Mataram (ANTARA) - Para thullab dan tholibat Ma’had Darul Qur’an wal Hadits (MDQH) Al-Majidiyyah Asy-Syafi’iyyah diingatkan untuk menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW sebagai pedoman utama dalam kehidupan, sekaligus menjaga akhlak Nabi dalam pergaulan di tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Syaikh Musthofa dalam acara penamatan sekaligus penyambutan thullab dan tholibat baru MDQH Al-Majidiyyah Asy-Syafi’iyyah, Kamis (27/8).
Kegiatan berlangsung khidmat dan diisi dengan pengajian umum serta tausiyah mengenai keutamaan menuntut ilmu agama.
Dalam tausiyahnya, Syaikh Musthofa mengingatkan besarnya keutamaan membaca Al-Qur’an sebagai salah satu bentuk ibadah.
“Seafdhal-afdhalnya ibadah adalah membaca Al-Qur'an, baik dipahami maknanya maupun tidak, karena Allah SWT memberikan ganjaran pahala pada setiap satu huruf yang diucapkan.”
Ia juga menyampaikan rasa syukur dan bahagia atas selesainya masa studi para thullab dan tholibat yang dinyatakan lulus pada angkatan tahun ini. Menurutnya, kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu, melainkan awal untuk mengamalkan ilmu dan menyebarkannya di tengah masyarakat.
Syaikh Musthofa kemudian menguraikan makna yang terkandung dalam nama lembaga pendidikan tersebut, yakni Ma’had Darul Qur’an wal Hadits, Al-Majidiyyah, dan Asy-Syafi’iyyah.
Menurut dia, Al-Qur’an dan Al-Hadits harus menjadi fondasi utama kehidupan seorang Muslim. Karena itu, kecintaan terhadap Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membacanya, tetapi juga harus diwujudkan dengan memahami, mengamalkan, dan menjadikannya sebagai pedoman kehidupan.
Para thullab dan tholibat juga diajak menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dalam kehidupan sehari-hari. Sunnah, sifat, dan akhlak Nabi hendaknya menjadi pedoman dalam bersikap, baik ketika berada di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan maupun masyarakat.
Pesan tersebut dinilai penting di tengah kecenderungan generasi muda mengidolakan tokoh-tokoh populer. Syaikh Musthofa mengingatkan agar keteladanan utama tetap diarahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dan para ulama salafus shalih.
Ia juga mencontohkan keteladanan para sahabat serta Imam Ahmad bin Hanbal dalam menjaga tradisi keilmuan dan akhlak.
Selain mengingatkan tentang Al-Qur’an dan Sunnah, Syaikh Musthofa menjelaskan sejarah dan makna nisbah nama Al-Majidiyyah. Nama tersebut merupakan bentuk penghormatan atau ta’dzim kepada pendiri ma’had, Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
TGH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dikenal menimba ilmu di Makkah Al-Mukarramah sebelum kembali dan mengembangkan dakwah di Lombok serta berbagai wilayah di Indonesia. Perjalanan dakwah tersebut, menurut Syaikh Musthofa, menjadi gambaran penting tentang keikhlasan dan keberkahan ilmu yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Sementara itu, nama Asy-Syafi’iyyah merujuk pada hubungan keilmuan dan mazhab dengan Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, ulama besar yang dikenal dalam bidang tafsir, hadits, dan fikih.
Melalui momentum penamatan tersebut, para lulusan diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik. Mereka dituntut untuk tetap istiqamah mengamalkan ilmu, menegakkan ajaran Al-Qur’an dan Hadits, serta membawa akhlak Nabi dalam kehidupan bermasyarakat.
Ilmu, kata Syaikh Musthofa, pada akhirnya harus melahirkan keteladanan. Karena itu, lulusan MDQH diharapkan tidak hanya dikenal karena ilmu yang dimiliki, tetapi juga karena akhlak yang mencerminkan ajaran Rasulullah SAW.
Pewarta : Zainuddin, mahasiswa PKL IAIH
Editor:
Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026