Sejarah Hari Radio Nasional 11 September dan lahirnya RRI

2026/09/11

Jakarta (ANTARA) - Hari Radio Nasional diperingati setiap 11 September, bertepatan dengan berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945. Peringatan ini menjadi bagian dari sejarah panjang radio sebagai media informasi dan komunikasi di Indonesia.

Sejarah radio di Indonesia sendiri sudah dimulai jauh sebelum lahirnya RRI. Pada masa Hindia Belanda, sejumlah perkumpulan radio mulai berkembang dan menjadikan radio sebagai sarana hiburan, pendidikan, sekaligus penyebaran informasi.

Awal perkembangan radio di Indonesia

Salah satu tonggak awal sejarah radio di Indonesia adalah berdirinya Bataviase Radio Vereniging (BRV) di Batavia. Radio tersebut tercatat sebagai salah satu pelopor penyiaran radio di Indonesia dan kemudian diikuti berbagai organisasi radio lainnya.

Perkembangan radio semakin meluas dengan munculnya sejumlah perkumpulan penyiaran di berbagai daerah, seperti Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM), Solo Radio Vereniging (SRV), serta Mataramse Vereniging Voor Radio Omroep (MAVRO).

Pada masa pendudukan Jepang mulai 1942, aktivitas penyiaran radio berada di bawah pengawasan pemerintah militer Jepang. Radio kemudian digunakan sebagai salah satu sarana penyampaian informasi sekaligus propaganda.

Baca juga: Hari Radio Nasional, ini beda radio dan podcast

Lahirnya radio Republik Indonesia

Momentum penting dalam sejarah radio nasional terjadi setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Siaran radio Hoso Kyoku yang sebelumnya dikelola Jepang berhenti pada 19 Agustus 1945. Kondisi tersebut membuat masyarakat kehilangan salah satu sumber informasi penting mengenai perkembangan situasi setelah kemerdekaan.

Di tengah situasi tersebut, para tokoh yang sebelumnya aktif di dunia radio menyadari pentingnya memiliki stasiun radio yang dapat menjadi sarana komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Pada 11 September 1945 pukul 17.00, delapan orang perwakilan bekas Hoso Kyoku bertemu dengan pemerintah di bekas gedung Raad Van Indje, Pejambon, Jakarta. Mereka terdiri atas Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto, dan Maladi.

Pertemuan tersebut menghasilkan gagasan pembentukan Persatuan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai sarana komunikasi pemerintah dengan rakyat.

Pada malam harinya, perwakilan dari sejumlah stasiun radio di Jawa kembali mengadakan rapat. Dari rangkaian pertemuan tersebut, RRI resmi berdiri dengan Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum pertama.

Baca juga: Buku "Panggil Saya Mas Yos" diluncurkan pada Hari Radio Nasional

Radio menjadi media perjuangan

Pada masa awal kemerdekaan, radio memiliki peran strategis. Keterbatasan akses terhadap media informasi membuat radio menjadi salah satu sarana tercepat untuk menyampaikan perkembangan situasi kepada masyarakat.

RRI tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Radio digunakan untuk menyebarkan informasi mengenai kondisi bangsa sekaligus membangun semangat persatuan di tengah situasi politik dan keamanan yang belum stabil.

Peran tersebut membuat radio memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, terutama pada masa revolusi kemerdekaan.

Radio terus beradaptasi

Seiring perkembangan teknologi, dunia penyiaran radio mengalami perubahan. Radio yang dahulu hanya dapat didengarkan melalui perangkat penerima siaran kini dapat diakses melalui berbagai platform digital dan internet.

RRI juga terus berkembang sebagai lembaga penyiaran publik. Hingga saat ini, RRI tetap menjalankan fungsi penyiaran informasi dan menjadi salah satu media yang memiliki sejarah panjang di Indonesia.

Peringatan Hari Radio Nasional setiap 11 September pun menjadi momentum untuk mengingat perjalanan radio dari era perjuangan hingga era digital.

Sejarah tersebut menunjukkan bahwa radio bukan sekadar media hiburan. Sejak awal kemerdekaan, radio telah memainkan peran penting sebagai sarana komunikasi, penyebaran informasi, pendidikan, serta bagian dari perjuangan bangsa Indonesia.

Baca juga: Hari Radio Nasional: Sejarah suara yang menyatukan bangsa

Baca juga: Hari Radio Nasional: Transformasi digital dan relevansi radio

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.