Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia menyatakan kesiagaan penuh dan akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi diri setelah militer Prancis menembakkan rudal balistik berkemampuan nuklir. Kremlin secara tegas memandang peluncuran senjata strategis tersebut sebagai pesan provokatif yang keras dan jelas bagi negaranya.
Mengutip Russia Today (RT), Kamis (08/10/2026), militer Prancis sukses menguji coba penembakan rudal balistik M51.3 dari kapal selam pada hari Selasa di Samudra Atlantik. Senjata yang merupakan varian baru dari keluarga rudal M51 berusia 16 tahun tersebut diluncurkan tanpa hulu ledak dan jatuh di Atlantik Utara, ratusan kilometer dari garis pantai manapun.
Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyaksikan langsung latihan militer tersebut memberikan peringatan tajam. "Ini adalah demonstrasi baru tentang kredibilitas pencegahan kami, dan pesan yang jelas ke mana pun ia harus diterima," tegasnya.
Menanggapi manuver tersebut, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov pada hari Rabu langsung melontarkan kritik keras terhadap sikap Barat yang dinilai semakin konfrontatif. Masalah, tegasnya, harus diselesaikan melalui dialog, bukan peluncuran rudal yang demonstratif.
"Eropa telah menjadi terobsesi dengan rencana untuk memiliterisasi Uni Eropa. Ini buruk karena mereka membangun identitas pertahanan dan keamanan mereka pada konfrontasi dengan Federasi Rusia. Ini adalah jalan buntu. Seperti yang ditunjukkan sejarah, ini tidak mengarah pada sesuatu yang baik," paparnya.
"Di tengah latar belakang tindakan agresif dan rencana semacam itu, Rusia bersiaga," pungkas Peskov.
Di luar AS, Prancis saat ini merupakan satu-satunya negara di NATO yang memiliki persenjataan nuklir independen. Arsenal pembunuh massal tersebut kini tengah dimodernisasi dan diperluas secara masif oleh Macron.
Prancis berencana untuk menghabiskan dana hingga US$ 8,3 miliar (Rp 147,74 triliun) khusus untuk pencegahan nuklir pada tahun 2026. Negara akan menambah anggaran pertahanan keseluruhan hingga 2030.
Sebagian besar dana raksasa ini akan dialokasikan untuk skema "pencegahan maju" yang kontroversial. Negara-negara seperti Belgia, Denmark, Finlandia, Jerman, Yunani, Belanda, Norwegia, Polandia, Swedia, dan Inggris berpotensi menampung senjata nuklir Prancis secara sementara dan ikut serta dalam latihan gabungan.
Merespons memanasnya perlombaan senjata di kawasan tersebut, Rusia yang memegang persenjataan nuklir terbesar di dunia memperingatkan bahwa pengerahan senjata atom di perbatasannya merupakan langkah nyata untuk meningkatkan ketegangan. Pernyataan ini dikeluarkan untuk menanggapi langkah parlemen Lithuania baru-baru ini yang mencabut larangan konstitusional untuk menampung senjata nuklir di wilayahnya.
Meskipun Lithuania belum menandatangani rencana pencegahan maju milik Prancis, Menteri Pertahanan Robertas Kaunas secara terbuka telah menyatakan minatnya untuk menampung armada nuklir Amerika di tanah Lithuania.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]