Rencana Gila Prancis, Pernah Ingin Sulap Gurun Sahara Jadi Laut Raksasa

2026/07/25

Jakarta -

Jauh sebelum teknologi geoengineering menjadi perbincangan, Prancis ternyata pernah memiliki rencana gila untuk mengubah sebagian Gurun Sahara menjadi laut buatan. Tujuannya bukan sekadar menciptakan jalur pelayaran baru, tetapi juga mengubah iklim gurun agar lebih lembap dan subur untuk pertanian.

Gagasan tersebut muncul pada akhir abad ke-19 ketika sejumlah insinyur dan penjelajah meyakini Sahara dapat 'dihidupkan kembali' dengan cara mengalirkan air laut ke wilayah cekungan yang berada di bawah permukaan laut. Mereka berharap keberadaan laut baru akan meningkatkan kelembapan udara, memicu curah hujan, dan membuat kawasan di sekitarnya menjadi lebih hijau.

Salah satu tokoh utama di balik proyek ini adalah François Élie Roudaire, perwira Angkatan Darat Prancis yang mempromosikan gagasan tersebut pada 1870-an. Bersama diplomat sekaligus insinyur terkenal Ferdinand de Lesseps, sosok yang membangun Terusan Suez, ia mengusulkan pembangunan kanal dari Teluk Gabès di pesisir Mediterania menuju cekungan Chott el Fejej di Tunisia selatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Air laut nantinya dibiarkan mengalir ke cekungan tersebut hingga membentuk laut pedalaman. Para pendukung proyek percaya keberadaan laut buatan akan mengubah pola cuaca Afrika Utara dan meningkatkan produktivitas lahan di sekitarnya.

Selain itu, laut baru juga diharapkan membuka jalur perdagangan dan pelayaran baru yang dapat menggerakkan ekonomi kawasan. Menurut berbagai perkiraan saat itu, biaya pembangunan mencapai sekitar USD30 juta, menjadikannya salah satu proyek rekayasa terbesar yang pernah dibayangkan pada abad ke-19.

Meski identik dengan Roudaire, ide menciptakan 'Laut Sahara' ternyata lebih dulu diusulkan insinyur Inggris Donald Mackenzie pada 1877. Mackenzie mengusulkan proyek yang lebih besar dengan mengalirkan air Samudra Atlantik ke Cekungan El Djouf, wilayah yang kini berada di Mauritania dan Mali.

Ia bahkan membayangkan laut buatan seluas sekitar 155.399 km persegi, lalu menghubungkannya dengan Sungai Niger melalui kanal tambahan. Pada masa itu, sebagian ahli geologi meyakini cekungan tersebut pernah terhubung dengan Atlantik sehingga rencana tersebut dianggap masuk akal.

Seiring survei lapangan semakin rinci, optimisme terhadap proyek mulai memudar. Para ilmuwan mempertanyakan apakah laut buatan benar-benar mampu meningkatkan curah hujan seperti yang dijanjikan. Sebagian bahkan memperingatkan kawasan yang digenangi air justru berpotensi berubah menjadi rawa luas yang menjadi tempat berkembang biaknya serangga dan penyebar penyakit.

Mengutip laporan Times of India, pemerintah Prancis kemudian memerintahkan survei lanjutan terhadap wilayah Tunisia. Hasilnya menunjukkan sebagian area yang hendak digenangi ternyata tidak sepenuhnya berada di bawah permukaan laut, sehingga pembangunan kanal menjadi jauh lebih rumit dan mahal dibanding perkiraan awal. Tanpa kepastian manfaat yang dijanjikan, pemerintah akhirnya menolak pendanaan dan proyek tersebut dihentikan.

Gagasan Laut Sahara sempat muncul kembali sekitar 1910 ketika profesor Prancis Etchegoyen mengusulkan pembangunan kanal yang lebih besar dan lebih dalam untuk mencapai tujuan serupa. Ia juga berpendapat laut buatan dapat mendukung pembangunan wilayah koloni Prancis di Afrika Utara.

Namun, untuk kedua kalinya pemerintah memilih tidak melanjutkan proyek tersebut. Meski tak pernah dibangun, konsep Laut Sahara menjadi salah satu contoh paling terkenal dalam sejarah geoengineering atau rekayasa lingkungan berskala besar.

Ide tersebut bahkan menginspirasi berbagai proyek ambisius lain pada abad ke-20, termasuk usulan Amerika Serikat dalam program Operation Plowshare yang sempat mempertimbangkan penggunaan ledakan nuklir untuk membantu mengalirkan air ke cekungan gurun.

Kini, rencana mengubah Sahara menjadi laut tinggal menjadi catatan sejarah. Namun, proyek tersebut menunjukkan bahwa jauh sebelum isu perubahan iklim menjadi perhatian global, manusia sudah membayangkan cara-cara ekstrem untuk mengubah bentang alam dan iklim Bumi.

(rns/rns)

TAGS

LIHAT LAINNYA