Wali Kota Palembang canangkan Gerakan Jaga Sungai Musi dari sampah

2026/09/13

Wali Kota Palembang canangkan Gerakan Jaga Sungai Musi dari sampah

Minggu, 13 September 2026 16:42 WIB

Image Print

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa memimpin gerakan membersihkan sampah di Sungai Musi kawasan 7 Ulu Palembang, Sabtu. ANTARA/Edo Purmana

Palembang (ANTARA) - Wali Kota Palembang, Sumatera Selatan, Ratu Dewa mencanangkan gerakan Jaga Sungai Musi dengan mengajak masyarakat untuk membersihkan aliran sungai dari sampah.

"Seperti gerakan hari ini saya bersama warga bergotong royong membersihkan sampah di aliran Sungai Musi kawasan 7 Ulu dan sekitar Jembatan Ampera," kata Wali Kota Palembang, Ratu Dewa di Palembang, Sabtu.

Dia mengatakan, aksi tersebut merupakan bagian dari Gerakan Menjaga Sungai Palembang dan Clean Up Sungai Musi yang melibatkan sekitar 700 orang dari berbagai unsur mulai dari relawan, komunitas, mahasiswa, pemuda, masyarakat hingga pemerintah.

Dengan penuh semangat, Ratu Dewa bersama para peserta menyusuri kawasan bantaran sungai untuk mengangkat dan mengumpulkan sampah yang mencemari lingkungan.

Kegiatan ini turut melibatkan The Guardians of The River-ICCN Sumatera Selatan, Koordinator Daerah ICCN Sumsel Muhammad Hafidz Alfuqan, serta aktivis lingkungan asal Jerman, Benedict Wermter yang dikenal dengan Bule Sampah.

Ratu Dewa mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian bersama terhadap Sungai Musi yang selama ini menjadi ikon sekaligus bagian penting dari kehidupan masyarakat Palembang.

Menurutnya, Sungai Musi bukan hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi bagian dari identitas, sejarah dan kehidupan masyarakat Kota Palembang.

Oleh karena itu, menjaga kebersihan Sungai Musi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah saja, namun dibutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat agar kepedulian terhadap lingkungan menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Dia mengungkapkan, persoalan sampah di Palembang masih menjadi tantangan besar di mana berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang, timbulan sampah di wilayah setempat mencapai sekitar 1.260 ton/hari.

Pemerintah Kota Palembang, lanjut dia, terus memperkuat pengelolaan sampah, salah satunya melalui program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Keramasan yang memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton sampah per hari.

Namun, keberadaan fasilitas pengolahan sampah tersebut bukan berarti masyarakat dapat terus menghasilkan sampah tanpa melakukan pengurangan dari sumbernya.

"Keberadaan PSEL bukan berarti kita boleh terus menghasilkan sampah. Pengurangan dan pemilahan sampah tetap harus dimulai dari rumah, lingkungan dan masyarakat,” tegasnya.

Ia pun mengajak masyarakat Palembang untuk menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai, mengurangi penggunaan plastik serta mulai memilah sampah sejak dari rumah.

Menurut Ratu Dewa, gerakan menjaga lingkungan harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga, kemudian diperluas dengan mengajak lingkungan sekitar untuk melakukan hal yang sama.

"Jangan membuang sampah sembarangan. Mari kita peduli lingkungan dan menjadikannya sebagai budaya. Mulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian mengajak masyarakat," ujarnya.

Sementara, Aktivis Lingkungan asal Jerman, Benedict Wermter yang dikenal sebagai Bule Sampah mengapresiasi kesempatan untuk terlibat dalam gerakan kebersihan Sungai Musi.

Menurutnya, Palembang memiliki posisi penting sebagai salah satu kota besar di Indonesia dengan Sungai Musi sebagai bagian dari identitas kota.

"Persoalan sampah membutuhkan aksi nyata dan keterlibatan masyarakat secara luas," ujar dia.

Pewarta: Edo Purmana
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026