Warta Ekonomi, Jakarta -
Industri multifinance Indonesia menunjukkan kemampuan adaptasi dan resiliensi di tengah dinamika perekonomian yang terus berubah. Kondisi tersebut menjadi salah temuan utama dalam Indonesia Best Multifinance Awards 2026 yang mengusung tema “Resilience in a Shifting Economic Landscape”.
Penghargaan yang diselenggarakan oleh Warta Ekonomi ini diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap perusahaan multifinance yang mampu mempertahankan kinerja, memperkuat strategi bisnis, mendorong inovasi, serta memberikan kontribusi terhadap ekosistem pembiayaan dan perekonomian nasional.
CEO sekaligus Pemimpin Redaksi Warta Ekonomi, Muhamad Ihsan, mengatakan penghargaan ini tidak semata-mata melihat capaian finansial perusahaan, tetapi juga menilai bagaimana perusahaan membangun ketahanan bisnis dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat serta industri.
“Melalui Indonesia Best Multifinance Awards 2026, kami tidak hanya memberikan apresiasi, tetapi juga ingin meneguhkan komitmen bersama bahwa industri pembiayaan harus terus menjadi motor penggerak inklusi keuangan dan pembangunan ekonomi nasional,” ujar Muhamad Ihsan dalam sambutannya, Senin (30/8/2026).
Sebagai informasi, sektor pembiayaan hingga Juni 2026 masih menunjukkan pertumbuhan. Piutang pembiayaan perusahaan multifinance mencapai Rp511,26 triliun, tumbuh 1,88% secara tahunan. Salah satu pendorongnya adalah pembiayaan modal kerja yang tumbuh lebih tinggi, yaitu 6,36%.
Pertumbuhan tersebut juga dibarengi dengan risiko yang relatif terjaga. NPF gross turun menjadi 3,01%, NPF net menjadi 0,81%, dan gearing ratio tetap 2,14 kali—jauh di bawah batas maksimum 10 kali.
Pada kesempatan sama, Presiden Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) periode 2026–2029, Hanif Sjahbandi, menilai industri multifinance saat ini menghadapi jalan pertumbuhan yang tidak mudah.
Menurutnya, industri tetap memiliki target pertumbuhan, namun kondisi pasar dan perekonomian membuat perusahaan pembiayaan harus semakin selektif dalam menjalankan ekspansi.
“Kalau perusahaan pembiayaan mempunyai target tumbuh 6–8 persen, tentu dasarnya adalah arahan OJK dan apa yang diinginkan pemerintah. Kalau digabung, angka 6–8 persen itu bagus sekali. Enam sampai delapan persen adalah jalan menuju kesuksesan. Masalahnya, jalan menuju ke sana penuh kerikil atau tidak?,” ujar Hanif.
Menurut Hanif, tekanan terhadap industri bahkan telah mulai terasa sejak 2025 dan berlanjut pada 2026. Karena itu, kata dia, kemampuan industri untuk bertahan dan beradaptasi menjadi semakin penting.
“Situasi industri pembiayaan yang kita hadapi saat ini memang sangat tidak mudah. Tetapi kita tetap harus resilience. Sebanyak 144 perusahaan tetap memiliki fokus dan berjalan sesuai arahnya masing-masing, baik di pembiayaan alat berat, modal kerja, multiguna, maupun segmen lainnya,” katanya.
Indikator Penilaian
Lebih lanjut, Muhamad Ihsan menuturkan Indonesia Best Multifinance Awards 2026 dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni desk research dan media monitoring.
Desk research berfokus pada analisis kinerja keuangan perusahaan multifinance, sedangkan media monitoring digunakan untuk melihat kontribusi dan eksistensi perusahaan melalui pemberitaan.
Penilaian media monitoring mencakup tiga indikator utama, yaitu kontribusi terhadap stabilitas ekonomi, transformasi digital dan inovasi, serta customer experience dan literasi keuangan.
Dari total 144 perusahaan multifinance, riset dilakukan terhadap 108 perusahaan yang dipilih berdasarkan kinerja keuangan positif atau perusahaan yang tercatat membukukan laba.
Dalam menentukan batas skor pada desk research, Warta Ekonomi menggunakan pendekatan Growth Threshold sebagai titik referensi penilaian.
Tingkat pertumbuhan dibagi ke dalam beberapa kategori berdasarkan ambang batas yang telah ditetapkan.
Pendekatan tersebut dipilih karena memberikan batas penilaian yang lebih tegas dan mudah diinterpretasikan dibandingkan penilaian yang hanya menggunakan rata-rata atau distribusi data. Dengan demikian, hasil penilaian diharapkan tidak terlalu dipengaruhi perubahan ekstrem pada kelompok perusahaan yang dinilai.
Berdasarkan total aset, 108 perusahaan yang diteliti dibagi ke dalam enam kategori. Sebanyak 4 perusahaan (3,70%) memiliki aset di atas Rp30 triliun, 9 perusahaan (8,33%) memiliki aset Rp10–30 triliun, 11 perusahaan (10,19%) memiliki aset Rp5–10 triliun, 38 perusahaan (35,19%) memiliki aset Rp1–5 triliun, 8 perusahaan (7,41%) memiliki aset di bawah Rp1 triliun, serta 38 perusahaan (35,19%) memiliki aset di bawah Rp500 miliar.
Baca Juga: Porsi Pembiayaan Produktif Multifinance Turun Jadi 44,47%
Baca Juga: Bisnis Pembiayaan Mulai Berat, Piutang Multifinance Tumbuh Tipis 1,88%
Dari sisi pertumbuhan aset, sebanyak 46 perusahaan atau 42,59% mencatat pertumbuhan di atas 6%. Sementara itu, 32 perusahaan atau 29,63% mengalami penurunan aset dan 18 perusahaan atau 16,67% tumbuh di bawah 6%.
Kondisi ini menjadi semakin menarik karena secara industri, sepanjang 2025 total aset industri multifinance mengalami kontraksi sebesar 0,01%. Dengan demikian, perusahaan yang mampu mencatat pertumbuhan aset di atas 6% menunjukkan kemampuan ekspansi yang relatif kuat.
Meski demikian, pertumbuhan aset tetap perlu dilihat bersama kualitas aset, kecukupan permodalan, serta kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko.
Hampir Separuh Perusahaan Mencatat Pertumbuhan Pendapatan di Atas 6%
Dari sisi pendapatan, 46 perusahaan atau 42,59% mencatat pertumbuhan di atas 6%. Sebanyak 18 perusahaan atau 16,67% tumbuh antara 3% hingga di bawah 6%, sementara 32 perusahaan atau 29,63% mencatat pertumbuhan di bawah 3%.
Pertumbuhan tersebut juga menunjukkan masih adanya ruang ekspansi pada sejumlah segmen pembiayaan. OJK mencatat pembiayaan modal kerja tumbuh 10,06% pada Desember 2025, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan yang sebesar 0,61%.
Dari sisi laba, seluruh 108 perusahaan yang menjadi objek penelitian tercatat membukukan laba. Namun, 25 perusahaan atau 23,15% mengalami penurunan laba lebih dari 18%, sementara 11 perusahaan atau 10,19% mengalami penurunan laba antara 18% hingga di bawah 0%. Di sisi lain, lebih dari separuh perusahaan mampu meningkatkan laba.
Terlebih lagi, NPF gross industri perusahaan pembiayaan berada di level 2,51% pada Desember 2025 dan meningkat menjadi 2,72% pada Januari 2026. Oleh karena itu, pertumbuhan laba menjadi salah satu indikator penting dalam melihat apakah ekspansi perusahaan benar-benar menghasilkan pertumbuhan yang sehat dan efisien.
Warta Ekonomi juga melakukan media monitoring untuk melihat persepsi publik, reputasi, serta kontribusi perusahaan dalam mendorong transformasi industri multifinance.
Pada aspek kontribusi terhadap stabilitas ekonomi, sebanyak 65 perusahaan atau 60,19% telah menunjukkan kontribusi yang teridentifikasi melalui peran dalam mendorong pembiayaan sektor produktif, mendukung UMKM, serta membangun kemitraan strategis yang memperkuat ekosistem pembiayaan nasional.
Sementara itu, 43 perusahaan atau 39,81% belum ditemukan laporan atau rilis yang menunjukkan bentuk kontribusi tersebut.Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan multifinance telah memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menyalurkan pembiayaan.
Otoritas Jasa Keuangan mencatat pembiayaan industri multifinance kepada UMKM pada Maret 2026 mencapai Rp160,60 triliun, atau hampir 30% dari total piutang pembiayaan industri. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran industri pembiayaan dalam mendukung aktivitas ekonomi produktif.
Pada aspek transformasi digital dan inovasi, sebanyak 55 perusahaan atau 50,93% telah menunjukkan inisiatif transformasi atau inovasi yang teridentifikasi dalam satu tahun terakhir. Sementara 53 perusahaan atau 49,07% belum menunjukkan inisiatif yang cukup terlihat berdasarkan hasil desk research.
Digitalisasi telah mengubah berbagai tahapan proses pembiayaan, mulai dari credit scoring, onboarding, approval hingga collection. Namun, transformasi digital juga menghadirkan tantangan baru, termasuk potensi bias algoritma, perlindungan data, serta risiko pengambilan keputusan kredit yang terlalu cepat.
Pada aspek Customer Experience & Literasi Keuangan, sebanyak 74 perusahaan atau 68,52% menunjukkan adanya inisiatif transformasi atau inovasi yang teridentifikasi dalam satu tahun terakhir.
Sementara 34 perusahaan atau 31,48% belum ditemukan inisiatif yang relevan. Temuan tersebut menjadi sinyal positif bahwa perhatian perusahaan terhadap konsumen semakin besar.
Berikut Daftar Penerima Indonesia Best Multifinance Awards 2026
1. PT Atome Finance Indonesia — Indonesia Best Multifinance 2026 for Fostering Economic Empowerment through Financial Literacy and Inclusion
2. PT Tez Capital and Finance — Indonesia Best Multifinance 2026 for Strengthening Brand Positioning and Financial Literacy
3. BCA Finance — Indonesia Best Multifinance 2026 for Attracting Customer Interest through Innovative and Interactive Promotion Program
4. PT Karunia Multifinance — Indonesia Best Multifinance 2026 for Creating Added Value through Positive Performance and Strategic Collaboration
5. PT Mandiri Utama Finance — Indonesia Best Multifinance 2026 for Maintaining Sustainable Growth through Financing Portfolio Optimization
6. PT Chandra Sakti Utama Leasing — Indonesia Best Multifinance 2026 for Consistent Performance Excellence through Financing Contributions and Service Innovation
7. PT Maybank Indonesia Finance — Indonesia Best Multifinance 2026 for Fostering Stable Growth through Sustainability Strategy Implementation
8. PT Indomobil Finance Indonesia — Indonesia Best Multifinance 2026 for Creating Impressive Profitability Growth and Funding Source Diversification
9. Bussan Auto Finance — Indonesia Best Multifinance 2026 for Maintaining Performance Momentum through Solid Synergy and Sustainability Commitment
10. Hino Finance Indonesia — Indonesia Best Multifinance 2026 for Enhancing Customer Experience through Digitalization and Loyalty Programs
11. PT Nusa Surya Ciptadana — Indonesia Best Multifinance 2026 for Providing Services Convenience through Digital Platform Utilization
12. PT Federal International Finance — Indonesia Best Multifinance 2026 for Strengthening ESG Commitment and Implementation to Create Positive Impacts
13. PT Asiatic Sejahtera Finance — Indonesia Best Multifinance 2026 for Recording Sustainable and Stable Performance
14. PT CIMB Niaga Auto Finance — Indonesia Best Multifinance 2026 for Strengthening Business Resilience through Agility and Prudent Risk Management
15. PT Buana Finance — Indonesia Best Multifinance 2026 for Strengthening Risk Mitigation through Business Expansion and Selective Financing Strategy
16. PT Sunindo Kookmin Best Finance — Indonesia Best Multifinance 2026 for Strengthening Sustainable Performance through Significant Financing Disbursement Growth
17. PT Artha Prima Finance — Indonesia Best Multifinance 2026 for Implementing Operational and Financial Management Strategies to Maintain Business Continuity
18. PT Moladin Finance Indonesia - Best Multifinance 2026 for Expanding MSME Financing Access through Inclusive Ecosyste.