Siaga 1! Trump Kenakan Tarif 10% ke RI - Harga Minyak Tembus US$100

2026/07/23

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kompak melemah pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah, rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik tajam.

Menjelang akhir pekan, pasar keuangan diperkirakan masih akan bergerak dinamis pada perdagangan hari ini, Jumat (24/7/2026). Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

IHSG kembali melemah di penutupan perdagangan Kamis kemarin, meski sempat melesat kencang pada sesi pertama hingga menembus level 6.400.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 19,16 poin atau 0,30% ke level 6.315,31.

Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 6.306,65-6.437,20. IHSG sempat menunjukkan tenaga cukup kuat di awal perdagangan, tetapi berbalik arah hingga akhirnya ditutup di zona merah.

Aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai. Nilai transaksi mencapai Rp23,94 triliun, dengan volume 63,32 miliar saham dan frekuensi sebanyak 3,19 juta kali transaksi.

Namun demikian, investor asing tercatat melakukan aksi jual atau net sell sebesar Rp1,22 triliun. 

Sebanyak 321 saham menguat, 299 saham melemah, dan 176 saham bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar pun turun menjadi Rp11.085 triliun.

Pelemahan IHSG terutama terseret sektor finansial yang turun 1,47%. Tekanan dari sektor ini cukup besar karena finansial merupakan sektor dengan bobot terbesar di IHSG.

Secara spesifik, tekanan terbesar datang dari saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang terkoreksi 3,46% dan memangkas hampir 20 poin dari IHSG.

Selain BBCA, saham lain yang turut membebani indeks adalah PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).

Meski ditutup melemah, pergerakan IHSG masih menyimpan sinyal positif secara teknikal. Keberhasilan indeks menembus level 6.400 pada sesi pertama menunjukkan tren jangka pendek masih mencoba bertahan.

Sebelumnya, IHSG juga baru saja mengakhiri reli panjang sembilan hari beruntun pada perdagangan Rabu. Karena itu, koreksi dua hari terakhir masih bisa dibaca sebagai fase konsolidasi setelah penguatan tajam.

Adapun, nilai tukar rupiah juga ditutup melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin.

Melansir Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,08% ke posisi Rp17.890/US$.

Meski berakhir di zona merah, tekanan terhadap rupiah mulai berkurang dibandingkan pembukaan perdagangan. Pada awal sesi, mata uang Garuda sempat melemah 0,20% ke level Rp17.910/US$.

Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak cukup fluktuatif di rentang Rp17.875-Rp17.928/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,06% ke posisi 101,069. Pada perdagangan sebelumnya, DXY ditutup melemah ke level 101,125.

Pergerakan rupiah masih dipengaruhi respons pelaku pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) dan perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 21-22 Juli 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 4,75%, sedangkan Lending Facility dipertahankan di level 6,50%.

Keputusan tersebut diambil setelah BI menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026 untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global.

Dari eksternal, ketegangan Timur Tengah masih menjadi perhatian. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi sebagai bagian dari blokade laut di kawasan Laut Merah.

Ancaman gangguan kini membayangi dua jalur penting perdagangan minyak dunia sekaligus, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Sejumlah kapal tanker juga mulai mengubah rute untuk menghindari kawasan tersebut.

Ketegangan yang berlanjut kembali memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan inflasi global. Kondisi ini ikut menopang permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman dan menahan laju rupiah.

Sementara itu, pasar SBN kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis kemarin.

Yield SBN tenor 10 tahun naik 1,06% ke level 7,374%. Kenaikan yield menunjukkan harga SBN sedang turun. Di pasar obligasi, yield bergerak berlawanan arah dengan harga. Saat yield naik, harga obligasi cenderung melemah.

Add

as a preferred
source on Google