Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mencatat timbulan sampah di ibu kota mencapai sekitar 9.059 ton per hari. Hampir separuh dari jumlah tersebut merupakan sampah organik yang didominasi sisa makanan atau food waste.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin mengatakan, tingginya volume sampah sisa makanan menjadi tantangan besar dalam sistem pengelolaan sampah perkotaan. Pengurangan food waste dari rumah tangga maupun tempat usaha dinilai menjadi langkah penting untuk menekan beban pengelolaan sampah.
"Semakin sedikit makanan yang terbuang, semakin kecil pula volume sampah yang harus dikumpulkan, diangkut, dan diolah. Karena itu, pengurangan sisa makanan harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat Jakarta," kata Dudi dalam keterangannya, dikutip Sabtu (25/7/2026).
Dudi menjelaskan, pengurangan sisa makanan akan berdampak langsung pada berkurangnya volume sampah yang harus ditangani pemerintah setiap hari, mulai dari proses pengumpulan, pengangkutan, hingga pengolahan.
Masyarakat dapat berkontribusi melalui langkah sederhana, seperti merencanakan belanja sesuai kebutuhan, mengambil makanan secukupnya, menghabiskan makanan, mengolah kembali bahan pangan yang masih layak dikonsumsi, serta memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
"Sampah sisa makanan yang terus meningkat memberikan beban besar terhadap sistem pengelolaan sampah perkotaan. Karena itu, pengurangannya harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari dalam mengelola pangan," ungkap Dudi.
Saat ini, Pemprov DKI menggulirkan Gerakan Warga Jakarta Bijak Pangan yang dipadukan dengan Gerakan Pilah Sampah. Melalui program tersebut, warga diajak merencanakan konsumsi, mencegah makanan terbuang, memanfaatkan bahan pangan yang masih layak, serta memilah sampah sejak dari sumber.
Dudi mengatakan, gerakan tersebut dilaksanakan bersama Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) dengan melibatkan komunitas serta pelaku usaha di sektor hotel, restoran, dan katering (HORECA).
"Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan," katanya.
Sementara itu, Executive Director IBCSD Indah Budiani mengatakan Gerakan Warga Jakarta Bijak Pangan bertujuan mengubah cara pandang masyarakat bahwa sisa makanan merupakan persoalan yang dapat dicegah melalui perubahan kebiasaan sehari-hari.
"Masyarakat dapat menerapkan kebiasaan sederhana, seperti merencanakan belanja sesuai kebutuhan, menyimpan pangan dengan benar agar lebih tahan lama, mengolah kembali makanan yang masih layak, hingga menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan," kata Indah.
Ia menilai perubahan kebiasaan di tingkat rumah tangga akan memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten oleh jutaan warga Jakarta. Selain mengurangi timbulan sampah, pengelolaan pangan yang bijak juga dinilai mampu menghemat pengeluaran rumah tangga sekaligus memperkuat kepedulian sosial.
"Melalui keterlibatan pemerintah, masyarakat, komunitas, dan dunia usaha, jumlah sisa makanan yang berakhir menjadi sampah dapat terus ditekan sejak dari sumber," tandasnya.