REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Temuan sejumlah artefak mata uang kuno beraksara Arab dan Persia dari Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, berpotensi menulis ulang sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Karena untuk pertama kalinya, ada bukti artefaktual yang mengindikasikan hubungan langsung antara jazirah Arab dengan Nusantara di sekitar abad ke-7 masehi.
Artefak ini sudah sangat ditunggu-tunggu oleh para arkeolog dan sejarawan yang meneliti perkembangan Islam di Indonesia. Karena sampai saat ini, mengacu pada bukti arkeologis yang ada, yaitu nisan kuno di Pasai, Aceh, dan di Gresik, maka indikasi Islam sudah ada di Nusantara menjadi jauh lebih muda, yakni di abad ke-12 dan ke-13.
Yang lebih mendalam lagi, para peneliti asing di abad ke 19 dan abad ke-20, dari temuan arkeologis yang terbatas itu, mematok bahwa Islam hadir di Nusantara tidak dari sumbernya langsung, Arab Saudi, tapi pantai barat India maupun pantai timur India. Ini bagi sebagian ulama Indonesia, dianggap 'merendahkan', mengacu apa yang Buya Hamka sampaikan di satu seminar.
Genealogi teori masuknya Islam ke Indonesia via jalur India dibahas secara mendalam oleh GWJ Drewes dalam makalahnya 'New Light on the Coming of Islam to Indonesia?' dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 124 (1968), No. 4, Leiden, hlm. 433–459. Naskah ini merupakan terjemahan makalah yang dibacakan Drewes pada pertemuan Oosters Genootschap di Leiden, 27 Maret 1968.
Drewes menggarisbawahi, sebelum berbicara soal teori, ada baiknya menyadari satu hal sederhana yang jarang disebut: Sejarawan Asia Tenggara bekerja nyaris tanpa temuan fisik.
Drewes mengutip Paul Wheatley, yang dalam bukunya tentang Semenanjung Melayu menyesalkan daya rusak iklim tropis — curah hujan, serangga, jamur, dan laju pengendapan aluvial yang begitu cepat. Gabungan semuanya melenyapkan jejak aktivitas manusia begitu manusia pergi. Karena itu Wheatley terpaksa menyusun bukunya dari sumber tertulis: Yunani, India, Arab-Persia, dan Cina.
Kondisi yang sama menghantui kajian Islamisasi. "Persediaan data faktual kita mengenai periode paling awal Islam di Hindia Timur amat miskin," tulis Snouck Hurgronje membuka bagian pidato pengukuhannya di Leiden, 23 Januari 1907. Enam dekade kemudian Drewes mengakui data baru memang bertambah, tetapi kelangkaannya belum teratasi.
Yang tersisa adalah benda-benda yang tidak mudah lapuk — terutama batu nisan. Menurut Drewes, nisan memberi keterangan yang terbatas tetapi dapat dipercaya, dan lebih dapat dipercaya ketimbang historiografi lokal, di mana ingatan tentang kedatangan Islam telah dikaburkan legenda sedemikian rupa sehingga sifatnya lebih membangun jiwa daripada merekam peristiwa.
Namun nisan pun bukan jaminan. Drewes menunjuk laporan Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17–20 Maret 1963, sebagai contoh betapa rapuhnya "data baru" bila tidak ditangani secara kritis. Pada satu nisan di Pase, Cowan sudah membaca angka tahun 823 H (1420 M) pada 1940, sementara H M Zainuddin membacanya 622 H (1225 M). Pada nisan Putri Siti Hawa di Kuala Daya, Ismail Jakub membaca 11 Muharam 460 H (1067 M), Veltman membaca 11 Muharam 962 H (1554 M). Selisihnya berabad-abad, dan reproduksi inskripsinya tidak disertakan.