Tradisi sebagai kompas menjawab zaman - ANTARA News Jawa Timur

2026/08/23

Surabaya (ANTARA) - Ada kegelisahan yang diam-diam mengiringi setiap perubahan zaman, yakni ketika dunia bergerak semakin cepat, apa yang harus kita pertahankan dan apa yang mesti kita ubah?

Pertanyaan itu menjadi penting ketika teknologi berkembang melampaui kemampuan manusia untuk mengantisipasinya, ketika media sosial mengubah cara orang berkomunikasi, ketika kecerdasan buatan mulai memasuki hampir semua bidang kehidupan, dan ketika krisis lingkungan memperlihatkan bahwa kemajuan material tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan peradaban.

Di tengah situasi semacam itu, buku "Merawat Warisan, Menjawab Zaman" karya KH Abdul Hakim Mahfudz menawarkan satu jawaban yang menarik: perubahan tidak harus dipertentangkan dengan tradisi.

Buku yang diterbitkan Pustaka Tebuireng pada Agustus 2026 ini merupakan kumpulan kolom KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin yang sebelumnya tersebar dalam rubrik "Serambi Pengasuh" Majalah Tebuireng.

Karena berasal dari tulisan berkala, buku ini memiliki karakter yang berbeda dari karya akademik yang dibangun dengan satu tesis tunggal. Namun, justru dari keberagaman tema itulah tampak benang merah pemikiran penulis.

Benang merah itu sederhana tetapi penting bahwa merawat warisan ulama bukan berarti hidup dalam romantisme masa lalu. Warisan justru diperlakukan sebagai pijakan untuk membaca perubahan secara progresif.

Buku ini dibagi menjadi lima bagian. Bagian pertama membicarakan warisan masyayikh, sejarah dan jejak Tebuireng. Bagian kedua berfokus pada pesantren, pendidikan, adab, dan regenerasi.

Bagian ketiga mengajak pembaca menata diri melalui spiritualitas dan akhlak. Bagian keempat berbicara mengenai persatuan, toleransi dan kebangsaan. Sementara bagian kelima membawa pembaca langsung berhadapan dengan teknologi, media dan persoalan ekologi.

Susunan itu sebenarnya memperlihatkan cara berpikir Gus Kikin. Perubahan sosial tidak dimulai dari teknologi tapi dimulai dari manusia.

Karena itu, pembahasan tentang kecerdasan buatan (AI) dalam buku tersebut, media sosial atau lingkungan pada bagian akhir buku, sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Semuanya memiliki hubungan dengan pembahasan mengenai ilmu, adab, spiritualitas, dan pendidikan pada bagian-bagian sebelumnya. 

Di sinilah kekuatan buku ini. Ketika membicarakan pesantren, misalnya, Gus Kikin tidak menempatkannya sekadar sebagai lembaga yang bertugas mempertahankan tradisi. Pesantren justru diposisikan sebagai ruang kaderisasi yang harus berkembang tanpa kehilangan rohnya.

Tema adab, regenerasi ulama, kualitas guru, kepemimpinan dan pengembangan kitab kuning diletakkan dalam kerangka bagaimana pesantren tetap berakar, tetapi mampu menjawab perubahan zaman.

Pandangan tersebut terasa relevan ketika dunia pendidikan hari ini sering terjebak pada perlombaan menghasilkan manusia yang pintar, tetapi belum tentu berkarakter.

Dalam tulisan "Pintar Saja Tidak Cukup", Gus Kikin menegaskan bahwa santri tidak hanya dididik untuk mencari ilmu, tetapi juga membangun adab. Ilmu membuat seseorang pintar, sedangkan adab membuatnya mampu menjalankan peran di tengah masyarakat.

Gagasan itu kemudian diperluas dalam tulisan mengenai pendidikan adab. Kemajuan peradaban, menurut buku ini, tidak semestinya hanya diukur dari kecanggihan teknologi dan kemegahan infrastruktur. Ada dimensi nonmaterial, berupa kebudayaan, keadilan, kebahagiaan dan moralitas yang menentukan kualitas sebuah peradaban.

Dengan kata lain, pertanyaan terpenting bukan hanya "seberapa maju kita?", tetapi juga "menjadi manusia seperti apa kita setelah kemajuan itu?"

Salah satu gagasan yang paling konsisten dalam buku ini adalah hubungan antara ilmu dan adab. Dalam perspektif Gus Kikin, kualitas kehidupan keagamaan sangat bergantung pada kualitas ilmu.

Karena itu, pesantren tidak perlu selalu terpancing oleh setiap isu keagamaan yang muncul di ruang publik. Hal yang lebih penting adalah merawat akar fundamental, yaitu ilmu dan "ukhuwah". Keduanya menjadi modal membentuk adab sekaligus membangun peradaban.

Gagasan ini menarik karena berada di tengah situasi ketika ruang publik keagamaan semakin mudah terseret ke dalam perdebatan yang bersifat permukaan.

Di media sosial, sebuah perbedaan pendapat dapat berubah menjadi pertengkaran dalam hitungan menit. Sebuah potongan video dapat melahirkan penghakiman. Sebuah pernyataan dapat dipisahkan dari konteksnya dan kemudian menjadi bahan polarisasi.

Dalam situasi demikian, pendidikan adab menjadi jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan berbicara tentang agama.

Buku ini seakan mengingatkan bahwa pesantren mempunyai pekerjaan yang lebih besar daripada sekadar mempertahankan identitas. Pesantren harus memproduksi manusia yang mampu membawa ilmu ke dalam kehidupan sosial secara bertanggung jawab.

Dimensi lain yang menonjol adalah hubungan Islam, pesantren dan kebangsaan. Bagian pertama buku menghadirkan sejumlah tulisan tentang KH M Hasyim Asy’ari, Resolusi Jihad, NU dan Gus Dur. Sejarah tersebut tidak semata-mata digunakan untuk mengenang masa lalu. Penulis berusaha menarik pelajaran bagi kehidupan umat Islam, kehidupan berbangsa dan masa depan pesantren.

Di sini terlihat bagaimana sejarah diperlakukan sebagai sumber orientasi. Pembaca diajak melihat Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari bukan hanya sebagai ulama yang menguasai ilmu agama, melainkan sebagai tokoh yang membangun jejaring, mengembangkan pesantren, membentuk kader dan memikirkan masa depan bangsa.

Dalam pembacaan tentang dakwah Mbah Hasyim, misalnya, buku ini menekankan pentingnya pekerjaan membangun jamaah secara panjang, sehari-hari dan terus-menerus. Otoritas keagamaan tidak semata-mata lahir dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari kemampuan membangun komunitas.

Pemikiran tersebut memiliki relevansi yang luas. Di tengah masyarakat yang semakin terfragmentasi, membangun komunitas yang sehat mungkin lebih penting daripada sekadar memenangkan perdebatan.

Persatuan pun tidak dipahami sebagai keseragaman. Dalam pembahasan mengenai toleransi di Tebuireng, misalnya, kehidupan pesantren digambarkan sebagai ruang perjumpaan santri dari berbagai daerah, budaya dan latar belakang. Mereka belajar hidup bersama, saling memahami dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Pesan ini terasa sederhana, namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya penting bagi Indonesia.

Bagian paling aktual buku ini terdapat pada pembahasan mengenai teknologi, media sosial, dan kecerdasan buatan.

Gus Kikin tidak memilih sikap defensif terhadap teknologi. Dalam tulisan tentang dakwah digital, ia melihat internet sebagai ruang baru yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah. Pesantren, dengan otoritas keagamaannya, bahkan didorong untuk beradaptasi dan berkolaborasi agar mampu menjadi pemengaruh dakwah Islam.

Meskipun demikian, sikap terbuka itu tidak berarti menerima teknologi tanpa kritik. Dalam tulisan "Lebih Mendesak Mengatasi Ancaman AI atau Memanfaatkan AI?", Gus Kikin menggunakan konsep maslahat sebagai pijakan. Sesuatu yang baru dapat diterima sepanjang membawa kemaslahatan dan tidak menghilangkan nilai-nilai yang telah menjadi dasar kehidupan pesantren.

Ia mengingatkan bahwa perkembangan AI yang terlalu cepat perlu diantisipasi karena berpotensi menghadirkan persoalan baru apabila tidak diikuti regulasi dan pertimbangan etis.

Sikap ini memperlihatkan posisi yang cukup moderat, yaitu tidak gagap terhadap teknologi, tetapi juga tidak mabuk teknologi. Pada titik inilah judul buku menemukan maknanya. "Merawat warisan" bukan berarti menolak AI. "Menjawab zaman" juga bukan berarti membuang tradisi. Sesuatu yang hendak dirawat adalah nilai. Hal yang boleh berubah adalah cara.

Menariknya, gagasan tentang adab kemudian dibawa sampai pada persoalan lingkungan. Dalam bagian tentang kesalehan ekologis, Gus Kikin memperluas konsep hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia menjadi hubungan dengan alam. Bumi dipahami sebagai rumah bersama yang membutuhkan kesadaran dan perilaku kolektif untuk menjaganya. Pada bagian akhir, persoalan lingkungan, bahkan dibaca sebagai persoalan moral.

Kerusakan hutan, pencemaran sungai, eksploitasi sumber daya dan berbagai bentuk kerusakan ekologis tidak cukup dilihat sebagai persoalan teknologi atau regulasi. Di baliknya, terdapat persoalan cara manusia memperlakukan alam. Karena itu, pendidikan moral dan adab menjadi bagian dari solusi.

Gagasan ini memperluas makna adab. Adab bukan hanya hubungan murid dengan guru, anak dengan orang tua, atau sesama manusia. Adab juga menyangkut bagaimana manusia memperlakukan lingkungan.

Dengan perspektif seperti itu, pesantren tidak hanya berpotensi menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga dapat menjadi laboratorium etika sosial dan ekologis.

Sebagai buku kumpulan kolom, "Merawat Warisan, Menjawab Zaman" memiliki kelebihan, sekaligus keterbatasan.

Kelebihannya terletak pada keluasan tema dan kedekatannya dengan persoalan kehidupan sehari-hari. Pembaca tidak sedang berhadapan dengan uraian teoritis yang berat. Tulisan-tulisan dalam buku ini lahir dari kebutuhan membaca persoalan konkret, sehingga bahasanya relatif ringan dan komunikatif.

Redaksi Majalah Tebuireng sendiri menegaskan bahwa tulisan-tulisan tersebut memperlihatkan perpaduan antara tradisi keilmuan pesantren, pengalaman kepemimpinan dan kepekaan membaca realitas.

Karena berasal dari kumpulan kolom yang ditulis dalam rentang waktu berbeda, kedalaman analisis antartulisan tidak selalu sama. Beberapa gagasan terasa seperti refleksi singkat, bukan kajian yang selesai secara argumentatif. Pembaca yang mengharapkan analisis akademik mendalam mungkin perlu melengkapinya dengan bacaan lain.

Justru di situlah posisi buku ini perlu ditempatkan, dimana buku bukan sebagai risalah akademik tentang pesantren, melainkan sebagai kumpulan refleksi seorang pengasuh pesantren dalam membaca perubahan sosial dari perspektif tradisi keilmuan Islam.

"Merawat Warisan, Menjawab Zaman" adalah buku tentang cara berdamai dengan perubahan. Pesannya sederhana tetapi tidak sederhana untuk dilaksanakan, yaitu tak boleh kehilangan akar ketika bergerak ke depan.

Pesantren perlu berubah, tetapi tidak harus kehilangan identitas. Dakwah perlu memasuki ruang digital, tetapi tidak boleh kehilangan adab. AI dapat dimanfaatkan, tetapi manusia tetap harus memegang kendali moral. Pendidikan harus mengikuti perkembangan zaman, tetapi tidak boleh meninggalkan karakter. Kemajuan ekonomi perlu dikejar, tetapi alam tidak boleh dikorbankan.

Dalam kerangka itu, tradisi bukanlah beban masa lalu. Tradisi adalah sumber daya moral untuk menilai masa depan. Mungkin di situlah relevansi terbesar buku ini bagi Indonesia hari ini. Di tengah masyarakat yang sering dipaksa memilih antara tradisi dan modernitas, Gus Kikin menawarkan jalan ketiga, yaitu "berakar tanpa menjadi beku, terbuka tanpa kehilangan arah". 
Sebab persoalan utama sebuah bangsa bukan semata-mata bagaimana ia bergerak mengikuti zaman. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah ia masih tahu ke mana hendak bergerak. Dan untuk itulah warisan dibutuhkan, bukan agar kita tinggal di masa lalu, melainkan agar ketika memasuki masa depan, kita tidak kehilangan kompas. Semoga.

*) Bustomi, mahasiswa Program Doktoral FISIP Universitas Airlangga dan Pengurus Bidang Kajian Strategis IKA Unair Bangkalan

Pewarta: Bustomi *)
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.