Rupiah Perkasa di Tengah Gejolak Timur Tengah, Ditutup Menguat 82 Poin

2026/07/16

"Indeks dolar AS mengalami pelemahan setelah data inflasi produsen Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga acuannya, sehingga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Kamis (16/7/2026).

Baca Juga: Kurs Dolar ke Rupiah Hari Ini 16 Juli: Rupiah Dekati Rp18.005!

Ibrahim menjelaskan, indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) AS pada Juni secara tak terduga turun 0,3% secara bulanan, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan tidak mengalami perubahan. Data tersebut melanjutkan tren inflasi konsumen AS yang sebelumnya juga menunjukkan perlambatan.

Meski demikian, Ibrahim menilai sentimen positif tersebut belum sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran pasar. Investor masih mencermati meningkatnya risiko geopolitik setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas.

"Perhatian investor kini lebih tertuju pada meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah naik selama empat hari berturut-turut. Kenaikan harga energi berpotensi kembali memicu inflasi global sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed tetap terbatas," ujarnya.

Ia menambahkan, Amerika Serikat dilaporkan kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Presiden Donald Trump juga menyatakan akan meningkatkan operasi militer hingga Iran menghentikan serangan terhadap jalur pelayaran komersial dan kembali membuka Selat Hormuz.

Di sisi lain, sejumlah pejabat Federal Reserve masih mempertahankan sikap hati-hati. Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen bank sentral AS untuk mengembalikan inflasi menuju target 2%, serta membuka peluang penyesuaian suku bunga apabila tekanan harga kembali meningkat.

Sementara itu, dari dalam negeri, Ibrahim menilai kepercayaan pasar terhadap Indonesia masih terjaga. Pemerintah terus menyiapkan berbagai langkah untuk mengendalikan inflasi, terutama pada komoditas pangan bergejolak (volatile food) dan biaya produksi industri yang berpotensi mendorong kenaikan harga.

Baca Juga: Pasar Cermati APBN dan Konflik AS-Iran, Rupiah Ditaksir Melemah ke Kisaran Rp18.060 hingga Rp18.110

"Pemerintah saat ini fokus menjaga inflasi pangan dan mengantisipasi kenaikan biaya produksi, termasuk harga kemasan yang mulai memberikan tekanan terhadap harga produk makanan. Langkah tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga optimisme pasar terhadap ekonomi domestik," jelasnya.

Selain itu, pengakuan lembaga pemeringkat internasional terhadap independensi Bank Indonesia (BI) turut menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan nasional.

Menurut Ibrahim, laporan terbaru S&P Global Ratings yang tetap mempertahankan kepercayaan terhadap independensi BI menunjukkan kebijakan moneter Indonesia masih dinilai kredibel dalam menjaga stabilitas ekonomi.

"Penilaian positif dari S&P memperkuat keyakinan investor bahwa Bank Indonesia tetap memiliki ruang untuk menjalankan kebijakan moneter secara independen. Hal ini menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global," kata Ibrahim.

Pada penutupan perdagangan Kamis (16/7/2026), rupiah ditutup menguat 82 poin menjadi Rp17.986 per USD dibandingkan posisi sebelumnya Rp18.068 per USD. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat terapresiasi hingga 85 poin.