Voice AI kian berkembang, Indonesia jadi pasar potensial

2026/09/07

Jakarta (ANTARA) - Pameran elektronik IFA 2026 di Berlin, Jerman, menyoroti perkembangan teknologi Voice AI yang semakin berkembang dan terhubung, sekaligus membuka peluang pertumbuhan di pasar ASEAN, terutama Indonesia.

Lawrence Wu, Head of Physical AI Agora sebagai perusahaan penyedia teknologi komunikasi menilai Indonesia justru memiliki potensi pertumbuhan paling bagus di ASEAN.

“Pasar perangkat pintar di Indonesia menunjukkan salah satu potensi pertumbuhan yang paling menjanjikan di Asia Tenggara. Tren ini menjadi salah satu faktor yang kami pertimbangkan dalam melihat pasar di mana teknologi seperti ini dapat semakin relevan ke depannya,” ujar Lawrence Wu dalam keterangan tertulis pada Senin.

Dalam pameran itu, Agora Inc menghadirkan tiga kapabilitas baru pada platform conversational AI, yakni Voiceprint, Voice Cloning, dan dukungan Model Context Protocol (MCP).

Ketiga teknologi tersebut memungkinkan perangkat pintar mengenali pengguna berdasarkan suara, menghadirkan karakter suara yang lebih personal, serta terhubung dengan perangkat, layanan, dan sumber data lain untuk menjalankan perintah melalui percakapan alami.

Menurut Lawrence Wu, peluncuran itu turut relevan bagi Indonesia yang menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan pesat untuk teknologi sejenis.

Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Vietnam, dan Filipina, mencatat pertumbuhan dua digit dalam adopsi asisten suara berbasis Android yang semakin terjangkau.

Sementara itu, pasar smart home Indonesia diproyeksikan meningkat dari 1,81 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 8,12 miliar dolar AS pada 2030.

Baca juga: Deretan produk dan inovasi jenama China dalam IFA Berlin 2026

Mengenali lewat suara

Selama ini, banyak perangkat pintar di rumah tangga Indonesia hanya dapat merespons kata atau perintah tertentu tanpa benar-benar mengetahui siapa yang sedang berbicara.

Namun melalui teknologi smart speaker, Voiceprint dapat membedakan suara orang tua dan anak dalam satu rumah, kemudian menyesuaikan respons maupun akses yang diberikan kepada masing-masing pengguna.

Teknologi itu kian relevan ketika adopsi smart home di Indonesia banyak didorong oleh kebutuhan praktis sehari-hari, mulai dari otomatisasi pencahayaan hingga kamera keamanan, bukan sekadar penggunaan perangkat canggih.

Sementara itu, Voice Cloning memungkinkan pengembang menciptakan suara yang unik atau mereplikasi suara tertentu untuk digunakan oleh agen AI.

Dengan demikian, robot pendamping maupun asisten virtual dapat memiliki karakter suara yang lebih khas dan mudah dikenali, alih-alih menggunakan suara generik yang terdengar serupa di berbagai perangkat.

Untuk pasar Indonesia, di mana unsur keakraban dan sentuhan personal cukup penting dalam pengalaman konsumen, kemampuan itu berpotensi membuat interaksi dengan perangkat terasa lebih dekat dan tidak sekadar transaksional.

Sementara itu, Model Context Protocol (MCP) memungkinkan agen AI terhubung dengan berbagai perangkat, layanan, dan sumber data eksternal secara real-time.

Dalam penggunaan sehari-hari, seseorang dapat meminta asisten di dalam mobil untuk mencari rute tercepat sekaligus menghindari kemacetan.

Asisten tersebut kemudian dapat mengakses layanan navigasi maupun hiburan yang relevan secara langsung, tanpa pengguna harus berpindah-pindah aplikasi. Kondisi ini cukup dekat dengan keseharian pengguna jalan di daerah urban seperti di Jakarta.

Physical AI merupakan perubahan besar berikutnya dalam cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Seiring conversational AI bergerak dari layar ke berbagai perangkat di sekitar kita, perusahaan yang akan menonjol adalah mereka yang mampu menghadirkan interaksi yang terasa alami, personal, dan benar-benar bermanfaat,” ujar Wu.

“Bagi brand perangkat keras, hal ini membuka peluang untuk mengubah perangkat sehari-hari menjadi pengalaman yang berbeda, mampu membangun engagement yang lebih kuat, dan memberikan nilai lebih dalam jangka panjang," tambah dia.

Baca juga: Potret pembukaan ajang IFA Berlin 2026

Perkembangan juga terlihat dari berbagai produk dan teknologi yang ditampilkan Agora selama IFA 2026, mulai dari robotika, perangkat pendamping berbasis AI, perangkat keras untuk pengembang, hingga wearable.

Sejumlah mitra teknologi dan perangkat keras, termasuk Seeed Studio, Sentino, Espressif, Speedtech, Quectel, dan IntelPro, menyediakan perangkat keras, chipset, konektivitas, serta teknologi pengembangan untuk memperluas kemungkinan bagi para pengembang dalam menghadirkan pengalaman percakapan berbasis Agora di berbagai jenis perangkat.

Pelanggan Agora, termasuk Sweekar, Kata Friends, dan Roboson, juga akan menampilkan berbagai produk fisik yang memanfaatkan conversational AI untuk menciptakan interaksi dengan pengguna yang lebih alami dan personal.

“Menciptakan AI companion, seperti Sweekar membutuhkan pengalaman percakapan yang terasa sealami dan semenarik produk fisiknya,” ujar Irving Gao, Founder dan CEO Takway AI, perusahaan di balik Sweekar.

“Agora memberikan fondasi percakapan yang kuat tanpa mengharuskan tim kami membangun infrastrukturnya dari nol," ucap dia.

Selain itu, Agora telah menjadi bagian dari ekosistem teknologi di Indonesia.

Infrastruktur Agora telah mendukung layanan interactive live streaming milik everywhere.id (sebelumnya GoPlay) untuk menghadirkan interaksi audiens secara real-time bagi para kreator konten dan mitra venue di berbagai wilayah Indonesia.

Baca juga: IFA 2026 resmi dibuka di Berlin, robotika dan AI jadi sorotan utama

Baca juga: CHiQ Tampil di IFA 2026: Dari Ekspansi Global Menuju Jangkauan yang Kian Kuat di Pasar Lokal

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Rr. Cornea Khairany
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.