Ustadz Luthfi nyatakan “ma’rifat” anugerah paling besar - ANTARA News Kalimantan Selatan

2026/07/25

Banjarmasin (ANTARA) - Ustadz Haji Luthfi Syarkawi Thayib dalam tausyiah di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), bahwa "ma'rifatullah" (pengenalan pada Allah) anugrah paling besar dari Nya. 

"Ketika seseorang sudah ma'rifatullah tak peduli lagi dengan urusan orang lain seperti apakah orang tersebut memuji atau mencaci-maki dia," ujar Ustadz Luthfi dalam tausyiahnya di hadapan jamaah Masjid Assa'adah tersebut sesudah Shalat Subuh, Sabtu. 

Ustadz Luthfi dalam kajian rutin "Kalam Hikmah" Ibnu Athaillah Askandari, seorang ahli sufi dunia Islam asal Mesir sekitar abad XII yang juga banyak kaum Muslim di Indonesia mempelajari ulang.

Baca juga: Ustadz Luthfi ingatkan jaga hati agar tetap bersih

Terkait ma'rifatullah, ustadz muda keluaran Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Martapura (40 km dari Banjarmasin), ibukota Kabupaten Banjar itu menceritakan masa pemerintahan Sultan Turki Mehmed II (Muhammad al-Fatih) yang berusia lebih kurang 20 tahun sekitar abad XIV. 

Diceritakan, pada suatu malam Sultan muda tersebut tidak bisa tertidur, kemudian dengan menyamar keluar rumah blusukan disertai beberapa pengawal. Dalam perjalanan bertemu mayat laki-laki tergeletak di jalan tanpa seorang pun menghiraukan, padahal ada orang.

Baca juga: Ustadz Luthfi ingatkan jaga hati agar tetap bersih

Sultan muda itupun bertanya kepada warga; kenapa mayat tersebut dibiarkan tanpa diurus untuk dikuburkan

Warga ; karena orang ini kami lihat sering ke tempat pelacuran serta penjual minuman keras. 

Sultan ; dimana rumah mayat ini! 

Sesudah Sultan muda itu mengetahui alamat, langsung mengantar dan ketika sampai sekarang perempuan (istrinya) keluar rumah berkata : "innalillahi wa inna ilaihi rajiun waliullah".

Sultan pun menceritakan keadaannya dan bertanya terkait ucapan waliullah. 

Selain itu,  laki-laki tersebut ke tempat pelaburan, semua pelacur dia boking - dia bayar - dia suruh tutup/kunci pintu. Sesudah kembali ke rumahnya dia berucap; alhamdulillah aku dapat menyelamatkan orang dari berbuat melacur. 

Perempuan; kalau orang mengira perbuatanmu tidak baik, dan kamu meninggal dunia tak seorangpun menghiraukan karena mereka marah. 

Laki-laki ; biar mereka tak hiraukan aku. Tapi, aku nanti Sultan yang mengurusi kematian ku. 

Mendengar penuturan sang istri laki-laki tersebut, dalam hati berkata; pantasen dia bilang waliyullah. Sultan yang menyamar itu langsung bilang; aku inilah Sultan. 

Sultan pun menyusuh pengawal mengumumkan pelaksanaan jenazah dengan melibatkan sejumlah ulama/wali Allah memandikan serta menshalatkan. 

Ustadz H Luthfi Syarkawi Thayib saat tausyiah di Masjid Assa'adah Komplek Beruntung Jaya Banjarmasin sesudah. Shalat Subuh, Sabtu (25/7/2036). (ANTARA/Syamsuddin Hasan)

Sebelum mengakhiri tausyiah, Ustadz Luthfi juga menceritakan tentang Habib Tempel atau Habib Ahmad bin Ali Bafaqih di daerah Tempel, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. 

"Beberapa pelajaran yang bisa kita petik antara lain jangan cuma melahat zahir seseorang, serta pedulilah terhadap orang lain," demikian Ustadz H Luthfi Syarkawi Thayib. 

Pewarta: Syamsuddin Hasan
Editor : Sukarli

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.