Bagikan:
JAKARTA - Peneliti berhasil memicu proses pemulihan mirip tidur pada bagian tertentu otak tikus yang masih terjaga. Dalam tes daya ingat, rangsangan tersebut membantu mengurangi dampak kurang tidur.
National Institutes of Health atau NIH dikutip dari laman resminya Selasa, 21 Juli, menyebut tim peneliti memicu pola aktivitas khusus pada bagian kecil otak tikus. Pola itu meniru aktivitas yang biasanya muncul saat tidur non-rapid eye movement atau NREM.
“Pada dasarnya, kami memaksa satu bagian otak untuk tidur,” kata Chiara Cirelli, profesor psikiatri di University of Wisconsin-Madison yang menjadi penulis korespondensi penelitian.
Menurut Cirelli, bagian otak yang dirangsang dapat memperkuat ingatan dan memulihkan kemampuan belajar. Pada saat yang sama, bagian otak lainnya tetap sadar, waspada, dan terhubung dengan lingkungan.
Ia membandingkan proses tersebut dengan lumba-lumba yang dapat tidur menggunakan satu belahan otak pada satu waktu.
Tidur NREM merupakan fase tidur tanpa gerakan mata cepat dan mencakup sekitar 80 persen waktu tidur orang dewasa. Pada fase ini, otak menilai kembali hubungan antarsel saraf yang membentuk ingatan.
Hubungan penting dipertahankan untuk penyimpanan jangka panjang. Hubungan yang kurang diperlukan dikurangi agar tersedia ruang bagi informasi baru.
BACA JUGA:
Penelitian sebelumnya menunjukkan tikus dan manusia yang kurang tidur dapat mengalami aktivitas gelombang lambat pada bagian kecil otak meski masih terjaga. Gelombang lambat merupakan pola aktivitas otak yang menjadi ciri penting tidur NREM.
Namun, kemunculannya terlalu singkat dan tidak teratur sehingga kemungkinan belum cukup memberi manfaat. Para peneliti kemudian mencoba memicu pola serupa secara lebih lama dan terarah.
Mereka menggunakan implan kecil yang memancarkan cahaya serta modifikasi genetik pada sel saraf tikus. Rangsangan diberikan pada satu sisi otak selama 30 menit dengan pola bergantian antara aktif dan tidak aktif.
Saat tikus kemudian tidur, aktivitas gelombang lambat pada bagian otak yang telah dirangsang terlihat lebih rendah. Hal itu mengindikasikan bagian tersebut tidak lagi membutuhkan pemulihan saat tidur sebanyak sebelumnya.
Percobaan lanjutan menemukan manfaat itu bukan sekadar berasal dari menurunnya aktivitas sel saraf. Efek pemulihan justru bergantung pada pola aktivitas yang bergantian secara teratur.
Para peneliti kemudian menguji ingatan sentuhan, yakni kemampuan mengenali dan mengingat rangsangan melalui sentuhan. Kemampuan ini sangat dipengaruhi tidur.
Tikus kurang tidur yang mendapat rangsangan pada bagian otak yang mengatur gerakan dan memproses rangsangan sentuhan menunjukkan hasil hampir sama dengan tikus yang cukup istirahat.
Sebaliknya, tikus kurang tidur tanpa rangsangan menunjukkan hasil jauh lebih buruk.
Temuan tersebut masih berasal dari penelitian pada hewan dan belum dapat diterapkan langsung kepada manusia. Metode ini juga tidak berarti tidur dapat digantikan dengan rangsangan otak.
Cirelli berencana meneliti kemungkinan menghasilkan efek serupa pada manusia melalui rangsangan transkranial. Teknologi itu memberi rangsangan dari luar kepala dan tidak seintensif metode yang digunakan pada tikus.
“Penelitian ini semakin menjelaskan mengapa kita tidur dan bagaimana kita belajar,” kata Amy Bany Adams, penjabat Direktur National Institute of Neurological Disorders and Stroke atau NINDS, lembaga di bawah NIH yang mendanai penelitian tersebut.
Menurut Adams, temuan itu dapat membantu penelitian lanjutan mengenai pencegahan dan penanganan penurunan kemampuan berpikir.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+