Jakarta (ANTARA) - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (Unair) melatih kader posyandu di kawasan transmigrasi Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, untuk memperkuat pendampingan kesehatan psikologis ibu hamil dan menyusui.
Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot Unair Prof. Endang Retno Surjaningrum mengatakan pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan kader dalam mengenali kondisi psikologis ibu serta memberikan pendampingan awal bagi warga yang membutuhkan.
"Kalau ibu hamil dan ibu menyusui kondisi kesehatan mentalnya positif, maka itu juga akan menghasilkan bayi yang lebih baik," kata Endang dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.
Endang menjelaskan kesehatan psikologis ibu merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung tumbuh kembang anak sehingga perlu mendapat perhatian sejak masa kehamilan hingga menyusui.
Melalui pelatihan tersebut, para kader dibekali pengetahuan untuk mengenali tanda awal masalah psikologis serta keterampilan berkomunikasi dengan ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok masyarakat lainnya.
Program pendampingan itu juga mencakup penyediaan meja konseling saat posyandu beroperasi serta kerja sama dengan puskesmas setempat agar warga yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat dirujuk ke fasilitas kesehatan.
Selain menyasar kesehatan ibu, pelatihan tersebut membekali kader dengan kemampuan mendekati warga lanjut usia (lansia) dan masyarakat yang selama ini belum rutin memanfaatkan layanan posyandu.
Baca juga: Mentrans tantang TEP Unair realisasikan kampung matoa di Manokwari
Baca juga: TEP Unair kembangkan ekowisata berbasis mitigasi bencana di Manokwari
Salah seorang kader posyandu di Distrik Prafi, Rianti, mengaku pelatihan tersebut membantunya memahami cara berkomunikasi dengan warga yang membutuhkan pendampingan.
"Kami mendapatkan ilmu tentang bagaimana cara berkomunikasi dengan lansia, kemudian bagaimana cara mengajak orang tua yang tidak pernah datang ke posyandu," ujarnya.
Rianti menjelaskan pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan telah diterapkan melalui kunjungan langsung ke rumah warga untuk mendengarkan keluhan dan memahami kebutuhan mereka.
"Dengan kunjungan ke rumah, kami berkomunikasi dengan menerapkan materi-materi yang sudah kami dapat itu. Ternyata luar biasa, kami bisa mendengarkan keluh kesah masyarakat," katanya.
Menurut Rianti, perhatian terhadap kesehatan psikologis tidak kalah penting dibandingkan kesehatan fisik, terutama dalam mendukung kemampuan ibu merawat dan membesarkan anak.
"Kesehatan psikologis itu tidak kalah penting dengan kesehatan fisik," tuturnya.
Kementerian Transmigrasi menyebut program pendampingan tersebut direncanakan menjangkau tujuh kampung di Distrik Prafi dengan melibatkan kader posyandu sebagai penghubung antara masyarakat dan layanan kesehatan.
Kementerian Kesehatan pada 9 Oktober 2026 melaporkan sebanyak 71,86 juta penduduk telah menjalani skrining kesehatan jiwa, dengan indikasi gejala depresi pada kelompok ibu hamil dan nifas yang diperiksa mencapai 7,1 persen.
Kemenkes juga mencatat sebanyak 6.549 puskesmas atau sekitar 64 persen dari seluruh puskesmas di Indonesia telah mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa, sebagai bagian dari upaya memperluas akses deteksi dini dan penanganan gangguan kesehatan mental.
Baca juga: TEP UI padukan layanan posyandu dengan kesehatan gigi di Werabur
Baca juga: Kementrans-TEP UI dokumentasikan lima sub-suku Dayak di Sanggau
Baca juga: TEP UI bantu permudah rujukan pasien Teluk Wondama lewat pelatihan RME
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.