Rusia Tawarkan Satelit dan AI ke Indonesia, Pengamat Ingatkan Jangan Cuma Jadi Pengguna

2026/10/02

Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Pemerintah Federasi Rusia menjajaki kerja sama teknologi satelit dan kecerdasan artifisial (AI) untuk mendukung transformasi digital dan memperluas akses digital di Indonesia.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo mengatakan pemerataan infrastruktur digital menjadi bagian penting dari transformasi digital Indonesia, mengingat luas wilayah dan kebutuhan konektivitas masyarakat.

"Visi kami untuk transformasi digital juga demikian. Kami ingin membangun infrastruktur digital yang adil untuk semua orang. Indonesia adalah negara yang sangat besar," ujar Angga dalam pertemuan dengan delegasi Rusia di Kantor Komdigi, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).

Dalam pertemuan tersebut, delegasi Rusia memaparkan peluang pemanfaatan teknologi satelit, termasuk penyediaan sistem administrasi dan perangkat penerima di Indonesia serta akses terhadap data satelit. Delegasi Rusia menyebut jaringan yang dipaparkan mencakup 98 satelit dan perusahaan terkait meluncurkan sekitar 16 satelit setiap tahun.

Pembahasan juga mencakup peluang kerja sama dengan perusahaan satelit Indonesia, termasuk BUMN, serta program pendidikan dan pembangunan laboratorium di Indonesia. Program tersebut ditawarkan agar mahasiswa dapat mempelajari dan mengoperasikan satelit secara langsung. Selain satelit, AI turut dibahas untuk pendidikan dan penguatan literasi digital masyarakat.

Penjajakan tersebut mendapat perhatian dari pengamat yang menyoroti aspek teknologi, keamanan, kedaulatan data, diversifikasi pemasok, serta transfer teknologi ke industri dan sumber daya manusia dalam negeri.

Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menilai teknologi satelit berpotensi membantu Indonesia memperluas konektivitas, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Namun, menurutnya, jenis teknologi yang ditawarkan Rusia perlu diperjelas, termasuk kemampuan dan posisinya dibandingkan teknologi satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO) yang telah tersedia.

"Saya tidak mengerti teknologi satelit apa yang dimaksudkan. Kalau mengacu pada LEO itu kan Starlink dan ada teknologi China. Apakah dari Rusia ada sejenis LEO?" kata Alfons kepada Warta Ekonomi, Jumat (2/10/2026).

Menurut Alfons, jika teknologi yang ditawarkan merupakan LEO dengan kemampuan memadai, penyedia alternatif dapat menjadi pilihan tambahan bagi Indonesia. Namun, ia menilai teknologi satelit tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem konektivitas nasional dan tidak menggantikan kebutuhan terhadap backbone nasional.

"LEO itu hanya sementara dan backbone utama tetap harus koneksi siber yang bisa dikontrol pemerintah," katanya.

Alfons juga menyoroti aspek kedaulatan data. Menurutnya, Indonesia perlu memiliki kemampuan untuk mengontrol infrastruktur dan arus data yang digunakan dalam layanan strategis.

"Jadi jangan beranggapan kalau pakai LEO lalu tugas menghubungkan 3T sudah selesai. Itu kedaulatan data tidak terkontrol kalau pakai LEO karena tinggal dibelokkan dan kita tidak memiliki kuasa memaksakan atau membatasi hal ini jika terjadi," ujarnya.

Karena itu, Alfons menilai kerja sama dengan Rusia dapat ditempatkan sebagai bagian dari diversifikasi infrastruktur konektivitas, bukan pengganti fiber optik maupun jaringan seluler.

"Kerja sama ini sangat strategis bukan sebagai pengganti fiber optik, melainkan sebagai langkah diversifikasi politik dan teknologi," katanya.

Menurut Alfons, Indonesia juga perlu memastikan kerja sama menghasilkan alih teknologi dan peningkatan kemampuan teknis di dalam negeri, bukan hanya pembelian perangkat atau penggunaan layanan.

"Ini khususnya teknologi satelit LEO yah karena Rusia kan berjanji ada alih teknologi dan Indonesia harusnya dalam waktu yang telah ditentukan harus bisa meluncurkan LEO sendiri, itu baru namanya alih teknologinya benar dijalankan dan berhasil," kata Alfons.

Selain satelit, Alfons menyoroti keamanan penggunaan AI yang memproses data melalui infrastruktur eksternal. Ia menyarankan pemerintah mempertimbangkan local AI atau model open-weight untuk kebutuhan yang memerlukan kontrol lebih besar terhadap data.

"Indonesia harus bisa mengembangkan local AI atau versi open weight AInya sendiri yang mengelola data orang Indonesia dan tidak tergantung pada server di luar negeri," ujarnya.

Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC) Pratama Persadha mengatakan kerja sama Indonesia-Rusia perlu ditempatkan dalam kerangka kepentingan strategis nasional.

Menurutnya, satelit dapat mendukung konektivitas di wilayah yang sulit dijangkau infrastruktur terestrial, sedangkan AI dapat digunakan untuk pengolahan data, layanan digital, riset, pendidikan, dan berbagai sektor lainnya.

"Namun, manfaat tersebut harus diimbangi dengan perlindungan kedaulatan data, kemandirian teknologi, serta keamanan infrastruktur strategis nasional," ujar Pratama saat dihubungi Warta Ekonomi, Jumat (2/10/2026).

Pratama menilai keterlibatan perusahaan Indonesia penting agar kerja sama tidak hanya menciptakan pasar bagi produk asing. Industri domestik perlu mendapat ruang dalam pengembangan, integrasi, pemeliharaan, hingga riset teknologi.

Hal serupa berlaku pada pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, program pendidikan dan pembangunan laboratorium yang ditawarkan Rusia dapat diarahkan untuk meningkatkan kemampuan talenta Indonesia dalam jangka panjang.

Baca Juga: Komdigi Jajaki Kerja Sama Satelit dan AI dengan Rusia

Baca Juga: RI Beli Minyak Rusia, Trump Pegang Senjata Tarif 100 Persen: Indonesia Bisa Kena?

Di sisi keamanan, Pratama mengatakan teknologi yang masuk ke Indonesia perlu memiliki mekanisme pengamanan, audit, dan pengawasan untuk mengantisipasi risiko terhadap infrastruktur strategis dan data nasional.

Ia juga menyoroti risiko ketergantungan terhadap satu negara atau penyedia teknologi. Menurutnya, diversifikasi pemasok dapat dipertimbangkan untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok, perubahan kebijakan, pembatasan akses komponen, maupun perubahan hubungan geopolitik.

Sementara itu, Komdigi menyatakan penjajakan Indonesia-Rusia tersebut masih menjadi pijakan awal untuk mengidentifikasi bidang kerja sama yang relevan. Tindak lanjut yang dibahas mencakup teknologi satelit, AI, riset dan inovasi, serta pengembangan talenta digital.