Jakarta -
Peneliti elit China, Ning Boyu, meninggalkan pekerjaannya di Huawei yang bergaji USD 140.000 (Rp 2,5 miliar) setahun atau lebih dari Rp 200 juta sebulan untuk bekerja di pertanian jagung keluarganya di Provinsi Hunan. Alasannya, dia ingin mendapatkan pengalaman baru.
Ning yang berusia 30 tahun, meraih gelar sarjana dan doktor (Ph.D.) dari University of Electronic Science and Technology of China. Selama kuliah, ia menerbitkan 21 makalah tentang komunikasi nirkabel dan juga berprestasi di luar akademik dengan memecahkan rekor lompat tinggi di universitas, menang kejuaraan renang, serta membangun follower sebagai pembuat konten di Bilibili.
Di 2023, ia bergabung dengan Huawei sebagai principal research engineer setelah terpilih dalam program rekrutmen elit Top Mind, yang dikenal luas di China sebagai program Genius Youth.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia berpenghasilan sekitar USD 140.000 setahun, menempatkannya di salah satu golongan gaji tertinggi dalam program tersebut. Ia juga peneliti tamu National University of Singapore.
Dikutip detikINET dari VNexpress, pada 5 Agustus, ia mengundurkan diri dari Huawei dan kembali ke kampung halamannya di Shaodong, Provinsi Hunan, tempat ia membantu keluarganya memanen dan menjual jagung.
Ia hanya memperoleh USD 1,40 pada hari pertamanya, tapi mengaku senang dengan jumlah tersebut. Keputusannya meninggalkan karier teknologi yang menggiurkan demi bertani membuat beberapa pengguna media sosial mempertanyakan apakah ia menyia-nyiakan bakatnya.
Ning menyebut tekanan kerja sebagai salah satu alasan. Perannya perlu kemandirian tinggi dan siklus penelitian panjang. Gelar Top Mind juga jadi sumber tekanan. Setelah gabung Huawei, ia menyadari belum tentu salah satu karyawan paling menonjol dalam kemampuan teknis atau kecerdasan, membuatnya mempertanyakan apakah pantas mendapatkan julukan tersebut.
Ia juga khawatir penelitiannya tidak menghasilkan nilai komersial bagi perusahaan, sementara kemajuan pesat AI membuatnya mempertanyakan nilai jangka panjang dari keterampilan yang ia kembangkan. "Jika AI dapat melakukan hal-hal tersebut di masa depan, apa nilai dari kemampuan yang saya kembangkan saat ini?" cetusnya.
Namun, kepulangannya untuk bertani hanya sementara. Ia telah menerima beasiswa pascadoktoral Marie Curie dan bersiap melakukan penelitian di KTH Royal Institute of Technology di Swedia. Ia berencana kembali ke China setelah menyelesaikan program tersebut.
Ia mengatakan bahwa bertani adalah pengalaman baru yang memberinya apresiasi lebih dalam terhadap tantangan yang dihadapi orang dari berbagai lapisan. "Saya suka menganggap diri sebagai aktor dalam hidup saya sendiri. Naskah bulan ini mungkin menjadikan saya petani, sementara bulan depan saya mungkin seorang sopir," ujarnya.
Bagi Ning, meninggalkan Huawei bukan berarti meninggalkan penelitian, melainkan mengambil jalan yang berbeda sebelum kembali ke dunia akademis. Setelah mendiskusikan masalah ini dengan para profesor dan mahasiswa di universitas, ia menyadari sangat menikmati interaksi dengan komunitas akademis.
"Esensi dari kehidupan adalah pengalaman. Anda tidak perlu membuktikan diri kepada siapa pun," ujarnya.
(fyk/rns)
TAGS
LIHAT LAINNYA