Urgensi transformasi para dai dan bagaimana memulainya

2026/09/17

Urgensi transformasi para dai dan bagaimana memulainya

Kamis, 17 September 2026 09:03 WIB

Image Print

Para narasumber Diklat Dai Gen Z 2026 bertema Mencetak Da'i Muda Inspiratif, Moderat, dan Adaptif di Era Digital yang digelar di kampus Universitas Islam Malang (Unisma), Sabtu (25/7/2026) (ANTARA/HO/LDNU Jatim)

Jakarta (ANTARA) - Setelah berinteraksi dengan 5.000 pengasuh pesantren melalui kegiatan workshop pesantren transformatif, penulis berkesimpulan bahwa para dai pun perlu melakukan transformasi.

Kesimpulan itu diperkuat juga ketika penulis mulai berinteraksi dengan 2.000 pengasuh pesantren rintisan yang workshop-nya juga sedang berjalan untuk menggarap 10.000 pengasuh pesantren di Indonesia yang terseleksi.

Informasi lain,setelah pekan lalu penulis menyampaikan keynote speech di workshop untuk para ibu nyai dan para ning (putri kiai) mengenai edukasi seks dan kesehatan mental. Imam Jazuli Foundation menyeleksi 700 peserta untuk hadir di workshop tersebut. Panitia menargetkan 5.000 peserta di seluruh Indonesia.

Kembali ke soal para dai, kenapa mereka perlu bertransformasi juga? Tentu, karena mereka pun terkena serangan perubahan disruptif. Maka, Imam Jazuli Foundation mulai pekan lalu mengadakan "Workshop Nasional Dai Transformatif di Tengah Perubahan Disruptif".

Dan benar. Ketika dibuka pertama kali untuk para dai di Jawa Barat, hanya dalam 3 hari, pendaftarnya mencapai 1.500 orang. Setelah diseleksi menjadi 700 orang, workshop perdana pun dimulai.

Untuk memperkaya gagasan utama yang penulis sampaikan dalam keynote speech, sejumlah tokoh pun turut menyampaikan perspektifnya, antara lain KH Anwar Iskandar dari MUI Pusat, Gus Ipang, pakar branding nasional, Ustaz Yusuf Mansur, dan Ari Untung.

Selanjutnya, ditargetkan 5.000 dai nasional diundang di workshop dai transformatif ini. Tentunya, mensyaratkan peserta lolos seleksi lebih dulu secara portofolio dan kompetensi.

Penulis mengamati dunia dakwah memang sedang berubah. Tetapi yang berubah bukan hanya medianya. Masyarakatnya berubah. Harapannya berubah. Cara mereka mencari pengetahuan berubah. Bahkan, cara mereka menentukan siapa yang layak didengarkan pun berubah.

Banyak dai senior memiliki kedalaman ilmu, pengalaman panjang, dan otoritas keagamaan yang tidak perlu diragukan. Tetapi sebagian dari mereka mulai kehilangan audiens. Bukan selalu karena ilmunya tidak lagi dibutuhkan, melainkan karena cara menyampaikannya tidak lagi berjumpa dengan cara masyarakat hari ini menerima pesan.

Pada saat yang sama, bermunculan dai-dai baru yang lebih lincah memasuki ruang digital, lebih memahami bahasa generasi muda, lebih piawai mengemas pesan, dan lebih cepat membangun perhatian publik. Masalahnya, kemampuan menarik perhatian tidak selalu berjalan seiring dengan kompetensi keilmuan.

Akibatnya, terjadi paradoks yang lebih serius, lapak dakwah semakin ramai, tetapi tidak semuanya diisi oleh orang yang memiliki kapasitas dakwah yang memadai.

Kontekstual-aktual

Jika ditelaah lebih dalam, perintah dakwah dalam al-Quran selalu menggunakan kata kerja amar (perintah) dan mudlorik. Ini artinya, dakwah harus kontekstual dan aktual sesuai dengan kondisi masyarakat hari ini.

Wali Sanga memberikan contoh yang sangat berhasil. Andaikan para wali masih hidup di era sekarang, mungkin bukan wayang yang digunakan sebagai media sosialisasi, tetapi film, video, atau fasilitas media sosial yang lain pun menjadi instrumen. Sejarah mencatat, dakwah Wali Sanga memenangkan pertarungan pengaruh di masyarakat.

Perubahan tidak pernah membunuh manusia. Penolakan, keterlambatan, dan ketidaktepatan dalam merespons perubahan itulah yang kerap membunuh langkah manusia.

Dengan kemajuan teknologi yang super luar biasa hari ini, maka setiap orang menjadi pemilik kantor redaksi sendiri. Peluangnya bagi dai adalah bisa diakses secara global, biaya sangat murah, bisa menyebarkan konten kapan saja, bisa berkomunikasi dengan masyarakat (mad’u) kapan saja dan dimana saja, serta cepat dan mudah mengakses sumber materi bagi dai. Tidak usah buka kitab mustholah hadits untuk mengecek hadits hari ini.

Pada saat yang sama, kegiatan dakwah menghadapi tantangan yang tidak ringan. Sejumlah tantangan, antara lain informasi palsu dan informasi sungguhan semakin sulit dibedakan. Hoaks bertebaran dimana-mana. Masyarakat menjadi terkena problem psikologis yang disebut beban informasi.

Munculnya fenomena ustaz instan karena bisa belajar dari internet, seperti Youtube dan lain-lain juga tantangan tersendiri. Bahkan, dalam banyak kasus, ustaz instan lebih banyak diminati. Padahal, pembelajaran agama membutuhkan ilmu yang utuh, bukan opini yang sepotong-sepotong.

Tantangan lainnya adalah polarisasi dan ketersediaan ruang gema, sehingga masyarakat menjadi terbelah, mudah berkelompok sesuai aliran atau pandangan hidup yang sama. Di zaman ketika informasi dan pengetahuan berlimpah, justru membuat sebagian manusia mudah menghakimi satu sama lain, sehingga perpecahan tak bisa dihindari.


Formula 3M

Maka, ke depan dibutuhkan kesiapan dan keberanian dari para dai untuk melakukan pergeseran cara berpikir dan keahlian untuk merespons perubahan masyarakat dengan cepat dan tepat, sehingga menjadi dai transformatif.

Apa yang perlu dilakukan transformasi (perubahan total di hal-hal yang fundamental). Untuk memudahkan, bisa disebut dengan Formula 3M (metode, materi, dan media).

Pertama, transformasi metode. Karena masyarakat sudah terbekali dengan pengetahuan dan informasi yang lebih banyak, maka metode konvensional perlu ditinggalkan dan diganti dengan metode transformatif mencakup dialogis dan partisipatif, bukan satu arah, berbasis pemberdayaan atau menjadi bagian dari penyelesaian problem, dan kontekstual atau sesuai kebutuhan zaman.

Kedua, transformasi materi. Materi dakwah tidak terbatas pada fikih ibadah mahdhah atau masalah akhirat semata, tetapi menyentuh realitas hidup sehari-hari. Mencakup isu-isu kritis dan kontemporer, seperti keadilan sosial, pengentasan atau kemiskinan; inklusif dan moderat dimana Islam menjadi rahmatan lil 'alamin; serta solutif dan aplikatif, sehingga berdampak pada masalah yang nyata.

Ketiga, transformasi media. Media dakwah semakin beragam, tidak bisa menggunakan hanya satu media, seperti multimedia dan digital, media kelembagaan dan komunitas atau media kesenian dan budaya.

Berbicara mengenai perubahan, hari ini semua orang mendapatkan kemudahan berlimpah untuk mengakses sumber pengetahuan, informasi, hiburan, termasuk materi dakwah, kapan pun, dimana pun, sejauh mereka terhubung dengan internet.

Oleh karena itu, para ahli menyarankan para profesional untuk menguasai keahlian kurasi. Keahlian kurasi bagi seorang dai transformatif adalah kemampuan untuk menjaring, menganalisis, dan mengorganisasi gempuran informasi, literatur agama, serta fenomena sosial, lalu merangkumnya menjadi bobot ilmu yang jernih dan relevan. Layaknya seorang kurator lukisan.

Perubahan yang disruptif tidak sedang menunggu kesiapan para dai. Melainkan terus bergerak. Pertanyaannya bukan lagi apakah dai akan berubah, tetapi apakah dai akan ikut membentuk perubahan atau justru dibentuk oleh perubahan? Wallahu a’lam bishowab.


*) KH Imam Jazuli, Lc MA adalah Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon

Pewarta : KH Imam Jazuli, Lc MA *)
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026