Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa sore, (21/7/2026). Penguatan rupiah terhadap dolar AS itu seiring meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia seiring defisit yang terkendali.
Mengutip Antara, kurs rupiah naik 60 poin atau 0,33% menjadi 17.888 per dolar AS dari sebelumnya 17.948 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak menguat di level Rp 17.909 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.976 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menuturkan, penguatan rupiah dipengaruhi meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.
"Rupiah ditutup menguat cukup besar terhadap dolar AS di tengah meredanya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia setelah pemerintah melaporkan defisit APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) sebesar 0,76 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto) hingga Juni serta mempertahankan proyeksi defisit APBN 2026 di bawah batas 3 persen dari PDB,” ujar dia.
Tercatat, pendapatan negara terhimpun sebesar Rp 1.459,4 triliun atau 46,3% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp 3.153,6 triliun.
Kinerja pendapatan negara ditopang oleh peningkatan aktivitas ekonomi, pengawasan dan tata kelola pajak dan bea cukai, serta peningkatan layanan kementerian/lembaga (K/L) dan badan layanan umum (BLU).
Penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp 1.187,8 triliun atau 44,1% dari target Rp 2.693,7 triliun. Rinciannya, penerimaan pajak terkumpul sebesar Rp 1.035,7 triliun (43,9 % dari target Rp 2.357,7 triliun) serta kepabeanan dan cukai Rp 152 triliun (45,2% dari target Rp 336 triliun).
Sementara penerimaan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp 271 triliun atau 59% dari target Rp 459,2 triliun.
Di sisi lain, belanja negara terealisasi sebesar Rp 1.656 triliun atau 43,1% dari target Rp 3.842,7 triliun, tumbuh sebesar 17,8% (yoy).