Relawan Karhutla Menyerah, Minta Bantuan Water Bombing di Tanjung Puting

2026/10/11

Kotawaringin Barat -

Tim relawan gabungan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kobar memutuskan menarik seluruh anggotanya dari kegiatan pemadaman di lapangan.

Mereka mendesak pemerintah segera mengerahkan water bombing untuk membantu memadamkan api yang mengancam kawasan hutan dan habitat orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).

Video pengunduran diri viral di media sosial. Keputusan penarikan personel itu diambil setelah sejumlah pihak menyepakati penghentian sementara upaya pemadaman di lapangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Relawan menilai penanganan yang telah dilakukan belum menunjukkan perubahan signifikan, sementara kemampuan mereka untuk memadamkan api secara langsung sudah mencapai batas.

Salah satu perwakilan YOHK-HPI Kobar, Moncos, mengatakan pihaknya memilih menarik diri sementara karena merasa upaya yang dilakukan selama ini belum diikuti dukungan yang memadai. Hal itu disampaikannya melalui video yang diunggahnya pada Minggu (11/10/2026).

"Untuk saat ini saya menarik diri dulu, karena kalau dilanjutkan percuma, tidak ada perubahan yang signifikan," kata Moncos saat dikonfirmasi detikKalimantan, Minggu (11/10/2026).

Menurut Moncos, kebutuhan mendesak saat ini adalah dukungan pemadaman dari udara melalui water bombing. Langkah tersebut dinilai perlu untuk membantu menjangkau titik api yang berada di zona inti kawasan hutan, terutama jika api sulit dikendalikan dengan metode pemadaman langsung oleh relawan.

"Kami minta cuma water bombing untuk membantu memadamkan api yang berada di zona inti," ujarnya.

Moncos menegaskan timnya telah berupaya semaksimal mungkin melakukan pemadaman di lapangan. Namun, keterbatasan kemampuan dan dukungan membuat mereka meminta pemerintah mengambil langkah lebih besar untuk menangani kebakaran yang terjadi.

"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin sampai di batas kemampuan kami. Makanya kami memohon pemerintah segera mendatangkan water bombing," katanya.

Luas kawasan terdampak diperkirakan mencapai sekitar 54 ribu hektare. Namun, angka tersebut masih berupa perkiraan dan belum dapat dipastikan sebagai luas lahan yang terbakar.

"Informasi saya kurang lebih 54 ribu hektare, bisa kurang dan bisa lebih, karena itu cuma perkiraan saja," terang Moncos.

----

Artikel ini sudah tayang di detikKalimantan.

(ddn/ddn)