Suka Makan Pedas? Riset Ungkap Risiko Kematian Bisa Turun hingga 25%

2026/07/18

Jakarta -

Konsumsi makanan pedas sering dianggap kurang baik bagi kesehatan karena dapat memicu sakit perut hingga masalah lambung. Faktanya, makanan pedas bisa menurunkan risiko kematian.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan pedas dalam jumlah wajar berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah.

Meski hubungan tersebut belum membuktikan sebab-akibat secara langsung, tapi para peneliti menemukan adanya kaitan antara kebiasaan mengonsumsi cabai dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kandungan capsaicin, senyawa yang memberikan sensasi pedas pada cabai, diduga menjadi salah satu faktor yang berperan. Senyawa ini diketahui memiliki berbagai manfaat kesehatan yang masih terus diteliti, termasuk potensinya dalam mendukung umur panjang.

Para pedagang melayani pembeli di pasar sembako di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta, Jumat (7/3/2025). Menurut para pedagang harga sembako relatif stabil. Cabe rawit lokal Rp 50 ribu/kg, telor Rp 30 ribu/kg, kentang Rp 20 ribu/kg, bawang merah Rp 60 ribu/kg, bawang putih Rp 50 ribu/kg dan jengkol Rp 35 ribu/kg.Cabai segar. Foto: Ari Saputra

Dilansir dari Up Worthy (18/07/2026), sebuah studi yang dipublikasikan dalam Chinese Medical Journal pada 2025, menemukan bahwa orang yang mengonsumsi makanan pedas setidaknya sekali dalam seminggu memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit pembuluh darah, dibandingkan mereka yang jarang atau tidak pernah mengonsumsinya.

Temuan tersebut menambah daftar penelitian yang mengaitkan konsumsi cabai dengan manfaat bagi kesehatan.

Hasil serupa juga terlihat dalam penelitian dari Larner College of Medicine di University of Vermont pada 2017. Penelitian itu menunjukkan bahwa orang-orang di Amerika Serikat yang mengonsumsi cabai merah pedas memiliki risiko kematian 13% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsinya.

Sementara itu, analisis yang dipresentasikan dalam American Heart Association Scientific Sessions pada 2020 menggunakan data lebih dari 570.000 orang, menemukan bahwa konsumsi cabai secara rutin dikaitkan dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 25%.

Young woman sitting at an outdoor cafe, surprised by the heat and piquancy of her soup, showcasing a humorous dining experienceIlustrasi makan pedas. Foto: Getty Images/frantic00

Penelitian yang sama juga menunjukkan risiko kematian secara keseluruhan 25% lebih rendah pada kelompok yang rutin mengonsumsi cabai.

Meski demikian, para peneliti menjelaskan bahwa temuan tersebut hanya menunjukkan hubungan, bukan membuktikan secara ilmiah bahwa makanan pedas secara langsung membuat seseorang hidup lebih lama. Faktor gaya hidup dan pola makan lainnya masih berperan terhadap hasil tersebut.

Dikutip dari Mayo Clinic, capsaicin diketahui dapat membantu tubuh membakar lebih banyak kalori sekaligus melawan peradangan ringan yang berkaitan dengan kesehatan jantung.

Sambal Petai, a popular condiment of red chili paste with stink (bitter) beans from Central Java. The condiment is plated on old-fashioned crockery with red flowers paintings. It is served together with other popular spicy condiments from several other regions in Indonesia.Sambal Petai. Foto: Getty Images/MielPhotos2008

Beberapa penelitian juga menemukan bahwa senyawa tersebut mampu memperbaiki sejumlah faktor risiko pada orang dengan kadar kolesterol HDL yang rendah.

"Cabai memiliki banyak manfaat yang berpotensi memperpanjang usia dan dapat dimasukkan ke dalam berbagai jenis hidangan. Capsaicin pada cabai telah terbukti dalam berbagai penelitian memiliki sifat antibakteri, antikanker, dan antidiabetes. Selain itu, senyawa ini juga dapat membantu menurunkan kadar kolesterol pada individu dengan obesitas," ujar Dr. Philip Goglia, ahli nutrisi terkemuka di California, Amerika.

(sob/adr)