Satgas Karhutla Natuna siapkan ambulans di lokasi kebakaran
Sabtu, 5 September 2026 17:26 WIB
Ambulans siaga saat operasi pemadaman kebakaran di Kecamatan Bunguran Batubi, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/Muhamad Nurman
Natuna (ANTARA) - Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, menyiagakan satu unit ambulans di lokasi kebakaran guna mengantisipasi dampak kesehatan bagi petugas pemadam maupun masyarakat sekitar.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Natuna, Zulheppy, di Natuna, Sabtu, mengatakan ambulans selalu siaga mendampingi Satgas saat operasi pemadaman karhutla berlangsung.
"Kehadiran ambulans ini bertujuan untuk memberikan pertolongan medis darurat kepada petugas yang mengalami kelelahan atau paparan asap saat pemadaman, serta bagi warga sekitar yang membutuhkan," kata Zulheppy.
Ia menjelaskan, pada Jumat (4/9) telah terjadi kebakaran di Kecamatan Bunguran Batubi. Satgas kata dia, berhasil menjinakkan api pada Sabtu dini hari.
Satgas Karhutla mencatat peristiwa itu telah menghanguskan lahan seluas 20 hektare, meski demikian tidak ada korban jiwa.
Ia menjelaskan maraknya titik api yang terus bermunculan sejak 1 hingga 5 September 2026 memaksa Satgas memprioritaskan pemadaman di area lahan yang berdekatan langsung dengan permukiman warga di wilayah Kecamatan Bunguran Batubi.
Hal itu dilakukan mengingat keterbatasan peralatan pemadaman yang dimiliki.
"Kebakaran semalam berlangsung hingga Sabtu dini hari, petugas kembali ke satuan sekitar hampir pukul tiga dini hari," ucapnya.

Menurut dia, akibat karakteristik lahan gambut dan sisa kayu yang belum sepenuhnya padam, sejumlah titik api kembali bermunculan pada Sabtu siang di Kecamatan Bunguran Batubi dan telah membakar lahan seluas 1-2 hektare.
Bara api yang tersisa di bawah tanah dan pada tunggul kayu dengan cepat menyala kembali setelah tertiup angin kencang.
Ia menyebutkan pemadaman ditempuh lewat berbagai metode, dari pengoperasian mesin pemadam kapasitas besar dan kecil hingga cara manual memukulkan dahan berdaun ke titik api.
"Kendala utama kami saat ini adalah keterbatasan peralatan, terutama panjang selang pemadam yang hanya mencapai maksimal 270 meter. Kami belum memiliki pasokan selang tambahan untuk menjangkau titik api yang lebih masuk ke dalam hutan," kata Zulheppy.
Pewarta : Muhamad Nurman
Editor:
Ogen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.