Cara Erdogan mengubah Turki dalam satu dekade - BBC News Indonesia

2026/07/19

Upaya kudeta yang mengubah negara – Cara Erdogan mengubah Turki dalam satu dekade

Pendukung Presiden Recep Tayyip Erdogan mengibarkan bendera Turki saat mereka merebut sebuah tank militer setelah para tentara yang terlibat dalam upaya kudeta menyerah di Jembatan Bosphorus, Istanbul.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Upaya kudeta pada 2016 hanya berlangsung beberapa jam, tetapi konsekuensinya telah mengubah politik Turki selama satu dekade terakhir.

Tembakan di jalanan, tank melaju, pesawat jet tempur melintas rendah di atas gedung-gedung pemerintah, parlemen diserang—semuanya disiarkan secara langsung di televisi.

Bagi negara yang telah mengalami tiga kudeta dan dua intervensi militer lainnya, peristiwa pada 15 Juli 2016 merupakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Belum pernah parlemen Turki diserang dan belum pernah Jembatan Bosphorus di Istanbul—yang kini secara resmi disebut Jembatan Martir 15 Juli—menyaksikan pertumpahan darah seperti itu ketika warga sipil merespons seruan Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk melawan para pelaku kudeta.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara di CNNTurk melalui panggilan FaceTime pada 16 Juli 2016 dini hari di Istanbul, Turki.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kemunculan langsung Presiden Erdogan melalui telepon seluler dari lokasi yang tidak diketahui menjadi salah satu yang paling menentukan saat upaya kudeta berlangsung.

Berbicara secara langsung kepada seorang presenter televisi melalui sebuah aplikasi telepon seluler dari lokasi yang tidak diketahui, Erdogan mendesak para pendukungnya untuk turun ke jalan malam itu.

Masjid-masjid di seluruh Turki memperkuat pesannya melalui pengeras suara.

Pada pagi harinya, upaya kudeta tersebut telah dikalahkan.

Sebanyak 253 orang meninggal dunia, termasuk 184 warga sipil. Di sisi lain, sebanyak 34 tersangka pelaku kudeta meninggal dunia.

Seorang pria melihat kerusakan di dalam parlemen Turki setelah gedung itu diserang helikopter pada 15 Juli 2016. Sebuah lubang besar terlihat di dinding, dengan jendela pecah, serpihan kaca, dan puing-puing berserakan di seluruh bangunan.

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Parlemen Turki belum pernah menjadi sasaran serangan langsung.

Upaya kudeta itu hanya berlangsung beberapa jam, tetapi konsekuensinya telah mengubah politik Turki selama satu dekade terakhir sekaligus mengubah keseimbangan kekuasaan di dalam negeri dan mendefinisikan ulang hubungan negara itu di luar negeri.

Pembersihan besar-besaran

Pemerintah Turki menyalahkan jaringan ulama Islam yang berbasis di Amerika Serikat, Fethullah Gulen, sebagai dalang upaya kudeta tersebut.

Gulen membantah keterlibatan apa pun sampai akhir hayatnya pada 2024.

Keadaan darurat diberlakukan beberapa hari setelah komplotan kudeta terungkap, dan tetap berlaku hingga 2018 setelah diperpanjang tujuh kali.

Baca juga:

Selama periode tersebut, pihak berwenang melakukan salah satu pembersihan terbesar dalam sejarah modern Turki.

Pemerintah mengatakan langkah-langkah itu diperlukan untuk membongkar jaringan Gulen.

Seorang pengunjuk rasa Turki (kiri) memegang spanduk bergambar Recep Tayyip Erdogan (tengah) dan Fethullah Gulen (kanan) selama demonstrasi menentang pemerintah pada 30 Desember 2013 di Istanbul.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Presiden Erdogan dan ulama Islam, Fethullah Gulen, merupakan sekutu dekat selama puluhan tahun. Tapi keduanya kemudian menjadi rival sengit.

Gerakan keagamaan Gulen dulu merupakan sekutu dekat Presiden Erdogan. Gerakan itu telah menduduki posisi-posisi berpengaruh di berbagai lembaga negara dan birokrasi Turki selama puluhan tahun.

Setelah upaya kudeta, puluhan ribu tentara—termasuk perwira militer senior dan jenderal—hakim, jaksa, polisi, akademisi, dan pegawai negeri ditangkap, diberhentikan, atau diskors dari jabatan mereka.

Ratusan sekolah swasta dan lembaga pendidikan yang diduga berafiliasi dengan jaringan Gulen ditutup, bersama sejumlah universitas.

Baca juga:

Para kritikus berpendapat bahwa tindakan keras tersebut tidak cuma menargetkan tersangka pelaku kudeta dan pendukung gerakan Gulen, tapi juga menargetkan kelompok penentang Erdogan secara luas.

Tokoh oposisi mengklaim bahwa setelah pembersihan itu, komunitas keagamaan lain memperoleh pengaruh di lembaga-lembaga negara.

Pejabat pemerintah menolak tuduhan tersebut.

Konsolidasi kekuasaan Erdogan

Konsekuensi politik paling signifikan dari upaya kudeta adalah konsolidasi kekuasaan Presiden Erdogan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato di Jembatan Martir 15 Juli dalam acara Hari Demokrasi dan Persatuan Nasional 15 Juli untuk memperingati dua tahun gagalnya kudeta 15 Juli di Istanbul, Turki, pada 15 Juli 2018.

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Para kritikus berpendapat bahwa perubahan yang diterapkan setelah upaya kudeta memusatkan terlalu banyak kekuasaan pada satu individu.

Pada 2017, para pemilih dengan selisih tipis menyetujui perubahan konstitusi yang menggantikan sistem parlementer dengan sistem presidensial yang kuat.

Perubahan itu mulai berlaku pada tahun berikutnya, ketika jabatan perdana menteri dihapus dan kewenangan presiden diperluas.

Para pendukung mengatakan sistem baru itu memberikan stabilitas politik, pengambilan keputusan yang lebih cepat, dan tata kelola yang lebih efektif.

Namun para kritikus berpendapat bahwa sistem tersebut memusatkan terlalu banyak kekuasaan di tangan presiden dan khususnya pada satu individu.

Lembaga kajian Freedom House yang berbasis di AS berpendapat bahwa kemampuan anggota parlemen untuk membentuk kebijakan telah melemah secara signifikan di bawah sistem presidensial.

"[Erdogan] sering campur tangan terhadap kementerian dan badan publik independen yang tidak mengikuti keinginannya," kata organisasi itu dalam laporan Turki terbarunya.

Profesor Madya Dogan Cetinkaya dari Universitas Istanbul sependapat dengan penilaian tersebut.

Menurutnya, sistem presidensial ditandai oleh "kesewenang-wenangan dan struktur kelembagaan yang ambigu".

Kekhawatiran terhadap otoritarianisme

Pemerintah Turki telah menghadapi kritik terkait hak asasi manusia dan kebebasan sipil selama bertahun-tahun.

Namun, kekhawatiran meningkat setelah upaya kudeta dan pembersihan yang menyusul.

Presiden Recep Tayyip Erdogan menaiki tangga Mausoleum Atatürk di Ankara dalam upacara Hari Kemenangan pada 30 Agustus 2016, didampingi para pejabat pemerintah sementara para tentara membawa karangan bunga berbentuk bendera Turki.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, "Turki menjadi makin otoriter selama satu dekade terakhir," demikian argumen Freedom House.

Ketika ribuan hakim dan jaksa dicopot dari jabatan mereka karena dituduh memiliki hubungan dengan gerakan Gulen, organisasi hak asasi manusia dan lembaga-lembaga Eropa menyuarakan kekhawatiran mengenai independensi peradilan.

"Setelah 15 Juli, lembaga-lembaga dalam sistem politik dan administratif Turki dibongkar dan kehilangan otonominya," kata Prof Cetinkaya.

"Peradilan dan legislatif berhenti berfungsi sebagai pusat kekuasaan yang bermakna."

Polisi antihuru-hara Turki menggunakan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa selama aksi dukungan bagi wali kota Istanbul yang ditangkap pada Maret 2025.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Intervensi polisi yang berat terhadap demonstrasi dan pertemuan publik telah lama dikritik oleh kelompok hak asasi manusia.

Sejak saat itu, demonstrasi menjadi semakin sulit diselenggarakan. Pihak berwenang menanggapinya dengan memberlakukan pembatasan terhadap pertemuan dan mengerahkan langkah-langkah keamanan yang ketat.

Kebebasan pers juga memburuk di tengah meningkatnya pengaruh pemerintah terhadap kepemilikan media dan penuntutan terhadap jurnalis-jurnalis terkemuka.

Turki saat ini berada di peringkat ke-163 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2026 yang diterbitkan Reporters Without Borders.

Kebebasan berekspresi tetap menjadi pokok perdebatan.

Baru-baru ini, seorang komedian stand-up populer ditangkap karena menghina presiden—menambah daftar panjang jurnalis, politisi, dan tokoh publik yang menghadapi penyelidikan.

"Turki menjadi semakin otoriter selama satu dekade terakhir, mengonsolidasikan kekuasaan melalui perubahan konstitusi dan pemenjaraan lawan politik, jurnalis independen, dan anggota masyarakat sipil," demikian argumen Freedom House.

Wali Kota Istanbul Ekrem İmamoğlu berbicara dalam sebuah acara publik pada Mei 2023, mengangkat kepalan tangan saat berpidato di hadapan massa.

Sumber gambar, dia images via Getty Images

Keterangan gambar, Jaksa menuntut hukuman penjara lebih dari 2.400 tahun bagi Ekrem Imamoglu.

Pada Maret 2025, Wali Kota Istanbul, Ekrem Imamoglu—yang dianggap sebagai calon penantang paling kuat bagi Erdogan dalam pemilihan presiden mendatang—ditangkap bersama puluhan pejabat kota atas tuduhan terkait korupsi. Tuduhan tersebut mereka bantah.

Persidangannya masih berlangsung.

Pada Mei 2026, sebuah perintah pengadilan secara efektif mengintervensi partainya—partai oposisi CHP— dan mengganti pemimpinnya dengan seorang pendahulu yang digambarkan kubu oposisi sebagai "kudeta yudisial".

Namun, pemerintah Turki menolak tuduhan kemunduran demokrasi.

Baca juga:

Pemerintah Turki berpendapat bahwa perubahan yang diterapkan pasca-upaya kudeta serta pembersihan para pejabat justru memperkuat stabilitas politik, keamanan nasional, dan institusi demokrasi. Pemerintah Turki menilai pembersihan tersebut bertujuan menyingkirkan individu-individu terkait dengan organisasi yang dianggap sebagai ancaman bagi negara.

"Saya melihat sistem saat ini sebagai respons yang dikembangkan negara untuk mengatasi ancaman eksistensial yang terungkap oleh upaya kudeta," kata Nuri Salik, profesor madya di Universitas Yıldırım Beyazıt.

"Alih-alih melihatnya semata-mata sebagai langkah menuju otoritarianisme, saya melihatnya sebagai perpanjangan dari naluri negara untuk mempertahankan diri."

Berkurangnya peran militer

Selama beberapa dekade, militer Turki memandang dirinya sebagai penjaga republik sekuler yang didirikan oleh Mustafa Kemal Atatürk.

Karena itu, militer Turki berulang kali melakukan intervensi dalam gejolak politik.

Baca juga:

Setelah upaya kudeta 2016, serangkaian reformasi struktural menempatkan militer sepenuhnya di bawah kendali sipil.

Pakaian dan senjata milik tentara yang terlibat dalam upaya kudeta dan telah menyerah tergeletak ditinggalkan di tanah di Jembatan Bosphorus, Istanbul, pada 16 Juli 2016.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Banyak analis meyakini perubahan yang diterapkan dalam satu dekade terakhir secara efektif mengakhiri era intervensi militer dalam politik Turki.

Struktur rekrutmen dan komando baru diberlakukan. Akademi serta rumah sakit militer direorganisasi atau ditutup. Kemudian unit-unit militer mulai dipindahkan menjauh dari pusat kota.

Banyak analis percaya bahwa perubahan ini secara efektif mengakhiri era intervensi militer dalam politik Turki.

"Militer selalu ada sebagai mekanisme pengawasan terhadap politik," kata Prof Salik.

"Dalam sejarah modern Turki, [pada 15 Juli] rakyat untuk pertama kalinya secara aktif melawan intervensi militer. Dalam pengertian itu, peristiwa tersebut menandai titik balik yang penting."

Ia percaya militer kini telah "sepenuhnya kehilangan" kemampuan untuk membentuk politik Turki.

"Inilah perubahan yang paling signifikan," katanya.

Kebijakan yang berfokus pada keamanan

Kebijakan luar negeri Turki juga mengalami perubahan penting setelah upaya kudeta.

Dalam bulan-bulan dan tahun-tahun berikutnya, Ankara meluncurkan tiga operasi militer lintas batas besar di Suriah utara, yang menargetkan kelompok Negara Islam dan Unit Perlindungan Rakyat (YPG).

Artileri Turki menembaki posisi Unit Perlindungan Rakyat (YPG) di dekat perbatasan Suriah pada 21 Januari 2018 di dekat Hassa, Provinsi Hatay, Turki, ketika pasukan darat Turki memasuki Suriah untuk mendorong ofensif terhadap milisi Kurdi sementara tembakan roket menghantam sebuah kota perbatasan sebagai balasan yang diduga terkait.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Ankara terus melanjutkan operasi militer terhadap pasukan YPG di Suriah utara, sambil mengupayakan proses perdamaian dengan PKK.

Turki menganggap YPG berafiliasi dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Upaya untuk menghidupkan kembali proses perdamaian dengan PKK muncul dalam beberapa tahun terakhir, meskipun kemajuannya masih tidak pasti.

Prof Salik berpendapat bahwa upaya kudeta memperkuat pendekatan yang berfokus pada keamanan dalam negara Turki.

"Perlindungan negara menjadi prioritas utama," katanya.

Presiden AS Donald Trump (kanan) berjalan bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) di Istana Kepresidenan Beştepe pada KTT NATO, 7 Juli 2026 di Ankara, Turki.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Presiden AS Donald Trump (kanan) berjalan bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) di Istana Kepresidenan Beştepe pada KTT NATO, 7 Juli 2026 di Ankara, Turki.

Turki juga menjalankan kebijakan luar negeri yang lebih beragam, memperkuat hubungan dengan Rusia meskipun tetap menjadi anggota penting NATO.

Pembelian sistem pertahanan udara S-400 Rusia memicu keretakan besar dengan Washington, yang menyebabkan sanksi AS dan dikeluarkannya Turki dari program jet tempur F-35.

Namun, pekan lalu Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia akan mencabut sanksi tersebut dan mengisyaratkan kesediaan untuk meninjau kembali isu penjualan F-35, meskipun langkah seperti itu kemungkinan akan menghadapi penolakan besar di Kongres AS.

Sementara itu, upaya Turki yang telah lama mandek untuk bergabung dengan Uni Eropa hanya menunjukkan sedikit kemajuan.