Harga emas dunia diperkirakan masih memiliki ruang untuk menguat pada pekan ini seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, kebijakan pemerintah Amerika Serikat (AS), serta tingginya permintaan emas dari bank sentral global.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan harga emas dunia berpotensi kembali mencetak kenaikan setelah ditutup di sekitar US$ 4.604 per troy ons (Rp 81,46 juta dengan kurs Rp 17.690 per US$) pada Sabtu (22/8) pagi.
Menurut dia, apabila harga emas terkoreksi pada awal pekan, level US$ 4.520 atau Rp 79,97 juta per troy ons menjadi area support. Sementara dalam sepekan, support berikutnya berada di sekitar US$ 4.437 atau Rp 78,51 juta per troy ons.
Titik support dalam analisis teknikal adalah level harga bawah di mana penurunan harga aset akan cenderung berhenti karena minat yang kuat, sehingga harga berpotensi naik kembali. Adapun titik resistance adalah tingkat harga tertinggi di mana tekanan jual terhadap suatu aset keuangan meningkat sehingga harga berpotensi turun.
Apabila emas melanjutkan penguatan, resistance pertama berada di US$4.676 atau Rp 82,73 juta per troy ons. Bahkan, dalam sepekan harga emas berpeluang menguji US$ 4.766 atau Rp 84,33 juta per troy ons.
“Dalam pekan depan harga emas dunia kemungkinan besar akan ditransaksikan di US$4.437 per troy ons, kemudian resistance-nya itu adalah US$4.766 per troy ons,” ujar Ibrahim.
Ketegangan Timur Tengah Jadi Katalis
Ibrahim mengatakan terdapat sejumlah faktor yang berpotensi mendorong harga emas tetap tinggi. Salah satunya adalah ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah.
Saat ini pasar masih mencermati rencana AS menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran. Sanksi tersebut diperkirakan akan diumumkan pada Senin (24/8). Iran telah mengecam rencana tersebut. Bahkan, terdapat ancaman untuk menutup Selat Hormuz apabila tekanan terhadap Teheran semakin meningkat.
Menurut Ibrahim, ancaman tersebut berpotensi kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan minyak global, sementara aktivitas pelayaran di kawasan tersebut saat ini disebut telah mengalami penurunan.
“Sehingga ini pun juga akan membuat harga minyak mentah akan kembali mengalami kenaikan,” katanya.
Ketegangan juga meningkat setelah Israel kembali menyerang wilayah Suriah. Perkembangan tersebut turut menyeret Turki ke dalam konflik dan semakin memperumit situasi geopolitik di kawasan.
Di saat yang sama, konflik Rusia dan Ukraina di Eropa Timur juga masih berlangsung. Kondisi tersebut membuat ketidakpastian geopolitik global tetap tinggi dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.
Buyback Treasury AS Dorong Minat ke Emas
Selain faktor geopolitik, kebijakan pemerintah AS juga menjadi perhatian pasar. Ibrahim menyoroti langkah Departemen Keuangan AS yang meningkatkan program buyback surat utang pemerintah berjangka panjang. Nilai pembelian kembali yang sebelumnya sekitar US$ 2 miliar (Rp 35,39 triliun) dinaikkan menjadi US$ 4 miliar (Rp 70,77 triliun) per operasi.
Menurut Ibrahim, langkah tersebut dalam jangka pendek membantu menurunkan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor panjang. Penurunan yield Treasury kemudian mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke emas sebagai aset lindung nilai.
“Ini yang membuat yield obligasi Amerika tenor 10 sampai 30 tahun ini mengalami penurunan sehingga banyak investor yang mengalihkan dananya ke emas sebagai safe haven,” ujarnya.
Ibrahim menilai kebijakan buyback tersebut juga berkaitan dengan kondisi fiskal AS dan besarnya utang pemerintah. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat investor kembali mempertimbangkan emas sebagai aset penyimpan nilai.
Kebijakan The Fed Masih Jadi Perhatian
Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga mencermati arah suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Ibrahim mengatakan terdapat ekspektasi bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan mendatang.
Namun, sejumlah pejabat bank sentral AS masih mempertahankan pandangan bahwa suku bunga perlu tinggi karena inflasi masih berada di atas target.
Ketidakpastian arah suku bunga tersebut turut memberikan ruang bagi emas untuk menjadi alternatif investasi.
Bank Sentral Global Borong Emas
Faktor lain yang dinilai dapat menopang harga emas adalah permintaan dari bank sentral global. Ibrahim memperkirakan aksi pembelian emas oleh bank sentral masih berlanjut pada kuartal III 2026, terutama karena meningkatnya ketegangan geopolitik.
Dia menyebut data semester I menunjukkan volume permintaan emas global meningkat sekitar 2% secara tahunan menjadi 2.522 ton, dengan nilai mencapai sekitar US$ 380 miliar (Rp 6,72 kuadriliun). Menurut Ibrahim, tren tersebut menjadi indikasi bahwa permintaan emas dari bank sentral dan investor masih kuat.
“Di semester pertama harga emas mengalami kenaikan yang cukup signifikan, kemungkinan besar di kuartal ketiga, Juli, Agustus, September, ini kalau nanti sudah ada kemungkinan besar akan tren ada kenaikan untuk bank sentral dalam melakukan pembelian terhadap logam mulia,” ujarnya.