SMK Negeri 1 Paringin ajak guru tingkatkan kompetensi melalui Workshop - ANTARA News Kalimantan Selatan

2026/09/10

Paringin (ANTARA) -

SMK Negeri 1 Paringin, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, menggelar workshop untuk peningkatan kompetensi guru dalam pembuatan modul ajar Kurikulum Merdeka, pembelajaran mendalam, asesmen, dan kegiatan kokurikuler untuk menghadapi tuntutan pembelajaran tahun ajaran 2026/2027.

“Untuk menghadapi kurikulum yang baru ini, tentunya guru-guru kami perlu mendapatkan pembelajaran atau workshop,” ucap Sukamto di Paringin, Rabu.

Sukamto menjelaskan, pelaksanaan workshop diawali dengan pemetaan kebutuhan guru melalui survei internal untuk mengetahui kompetensi yang perlu diperkuat dalam menghadapi perkembangan pembelajaran.

Hasil pemetaan tersebut menunjukkan sejumlah kebutuhan, antara lain penyusunan modul ajar, asesmen pembelajaran, serta pemahaman mengenai kegiatan kokurikuler.

Sukamto mengatakan modul ajar perlu disusun dengan menyesuaikan kebutuhan belajar peserta didik, struktur kurikulum, karakteristik sekolah, serta perkembangan pembelajaran.

Setelah guru memahami penyusunan modul ajar, lanjutnya, guru juga perlu memahami asesmen untuk mengukur ketercapaian pembelajaran dan kompetensi peserta didik.

“Untuk mengukur apakah materi itu sudah tersampaikan atau tidak, maka perlu adanya asesmen atau penilaian,” katanya.

Sementara itu, materi kokurikuler diberikan karena kegiatan tersebut menjadi bagian yang perlu dipahami guru sebagai pendukung pembelajaran intrakurikuler.

Sukamto juga menyampaikan hasil workshop tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi akan ditindaklanjuti melalui pengumpulan perangkat pembelajaran dan supervisi ke dalam kelas.

Guru diminta mengumpulkan hasil penyusunan modul ajar, perangkat asesmen, serta rencana kegiatan kokurikuler yang kemudian menjadi bahan evaluasi sekolah.

“Nanti tindak lanjutnya, kepala sekolah supervisi ke dalam kelas untuk memastikan bahwa Bapak atau Ibu guru sudah mendapatkan hasil dari workshop tadi,” ujar Sukamto.

Workshop tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari lingkungan pendidikan provinsi dan guru yang dinilai memiliki praktik baik dalam penerapan pembelajaran.

Pada hari pertama, materi antara lain supervisi akademik serta modul ajar Kurikulum Merdeka dengan pendekatan pembelajaran mendalam dan delapan dimensi profil lulusan.

Materi dilanjutkan dengan praktik penyusunan modul ajar, presentasi hasil pekerjaan, refleksi, serta pemberian tugas lanjutan.

Peserta juga mendapatkan materi penguatan kokurikuler di SMK dan praktik penyusunan rencana kegiatan kokurikuler.

Salah seorang peserta workshop, Vivin Dwi Agustin, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru bagi guru, khususnya dalam menyusun perangkat pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan kondisi sekolah.

Vivin menilai materi supervisi akademik juga memberikan pemahaman bahwa supervisi bukan sekadar proses pemeriksaan terhadap kekurangan guru, tetapi bagian dari upaya memperbaiki proses pembelajaran.

“Supervisi ini adalah bentuk kerja sama antara pengawas dengan kepala sekolah dan guru bagaimana menjadikan proses pembelajaran ini benar-benar berlangsung dengan baik,” ucap Vivin.

Selain penyusunan modul ajar, peserta juga mendapatkan wawasan mengenai pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk membantu pengembangan perangkat pembelajaran.

Ia menjelaskan pemanfaatan AI dapat digunakan dengan tetap menyesuaikan perangkat pembelajaran dengan karakter peserta didik, sekolah, dan fasilitas yang tersedia.

Peserta juga diperkenalkan dengan sistem penyimpanan perangkat pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengumpulkan dan berbagi perangkat antarguru secara lebih teratur.

Dalam materi asesmen, guru juga diarahkan untuk terlebih dahulu mengenali pemahaman awal peserta didik sebelum memasuki materi baru.

Hal tersebut dilakukan melalui asesmen diagnostik maupun penggalian kembali pengetahuan sebelumnya agar pembelajaran dapat disesuaikan dengan kondisi peserta didik.

“Kita harus mengenal siswa. Kalau anak masih ingat, bisa langsung masuk ke materi. Kalau belum ingat, dipancing kembali dengan pertanyaan-pertanyaan agar anak bisa memahami,” kata Vivin.

“Penyusunan rencana kegiatan kokurikuler masih menjadi hal baru bagi sekolah sehingga guru masih dalam tahap mempelajari dan mengembangkan bentuk kegiatan yang sesuai,” tambahnya.

Pihak sekolah berharap hasil workshop dapat diterapkan dalam proses pembelajaran sehari-hari sehingga peningkatan kompetensi guru tidak hanya menghasilkan perangkat administrasi, tetapi juga berdampak terhadap kualitas pembelajaran peserta didik.

Pewarta: M. Fattahillah Ajrun Azhiima
Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.