CNN Indonesia
Rabu, 14 Okt 2026 02:00 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah studi di Jepang menemukan, orang yang tinggal di rumah dengan lingkungan bangunan dan pepohonan yang menciptakan 'sense of enclosure' atau keterlingkupan, kualitas tidurnya jadi lebih baik.
Rasa keterlingkupan di sini maksudnya kesan yang didapat dari ruang yang terdefinisi. Misalnya, seseorang bisa melihat batasan fisik di sekelilingnya, seperti bangunan, deretan pohon, hingga pagar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ruang yang terdefinisi ini menciptakan rasa aman, nyaman, hingga intim berkat adanya pembatas, baik secara vertikal maupun horizontal.
"Penelitian tentang tidur selama ini berpusat pada bidang medis, tetapi lingkungan di sekitar rumah seseorang mungkin juga terkait erat," ujar profesor studi lingkungan perumahan di Universitas Metropolitan Osaka, Daisuke Matsushita, dilansir The Mainichi pada Senin (12/10).
Matsushita dan para peneliti lainnya melakukan penelitian dengan dua cara untuk mempelajari hubungan antara lanskap di sekitar rumah dan kualitas tidur. Pertama, survei terhadap 1.089 orang di rentang usia 40-59 tahun yang sehari-hari commute ke Tokyo.
Pilihan Redaksi
- Menikah Tapi Tidur Terpisah, Apakah Bermanfaat buat Hubungan?
- 7 Tanda Ada Kebocoran Air di Rumah yang Sering Diabaikan
- Apakah Tidur dengan Kucing Aman bagi Kesehatan?
Kedua, para peneliti mengumpulkan sekitar 210 ribu gambar area di sekitar rumah para peserta studi melalui Street View di Google Maps. Untuk mengklasifikasi setiap gambar sebagai bangunan, langit, pohon, atau elemen lainnya, mereka menggunakan AI.
Ada tiga faktor yang diukur dalam penelitian ini. Pertama, rasa keterlingkupan yang mengacu pada bagian bidang pandang yang ditempati elemen vertikal, seperti bangunan dan pepohonan.
Kedua, yakni faktor rasio visibilitas hijau alias bidang pandang yang ditempati tanaman hijau, seperti pepohonan di tepi jalan.
Ketiga, faktor kemudahan berjalan kaki secara visual atau sejauh mana tersedianya hal-hal yang berorientasi pada pejalan kaki, seperti trotoar dan pagar pembatas jalan.
Para peneliti kemudian melatih AI pada sekitar 1,55 juta titik data yang sudah dievaluasi oleh 90 ribu orang. Mereka mengevaluasi kesan lanskap jalanan, lalu memberikan nilai untuk sejumlah aspek, seperti rasa aman, suasana, dan keindahan.
Tim peneliti menganalisis hasilnya dengan menggabungkan metode penilaian internasional yang mengukur insomnia dan rasa kantuk di siang hari.
Hasilnya, orang yang tinggal di lanskap jalanan dengan rasa keterlingkupan lebih besar memiliki lebih sedikit gejala insomnia dan tidurnya lebih lama. Lanskap jalanan yang dinilai lebih aman juga cenderung dikaitkan dengan durasi tidur lebih lama.
"Secara statistik telah terbukti bahwa orang yang tinggal di tempat dengan rasa keterlingkupan yang tinggi memiliki kualitas tidur yang lebih baik," kata Matsushita.
Matsushita mengatakan, temuan ini bisa bermanfaat untuk perencanaan kota atau dalam konteks individual, bisa jadi pertimbangan saat memilih tempat tinggal.
"Lingkungan dengan jalan yang tidak terlalu lebar, rasa keterlingkupan yang nyaman, banyak ruang hijau, dan lalu lintas yang moderat dapat berkontribusi pada perencanaan kota yang meningkatkan kesehatan dan kualitas tidur," tutur Matsushita.
(rti)