Banjarbaru (ANTARA) - Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menegaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan (Kalsel) harus dilakukan dengan langkah cepat untuk mengantisipasi penurunan debit air akibat fenomena El Nino berkepanjangan.
“Keterbatasan air menjadi persoalan serius dalam penanganan karhutla, terutama untuk membasahi lahan gambut di kawasan Guntung Damar dan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, yang membutuhkan pasokan air mencukupi,” kata dia saat meninjau penanganan karhutla di Banjarbaru, Senin.
Ia menuturkan, kalau logistik finansial ada, tetapi logistik airnya tidak ada, makan persoalan tersebut cukup susah untuk ditanggulangi jangka panjang.
“Kondisi El Nino menyebabkan debit air di sejumlah wilayah mengalami penurunan, termasuk Waduk Riam Kanan, sehingga pemerintah menargetkan pemadaman dilakukan secepat mungkin sebelum ketersediaan air semakin berkurang,” katanya.
Hanif menyebut, Waduk Riam Kanan memiliki fungsi strategis, mulai dari bendungan, pembangkit listrik tenaga air, irigasi, perikanan, hingga sumber air baku bagi perusahaan daerah air minum, sehingga penurunan debit perlu diantisipasi.
“Pemerintah akan melakukan pengecekan langsung ke Waduk Riam Kanan bersama jajaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk menentukan langkah lanjutan menghadapi kondisi tersebut,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pembangkit listrik tenaga air Riam Kanan memiliki kontribusi sekitar 30 megawatt. Penurunan debit air dikhawatirkan berdampak terhadap berbagai fungsi waduk apabila kondisi kemarau berlangsung lebih panjang, termasuk kemungkinan terganggunya operasional pembangkit.
Selain mempercepat pemadaman, kata dia, pemerintah juga memperkuat langkah pencegahan agar kebakaran tidak kembali terjadi dengan cara mengantisipasi berbagai kegiatan masyarakat yang menggunakan api dan berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.
“Pak Presiden sudah dengan tegas menyatakan untuk mengakhiri semua kebijakan yang membolehkan membakar lahan,” katanya.
Dia juga mengingatkan kondisi El Nino berpotensi berlangsung hingga akhir tahun sehingga penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama dan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah.
“Kami meminta masyarakat, pemerintah daerah, dunia usaha, aparat, akademisi, serta media massa terlibat aktif dalam pencegahan dan penanganan karhutla. Pemerintah juga mendorong sistem pagar betis untuk memastikan api tidak kembali muncul setelah berhasil dipadamkan,” ujar Wamenko Hanif.
Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.