REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bonus demografi tidak otomatis menjadi kekuatan pembangunan Indonesia. Kualitas sumber daya manusia, kapasitas kepemimpinan, pemahaman kebijakan publik, dan kemampuan membaca dinamika geopolitik menjadi faktor penting agar dominasi penduduk usia produktif dapat mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
Founder dan Chairman The Kertanegara Institute, Raga Awandayu Prakasa, mengatakan Indonesia perlu memastikan generasi muda memiliki kapasitas yang memadai sebelum memasuki tahapan penting menuju 2045.
“Kita sering berbicara mengenai bonus demografi sebagai sebuah peluang. Tetapi bagi kami, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita sudah cukup mempersiapkan diri untuk mengubah bonus demografi tersebut menjadi kekuatan bangsa?” kata Raga dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (27/9/2026).
Menurut Raga, tantangan Indonesia menuju 2045 tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan kualitas tenaga kerja. Generasi muda juga akan menghadapi lingkungan strategis yang semakin kompleks, termasuk dinamika geopolitik, ketahanan energi dan pangan, serta ancaman middle-income trap.
Perubahan geopolitik, kata Raga, tidak hanya berdampak pada pertahanan dan keamanan, tetapi juga dapat memengaruhi perekonomian, energi, pangan, perdagangan, dan kepentingan strategis Indonesia.
“Think tank bukan hanya tentang menghasilkan kajian atau gagasan. Kami ingin membangun ruang untuk belajar, bertukar pikiran, dan mempertemukan berbagai perspektif untuk memahami persoalan Indonesia secara lebih utuh,” ujarnya.
Raga menyampaikan pandangan tersebut dalam rangkaian School of Thought – Founding Associates Batch One melalui Studium Generale & Strategic Dialogue di Gedung Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Jakarta.
Kegiatan tersebut menghadirkan Gubernur Lemhannas RI TB Ace Hasan Syadzily dengan tema “Membaca Arah Strategis Indonesia: Ketahanan Nasional dalam Kerangka Asta Cita.” Peserta mendapatkan perspektif mengenai sejumlah persoalan strategis Indonesia, termasuk pertumbuhan ekonomi, bonus demografi, ancaman middle-income trap, dan perkembangan geopolitik global.
Raga mengatakan penguatan kapasitas generasi muda setidaknya perlu mencakup tiga aspek, yakni kepemimpinan, kebijakan publik, dan ketahanan nasional.
Dalam aspek kepemimpinan, generasi muda perlu memiliki kemampuan memahami persoalan, mengambil keputusan, membaca risiko, serta mempertanggungjawabkan pilihan yang diambil. Kemampuan tersebut dibutuhkan untuk menghadapi persoalan pembangunan yang semakin kompleks.
Dari sisi kebijakan publik, pendidikan perlu mendorong generasi muda memahami persoalan masyarakat dan memiliki kemampuan berpikir untuk merumuskan respons terhadap masalah publik. Pendidikan, menurut Raga, tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik.
Sementara dari perspektif ketahanan nasional, generasi muda perlu memahami perubahan lingkungan strategis dan kaitannya dengan kepentingan nasional Indonesia.
“Persiapan menuju 2045 tentu tidak dimulai nanti. Ia dimulai dari hari ini,” tegas Raga.
Dia mengatakan Asta Cita menjadi salah satu kerangka untuk memahami arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Kerangka tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai prioritas pembangunan melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 sebagai tahapan menuju visi Indonesia Emas 2045.
Raga menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia perlu berjalan seiring dengan agenda pembangunan tersebut. Generasi muda yang saat ini berada pada usia pendidikan dan produktif akan menjadi bagian penting dari struktur sosial dan ekonomi Indonesia pada 2045.
Menurut dia, tantangan tersebut membutuhkan tradisi belajar yang tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan sektoral. Generasi muda juga perlu memahami keterkaitan antara ekonomi, politik, sosial, pertahanan, lingkungan strategis, dan kepentingan nasional.
Melalui School of Thought – Founding Associates Batch One, The Kertanegara Institute menyediakan ruang pembelajaran dan pertukaran perspektif bagi generasi muda. Program tersebut mempertemukan peserta dengan berbagai perspektif mengenai kepemimpinan, pembangunan, kebijakan publik, dan ketahanan nasional. “Kami datang ke sini bukan karena merasa sudah memahami semuanya. Justru kami datang untuk belajar,” kata Raga.
Ia mengatakan penguatan kapasitas generasi muda menjadi bagian dari upaya memastikan bonus demografi tidak berhenti sebagai keunggulan demografis, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kapasitas pembangunan.
Dengan demikian, persiapan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya berkaitan dengan jumlah penduduk usia produktif, tetapi juga kemampuan generasi tersebut mengambil keputusan, memahami tantangan strategis, dan berkontribusi terhadap kepentingan nasional.