Oktober 2026. Menurut laporan Reuters pada 14 Oktober 2026, konsentrasi partikel halus PM2.5 selama satu jam di wilayah barat Singapura mencapai 284 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut menjadi pembacaan tertinggi di Singapura sepanjang 2026 dan masuk kategori very high menurut NEA.
Negara tetangga, Malaysia, juga terdampak kabut asap dari karhutla di Indonesia. Operator tur negara Malaysia juga melakukan penyesuaian akibat kabut asap.
Mint Leong, President Malaysian Inbound Tourism Association, mengatakan bahwa para operator mempersingkat durasi aktivitas luar ruangan dan menggantinya dengan kunjungan ke pusat perbelanjaan serta museum.
(dsd/wiw)