Tuntun Sekuritas Kembangkan AI, Investor Diingatkan Tetap Utamakan Analisis |Republika Online

2026/08/05

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) mulai mengubah cara investor mengakses informasi dan mengambil keputusan di pasar modal. Seiring perubahan tersebut, pelaku industri sekuritas memperkuat pemanfaatan teknologi dan riset untuk mendukung literasi investasi yang lebih baik.

Direktur Tuntun Sekuritas Indonesia Ricki Juliandi mengatakan, perubahan perilaku investor mendorong kebutuhan terhadap akses informasi yang lebih cepat serta analisis yang lebih komprehensif. Menurut dia, teknologi berperan sebagai alat bantu untuk memahami dinamika pasar, bukan menggantikan pertimbangan investor.

“Cara investor mengambil keputusan kini telah bergeser. Investor membutuhkan akses terhadap informasi yang lebih cepat, insight yang lebih relevan, serta dukungan teknologi yang dapat membantu mereka memahami pasar dengan lebih baik. Melalui Tuntun Investment Talk, kami ingin memperkuat edukasi mengenai bagaimana teknologi, riset, dan AI dapat digunakan secara bijak untuk mendukung proses pengambilan keputusan investasi,” kata Ricki dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8/2026).

Dalam kegiatan Tuntun Investment Talk bertema Modern Trading & Investing di Era AI yang digelar di Bursa Efek Indonesia, perusahaan memaparkan pengembangan sejumlah fitur berbasis AI dan riset, seperti Tuntun AI, AI Broker Summary, Tuntun Research, Market Radar, hingga Concept Sector.

Salah satu fitur yang diperkenalkan adalah Tuntun AI yang diluncurkan pada April 2026. Berdasarkan data internal perusahaan, fitur tersebut telah digunakan untuk menjawab lebih dari 50 ribu pertanyaan pengguna dan menghasilkan lebih dari 1,2 juta analisis. Perusahaan juga mengklaim teknologi tersebut membantu pengguna memahami data pasar hingga 70 persen lebih cepat.

Meski demikian, Ricki menegaskan, keputusan investasi tetap harus didasarkan pada pemahaman investor terhadap kondisi pasar, profil risiko, dan tujuan investasinya.

“AI bukan pengganti judgment investor. Teknologi hadir untuk membantu investor membaca informasi dengan lebih efisien, memahami konteks pasar dengan lebih luas, dan mengambil keputusan secara lebih terarah. Pada akhirnya, keputusan investasi tetap harus didasarkan pada pemahaman, profil risiko, dan tujuan masing-masing investor,” ujar Ricki.

Selain teknologi, perusahaan juga menyoroti pentingnya riset dalam mendukung pengambilan keputusan investasi. Saat ini, layanan riset perusahaan mencakup lebih dari 600 emiten dan diperbarui secara berkala melalui laporan analisis jangka pendek untuk mengikuti dinamika pasar.

Ricki mengatakan, prospek ekonomi Indonesia yang dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan menjadi salah satu faktor yang mendorong penguatan layanan teknologi dan riset bagi investor.

“Kami optimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan. Dengan dukungan teknologi, riset yang semakin komprehensif, serta literasi investasi yang terus meningkat, kami percaya investor dapat memiliki fondasi yang lebih baik dalam memahami peluang dan risiko di pasar modal,” kata Ricki.

Ia menambahkan, literasi investasi di era digital tidak lagi hanya berkaitan dengan kemampuan melakukan transaksi, tetapi juga memahami informasi, mengelola risiko, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.