Liputan6.com, Naypyidaw - Serangan udara militer Myanmar di dekat sebuah pasar di wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak menewaskan sedikitnya 49 orang dan melukai 58 lainnya pada Senin (28/9/2026). Demikian menurut kelompok tersebut dan seorang pejabat penyelamat.
Serangan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar bagian barat, itu menjadi yang terbaru dalam rangkaian serangan udara mematikan terhadap kelompok perlawanan pro-demokrasi dan kelompok bersenjata etnis di berbagai wilayah Myanmar.
Myanmar dilanda kekacauan sejak militer merebut kekuasaan dari pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi pada 1 Februari 2021. Kudeta itu memicu gelombang perlawanan luas.
Setelah pasukan keamanan menindak demonstrasi damai dengan kekuatan mematikan, banyak penentang pemerintahan militer memilih mengangkat senjata. Sejak saat itu, konflik meluas ke berbagai wilayah di negara tersebut.
Menurut Arakan Army, serangan pada Senin terjadi di Kyauktaw, sekitar 340 kilometer di sebelah barat Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar.
Arakan Army merupakan kelompok bersenjata etnis kuat yang berbasis di Rakhine dan menguasai Kyauktaw.
Rincian serangan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Dalam pernyataan yang dirilis Selasa (29/9) pagi, Arakan Army mengatakan sebuah jet tempur menjatuhkan dua bom di dekat pasar setempat sekitar tengah hari.
Serangan itu menewaskan pedagang, pembeli, dan orang-orang yang sedang melintas di sekitar pasar.
Kelompok tersebut mengatakan 58 orang lainnya terluka, termasuk 22 orang yang berada dalam kondisi kritis.
Arakan Army juga menyatakan akan segera mengambil langkah pembalasan terhadap pihak-pihak yang dinilai bertanggung jawab langsung atas serangan tersebut.
"Kami akan segera mengambil langkah pembalasan yang efektif terhadap individu dan organisasi yang secara langsung bertanggung jawab atas serangan udara yang disengaja dan telah menyebabkan korban dalam jumlah besar," demikian pernyataan kelompok itu.
Wai Hun Aung, pejabat senior penyelamat di Rakhine, mengonfirmasi jumlah korban kepada The Associated Press berdasarkan laporan petugas penyelamat di lokasi.
Ia mengatakan pasar tersebut merupakan pusat perdagangan grosir utama di kawasan itu dan didatangi pedagang serta pembeli dari berbagai wilayah di Rakhine.
"Ini merupakan salah satu serangan udara paling parah di Rakhine," ujarnya.
Foto dan video yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah bangunan terbakar, kendaraan rusak, serta bagian dari sebuah jembatan di dekat lokasi yang hancur.
Sebelumnya, militer menyatakan hanya menyerang sasaran militer yang sah dan menuduh kelompok-kelompok perlawanan melakukan aksi terorisme.
Arakan Army merupakan sayap militer dari gerakan yang memperjuangkan otonomi bagi etnis minoritas Rakhine dari pemerintah pusat Myanmar. Kelompok ini dikenal memiliki pasukan yang terlatih dan persenjataan yang kuat.
Arakan Army melancarkan ofensif di Rakhine pada November 2023. Sejak saat itu, kelompok tersebut telah merebut sebuah markas militer regional yang strategis serta menguasai 14 dari 17 wilayah administratif di negara bagian tersebut.
Militer Myanmar memberlakukan pembatasan ketat terhadap jalur perdagangan sejak pertempuran di Rakhine meningkat. Pembatasan itu memperburuk kelangkaan pangan di wilayah tersebut.
Pada Desember, serangan udara militer terhadap sebuah rumah sakit di Mrauk-U, Rakhine, menewaskan sedikitnya 34 orang dan melukai 80 lainnya.