Liputan6.com, Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengunggah sebuah peta di platform Truth Social yang menampilkan Selat Hormuz sebagai "wilayah baru AS". Unggahan tersebut kembali menegaskan ancaman Trump untuk mengklaim kedaulatan atas jalur perairan strategis itu.
Dikutip dari Channel News Asia, Selasa (18/8/2026), Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi lintasan bagi distribusi sekitar seperlima minyak dunia. Penutupan itu dilakukan sebagai bentuk balasan atas perang yang dimulai Trump bersama Israel pada akhir Februari.
Trump pertama kali mengemukakan gagasan untuk mengambil alih Selat Hormuz pada Jumat. Dengan nada yang terdengar santai, ia mengatakan akan segera menyatakan selat tersebut sebagai wilayah AS. Pernyataan itu kemudian mendapat tanggapan dari Iran yang menegaskan bahwa Selat Hormuz "akan tetap menjadi milik Iran".
Trump kembali mengangkat gagasan tersebut pada Senin dalam pernyataannya kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih. Ia bahkan menyebut pengambilalihan Selat Hormuz sebagai sebuah ide yang baik.
Ancaman untuk mencaplok wilayah asing bukan kali pertama dilontarkan Trump ketika menghadapi hambatan dalam kebijakan luar negerinya.
Sejak kembali berkuasa pada 2025, Trump telah mengancam menjadikan Kanada sebagai negara bagian AS ke-51 dan mengambil alih Greenland. Ia juga pernah menyinggung kemungkinan mengambil kendali atas Jalur Gaza. Namun, hingga kini, tidak satu pun dari ancaman tersebut benar-benar diwujudkan.
Sebelum perang Iran pecah pada 28 Februari, Selat Hormuz merupakan jalur perairan internasional yang terbuka.
Iran menyatakan tidak akan membuka kembali selat tersebut sebelum Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan. Di antaranya adalah mengakhiri blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, mencabut sanksi minyak, membebaskan aset Iran yang dibekukan, serta membayar ganti rugi atas kerusakan akibat perang.