Padang (ANTARA) - Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), memastikan ketersediaan dan distribusi pangan di Kota Padang tetap terjaga sebagai bagian dari upaya mengendalikan inflasi.
"Untuk beberapa komoditas, stok pangan yang kita miliki saat ini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga 53 sampai 64 hari. Kondisi ini menjadi salah satu indikator bahwa pasokan di Kota Padang masih dalam kondisi aman," kata Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota (Setdako) Padang Didi Aryadi di Padang, Selasa.
Hal tersebut disampaikan dalam High Level Meeting (HLM) TPID Kota Padang Triwulan III dengan tema "Sinergi TPID dalam Menjaga Lahan Produktif, Memperluas Pasokan Pangan dan Mengendalikan Inflasi Daerah" pada 22 September 2026.
Menurut dia, TPID Kota Padang terus memantau kondisi pasokan pangan, termasuk jalur distribusi yang menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas harga.
Ia mengatakan gangguan akses akibat longsor yang sempat terjadi pada jalur antara Kota Padang dan Solok juga tidak sampai mengganggu pasokan pangan ke Kota Padang karena kendaraan masih dapat melintas.
"Beberapa hari lalu memang terjadi longsor di antara Kota Padang dan Kota Solok. Alhamdulillah, kendaraan masih bisa lewat sehingga kami memastikan ketersediaan pangan di Kota Padang tetap terjaga," katanya.
Ia menyebutkan selain memastikan pasokan, TPID Kota Padang juga membahas upaya menjaga lahan pertanian produktif, khususnya sawah yang masuk dalam kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Ia mengatakan salah satu usulan yang dibahas adalah pemberian insentif kepada pemilik lahan yang tetap mempertahankan sawahnya sebagai lahan pertanian.
"Untuk menjaga jumlah lahan, terutama sawah yang dilindungi, ada usulan pemberian insentif bagi lahan yang tetap menjadi persawahan. Bentuknya bisa berupa penghapusan atau pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)," ujar dia.
Menurut dia, pemberian insentif tersebut dapat menjadi salah satu upaya mendorong masyarakat untuk mempertahankan lahan sawah sehingga tetap produktif dan mendukung ketersediaan pangan di daerah.
Sementara itu, Pemkot Padang juga mengembangkan pertanian perkotaan atau urban farming sebagai alternatif produksi pangan di tengah keterbatasan lahan akibat perkembangan kawasan permukiman.
Program urban farming itu dilaksanakan oleh Pemkot Padang bersama berbagai pihak untuk menekan inflasi, memperkuat ketahanan pangan keluarga, dan memanfaatkan lahan perkarangan rumah yang terbatas.
Ia mengatakan program urban farming tersebut dilaksanakan melalui Dinas Pertanian serta Dinas Pangan dan Perikanan Kota Padang dengan memanfaatkan teknologi dalam kegiatan pertanian.
"Di daerah perkotaan kita melakukan intervensi teknologi dalam pertanian. Ada kegiatan urban farming berupa semangka, melon dan beberapa komoditas lainnya," ujar dia.
Ia menyatakan program tersebut juga melibatkan generasi muda, khususnya petani milenial atau petani generasi z (gen z) dalam mengembangkan kegiatan pertanian di perkotaan.
Ia mengatakan program urban farming tersebut telah berjalan di sejumlah wilayah Kota Padang, di antaranya Kecamatan Lubuk Begalung dan Koto Tangah.
"Programnya sudah berjalan dan ada beberapa yang akan segera panen," kata dia.
Ia menambahkan pengembangan urban farming diharapkan dapat menjadi salah satu upaya memperluas sumber pasokan pangan sekaligus mempertahankan aktivitas pertanian di tengah berkurangnya lahan akibat kebutuhan pembangunan permukiman.