Mataram (ANTARA) - Akademisi Universitas Mataram (Unram) Agus Purbathin Hadi menilai rekonstruksi Kampung Adat Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat pascakebakaran perlu menyeimbangkan kepentingan pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata.
"Jangan sampai setelah dibangun kembali Sade menjadi museum yang kehilangan kehidupan masyarakatnya. Kekuatan Sade justru terletak pada budaya yang masih hidup," ujarnya di Mataram, Jumat.
Agus mengatakan Kampung Adat Sade selama ini dikenal sebagai destinasi wisata budaya lantaran masyarakatnya masih mempertahankan berbagai tradisi Suku Sasak.
Menurut dia, proses rekonstruksi tidak cukup hanya berorientasi pada pembangunan kembali secara fisik, tetapi juga harus memastikan masyarakat tetap menjadi bagian utama dalam kehidupan pariwisata.
Konsep yang dapat diterapkan dalam pengembangan Sade adalah community-based cultural tourism, yakni pariwisata yang tumbuh dari budaya masyarakat dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat sebagai pemilik budaya.
Baca juga: Pakar menyarankan rekonstruksi Kampung Adat Sade bertumpu tiga pilar
Dalam konsep tersebut, imbuh Agus, masyarakat harus tetap menjadi aktor utama dalam pengelolaan dan pengembangan wisata Kampung Adat Sade, bukan sekadar menjadi objek yang ditampilkan kepada wisatawan.
"Yang harus kita bangun kembali dari Sade bukan hanya rumah yang terbakar, tetapi rasa memiliki masyarakat terhadap budayanya. Ketika masyarakat adat tetap menjadi pusat keputusan, maka bangunan yang berdiri kembali bukan hanya menjadi bangunan baru, tetapi menjadi kelanjutan sejarah dan peradaban Sasak," pungkas dia.
Sejumlah saksi mata menceritakan api pertama kali muncul dari salah satu rumah di tengah permukiman adat tersebut. Api kemudian merembet ke sejumlah rumah lainnya yang sebagian besar menggunakan bahan mudah terbakar, seperti kayu, bambu, dan ilalang.
Kampung Adat Sade merupakan salah satu kampung adat tertua di Pulau Lombok yang telah ada sejak abad ke-16 dan telah diwariskan selama 15 generasi.
Pewarta : Sugiharto Purnama dan Lyla
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026