Waspada dampak nyata Super El Nino hingga awal tahun 2027

2026/09/23

● Belum usai bencana erupsi, banjir, dan longsor, kekeringan akibat El Niño datang mengancam hingga Q1 2027 mendatang.

● El Niño tahun ini diprediksi jadi salah satu yang terkuat sepanjang masa.

● Kenaikan harga pangan dapat menekan daya beli dan konsumsi, yang menopang pertumbuhan ekonomi.


Kita harus waspada, sebab Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa El Niño tahun ini akan menjadi salah satu yang terparah dalam 2 dekade terakhir.

Indeks Niño3.4 sebagai indikator utama untuk mengukur kekuatan El Niño menangkap geliat anomali suhu permukaan laut sebesar +0,5°C dan diperkirakan akan menembus rata-rata +3,0°C hingga Februari 2027.

Sebanyak 24 model iklim sepakat pasti akan terjadi El Niño dan 13 di antaranya memprediksi kategori sangat kuat (super). World Meteorological Organization (WMO) menaikkan peluang kejadian ini hingga sekitar 90% menjelang akhir tahun.

Masalahnya, setiap kali El Niño datang, perhatian publik biasanya tertuju pada dua hal: sawah yang mengering dan asap kebakaran hutan. Dua efek tersebut berujung pada terganggunya pasokan pangan yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

Dampak El Niño terhadap lahan pertanian amatlah sederhana. Curah hujan yang jauh di bawah normal (kekeringan meteorologis) dapat menekan pasokan air untuk sawah, yang kemudian mengurangi hasil panen.

Dengan kata lain, ini bukan lagi soal kemungkinan, melainkan soal seberapa besar dampaknya yang bakal dirasakan langsung oleh masyarakat.


Read more: Menghadapi super el niño 2026: mengapa kolaborasi dengan warga lebih ampuh ketimbang instruksi terpusat padamkan karhutla?


El Niño merusak produksi dan pasokan beras

Jika skenario Super El Niño ini benar terjadi hingga awal 2027, maka terdapat potensi pergeseran jadwal tanam pada musim hujan 2026/2027, sehingga jadwal panen akan terancam dan merambat menjadi persoalan pasokan dan kenaikan harga pangan, khususnya beras.

Kami membandingkan dampak El Niño terhadap harga beras rata-rata per tahun di setiap provinsi dengan mengambil sample El Niño terkuat sejak 2000, yakni periode 2015-2016 dan 2023-2024.

Fluktuasi harga beras ketika super El Niño melanda pada tahun 2015-2016. Grafis: Rino Putama (The Conversation Indonesia) | Djoko Santoso Abi Suroso dan Isnan Fauzi (ITB)

Fluktuasi harga beras ketika super El Niño melanda pada tahun 2023-2024. Catatan: angka persentase tersebut adalah rata-rata perubahan harga beras tahunan (YoY, %, terkoreksi inflasi umum). Provinsi dikelompokkan ke klasifikasi Kecil/Sedang/Besar berdasarkan studi dari World Food Programme. Kenaikan harga beras tersebut dihitung dari baseline rata-rata harga beras tahun non-El Niño & non-La Niña. Grafis: Rino Putama (The Conversation Indonesia) | Djoko Santoso Abi Suroso dan Isnan Fauzi (ITB)

Besaran kenaikan harga beras akibat dampak El Niño memang tidak seragam. Ada wilayah yang mengalami penurunan harga beras hingga 7,5% di Kepulauan Riau (2015) dan ada yang mengalami kenaikan harga hingga 15,2% di Sulawesi Tengah (2024).

Namun dampak utama yang ditimbulkan kedua El Niño tersebut amatlah jelas, penurunan produktivitas lahan pertanian menekan produksi padi yang akhirnya mengerek naik harga beras di pasaran.

Beras mahal, pertumbuhan ekonomi melambat

Seberapa nyata ancaman El Niño 2026 bagi dompet warga?

Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, yang porsi pengeluarannya untuk beras jauh lebih besar dibanding kelompok berpenghasilan tinggi, ini bukan sekadar angka statistik. Mereka harus merogoh kantongnya lebih dalam hanya untuk beli beras di luar kebutuhan lainnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir inflasi Agustus 2026 secara bulanan sebesar 0,21% disumbang oleh kenaikan harga komoditas pangan seperti daging ayam, ikan, dan tentunya beras.

Dalam ekonomi makro, inflasi yang kerap dijadikan acuan kuatnya daya beli masyarakat merupakan gabungan dari inflasi inti, inflasi harga yang diatur pemerintah, dan inflasi harga bergejolak (volatile food).

Untuk melihat jejak El Niño, kita perlu fokus pada komponen yang ketiga, yaitu inflasi bergejolak, yang sumbernya berasal dari harga komoditas pangan yang gampang naik-turun seperti cabai, bawang, dan beras.

Indeks Nino 3.4 dan inflasi bergejolak 2009-2026. CC BY-NC-ND

Gambar tersebut menampilkan pergerakan indeks Niño3.4 berdampingan dengan inflasi bergejolak. Pada dua episode El Niño terkuat dalam periode ini (2015 - 2016 dan 2023 - 2024) kedua garis bergerak beriringan dengan cukup jelas: setiap kali indeks Niño3.4 memuncak, inflasi bergejolak ikut naik dalam rentang waktu yang berdekatan.

Inflasi bergejolak dirancang untuk melacak guncangan pasokan pangan jangka pendek seperti El Niño: kekeringan menekan hasil panen, pasokan pangan menipis lebih cepat, dan harga di level konsumen bereaksi dalam hitungan bulan.

Semakin kuat El Niño, semakin jelas pula pola ini terlihat.

Mengacu pada data historis 1961–2025, laju pertumbuhan PDB Nasional melambat rata-rata 1,48% pada 13 dari 20 tahun kejadian El Niño sejak 1961, dengan perlambatan terkuat mencapai 5,68 persen pada El Niño 1982.

Sebagai pembanding, pada tahun kejadian La Niña, pertumbuhan PDB juga melambat dengan rata-rata 1,76%. Pola ini konsisten dengan riset internasional yang menemukan bahwa guncangan ENSO dapat menekan pertumbuhan ekonomi negara berkembang hingga 2%, dengan dampak yang dua kali lebih besar di kawasan tropis seperti Indonesia.


Read more: Selama desil kemiskinan kusut, program bansos akan terus semrawut


Langkah preventif adalah kunci

Dampak El Niño 2023-2024 terhadap harga beras lebih buruk dibanding 2015-2016. Di periode 2015-2016, terdapat peningkatan produksi selama Februari-Maret 2016 serta berbagai intervensi adaptasi pertanian tanpa melulu mengandalkan impor yang memang tercatat relatif kecil, sekitar 861 ribu ton (2015) dan 1,28 juta ton (2016).

Sebaliknya, El Niño 2023 - 2024 terjadi bertepatan dengan guncangan pasokan global. Walaupun produksi beras Indonesia surplus pada Maret - April 2023, neraca beras mulai mengalami defisit pada Juli -September 2023.

Ketika El Niño mulai menanjak di Juli 2023 hingga berakhir pada April 2024, India (eksportir beras terbesar dunia) melarang ekspor beras nonbasmati untuk menjaga stok dan harga dalam negerinya sendiri. Ini memaksa negara pengimpor termasuk Indonesia berebut pasokan dari sumber yang lebih terbatas.

Guncangan produksi domestik di episode tersebut jauh lebih berat, dan diperparah faktor luar yang sama sekali di luar kendali kebijakan pangan Indonesia.


Read more: Beban inflasi Juni akibat kenaikan BBM tak terbantahkan lagi: Lampu kuning bagi masyarakat


Meskipun belakangan Indonesia mengimpor beras tiga hingga lima kali lipat lebih banyak (dibanding 2015 - 2016) ke rekor 3,06 juta ton (2023) dan 4,52 juta ton (2024), momentum dalam melakukan kebijakan menjaga kestabilan pasokan amatlah penting.

BMKG sudah meminta petani di wilayah paling berisiko (NTT, NTB, Bali, pesisir Jawa, Sumatra bagian selatan, hingga Papua bagian selatan) untuk mengatur ulang jadwal tanam agar musim panen tidak jatuh tepat saat puncak kemarau.

Walau peningkatan intensitas hujan akan terjadi di Oktober 2026 dan berpotensi melemahkan dampak El Niño di Indonesia, namun secara global fenomena El Niño ini diproyeksikan bertahan hingga awal 2027.

Artinya, ada kemungkinan hujan akan datang lebih lambat dari jadwal biasanya. Imbasnya, musim tanam ikut mundur, dan panen raya yang biasanya jatuh Maret - April berisiko tergeser ke April - Mei. Secara historis, ini merupakan periode paling rentan terhadap lonjakan harga pangan.