Ratko Mladic, Sang Jagal Bosnia Meninggal di Penjara

2026/08/27

Mladic lahir pada 12 Maret 1942 di Kalinovik, wilayah yang ketika itu masih menjadi bagian dari Yugoslavia.

Ia lahir saat Perang Dunia II sedang berlangsung. Konflik tersebut sangat memengaruhi masa kecilnya karena ayahnya, Nedja Mladic, dibunuh oleh Ustasha.

Ustasha merupakan gerakan fasis Kroasia yang berkuasa di wilayah Yugoslavia yang diduduki dengan dukungan Nazi Jerman dan Italia Fasis. Rezim tersebut melakukan genosida terhadap orang Yahudi, Serbia, dan Roma.

Mladic kemudian menempuh pendidikan di akademi militer Tentara Rakyat Yugoslavia di Beograd. Ia lulus pada 1965, bergabung dengan Partai Komunis dan menjadi tentara profesional.

Karier Mladic memasuki babak baru setelah Yugoslavia pecah.

Di Bosnia, kelompok Serbia membentuk sebuah republik yang memisahkan diri. Mladic kemudian menjadi kepala staf angkatan bersenjata republik tersebut.

Pasukannya mendapat dukungan dan persenjataan dari pemimpin Serbia, Slobodan Milosevic.

Sebagai pemimpin militer, Mladic menjadi tokoh utama dalam kampanye pembersihan etnis terhadap penduduk Bosnia yang bukan etnis Serbia.

Ia secara langsung mengawasi pembunuhan dalam skala luas dan tanpa pandang bulu, deportasi, serta pemindahan paksa warga sipil.

Dari berbagai kekejaman yang membuatnya dinyatakan bersalah, dua peristiwa paling melekat pada nama Mladic adalah pengepungan Sarajevo dan pembantaian Srebrenica.

Kedua peristiwa tersebut menjadi simbol teror yang dialami penduduk muslim dan Kroasia di Bosnia selama perang.

Pada 1992, pasukan kelompok Serbia di Bosnia yang dipimpin Mladic mengepung Sarajevo dari daerah yang lebih tinggi di sekitar kota.

Penduduk Sarajevo yang berada di lembah terjebak selama hampir empat tahun. Mereka berulang kali menjadi sasaran tembakan artileri dan penembak jitu.

Lebih dari 10.000 orang tewas dalam pengepungan tersebut, termasuk banyak anak-anak.

Kekejaman lain terjadi pada Juli 1995 di Srebrenica, kawasan berpenduduk muslim yang telah ditetapkan PBB sebagai "zona aman".

Mladic memimpin serangan ke Srebrenica. Dalam beberapa hari, lebih dari 8.000 muslim, sebagian besar laki-laki dan anak lelaki, dibunuh.

Pembantaian tersebut menjadi kekejaman terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II.

Hakim ICTY Fouad Riad menyebut peristiwa di Srebrenica sebagai "pemandangan seperti neraka" yang tercatat dalam salah satu bab paling kelam sejarah manusia.

"Ribuan laki-laki dieksekusi dan dikuburkan di kuburan massal, ratusan laki-laki dikubur hidup-hidup, laki-laki dan perempuan dimutilasi dan dibantai, anak-anak dibunuh di depan mata ibu mereka, seorang kakek dipaksa memakan hati cucunya sendiri," tutur Riad ketika dakwaan terhadap Mladic diumumkan.