Terjang Ombak, Dedikasi Mantri BRI yang Membuka Jalan Akses Finansial hingga Perbaiki Nasib Nelayan di Pulau Seram

2026/07/31

Jumat, 31 Juli 2026 - 19:33 WIB

VIVA – Di bawah langit Kepulauan Maluku yang sering kali berubah drastis, sebuah perahu fiber membelah ombak di Selat Haya. Di atasnya, seorang wanita berdiri dengan waspada, tangan mencengkeram pinggiran perahu, sementara matanya menatap tajam ke arah cakrawala.

Baca Juga

Wanita itu adalah Asti Alimin, seorang Mantri BRI Kantor Cabang Masohi dari Unit Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku yang sedang menjalankan tugasnya, yakni menjemput asa para nasabah di pelosok kepulauan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perjalanan Asti bukanlah perjalanan kerja biasa. Bagi masyarakat di Kabupaten Seram Bagian Barat, ia menjadi jembatan yang menghubungkan harapan dengan akses terhadap layanan keuangan. Pengabdiannya dimulai sejak 2020, ketika ia mendapat amanah untuk mengelola wilayah yang sebagian besar terdiri atas lautan dan pulau-pulau kecil. Salah satu wilayah dengan tantangan terbesar adalah Pulau Kelang.

Baca Juga

"Ada satu pulau yang baru kami buka layanannya karena banyak permohonan masyarakat yang selama ini terkendala jarak," ungkap Asti.

Permohonan tersebut menjadi titik awal bagi Asti untuk mengenal lebih dekat kondisi masyarakat Pulau Kelang. Dari berbagai kunjungan yang dilakukannya, ia melihat bahwa di balik keterbatasan akses, pulau tersebut menyimpan potensi ekonomi yang besar. Namun, selama bertahun-tahun masyarakat belum tersentuh layanan perbankan karena kondisi geografis yang sulit dijangkau. Berbekal komitmen untuk menghadirkan layanan hingga ke pelosok, Asti menempuh perjalanan melalui jalur darat dan laut demi membuka akses keuangan bagi masyarakat Pulau Kelang.

Baca Juga

Ia menyebut, perjalanan menuju Pulau Kelang bukanlah rutinitas yang mudah. Setiap kali hendak menuju wilayah tersebut, Asti harus menempuh perjalanan darat selama sekitar satu jam dari kantornya di Piru menuju titik penyeberangan di Waesala.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, tantangan belum berhenti di sana. Dari Waesala, ia masih harus menyeberangi lautan selama kurang lebih satu jam untuk mencapai pulau utama. Waktu tempuh pun dapat bertambah sekitar satu jam apabila ia harus menjangkau kampung-kampung lain yang tersebar di pulau tersebut.

Bagi Asti, laut bukan sekadar jalur penghubung, melainkan juga menjadi bagian dari medan kerja yang penuh tantangan. Kondisi cuaca di Maluku sangat dipengaruhi oleh musim barat dan musim timur. Saat musim barat tiba, gelombang tinggi kerap muncul di perairan Waesala hingga Selat Hayacoba, sehingga perjalanan menuju Pulau Kelang membutuhkan kehati-hatian ekstra.

Halaman Selanjutnya

Lantas, mengapa Asti bersedia menempuh bahaya sebesar itu? Jawabannya ada pada beban moral dan cinta pada tanah kelahirannya. Saat masih kuliah, Asti menyaksikan keluarganya di pulau kesulitan mendapatkan modal usaha. Mereka harus pergi jauh ke Ambon atau Masohi, namun sering kali pulang dengan tangan hampa karena akses geografis yang dianggap mustahil oleh pihak bank.