Di Kupang, Jokowi disematkan sebagai Saudara Raja Raja Timor oleh para raja dari sejumlah kerajaan di Pulau Timor, di antaranya Amanatun, Malaka, Amanuban, Mollo, Biboki, Bikomi Nilulat, Amfoang, Kupang, dan Amarasi. Dalam prosesi adat tersebut, Jokowi menerima tongkat dan kain adat sebagai simbol pengangkatan menjadi bagian dari keluarga besar kerajaan di Pulau Timor. Para tokoh adat menyatakan penghormatan itu diberikan sebagai bentuk apresiasi atas pembangunan yang mereka rasakan selama kepemimpinan Jokowi, khususnya di Nusa Tenggara Timur.
Sebelumnya, Kedatun Keagungan Lampung juga menganugerahkan gelar adat Baginda Pemuka Bangsa kepada Jokowi. Tokoh adat Lampung menyebut gelar tersebut merupakan penghormatan tertinggi yang diberikan atas pengabdian Jokowi selama memimpin Indonesia, sekaligus bagian dari tradisi muakhi yang mencerminkan persaudaraan, penghormatan, dan doa bagi seseorang yang dinilai berjasa.
Menurut Ahmad Ali, kedua peristiwa tersebut memperlihatkan pola yang sama. Penghormatan kepada Jokowi tidak lahir karena statusnya sebagai mantan Presiden. Melainkan karena masyarakat masih merasakan manfaat pembangunan yang telah dikerjakan selama satu dekade pemerintahannya.
Ia mencontohkan Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu daerah yang mengalami transformasi signifikan. Pembangunan bendungan Raknamo, Rotiklot, Napun Gete, dan Temef, penguatan infrastruktur jalan, pelabuhan, bandara, kawasan perbatasan, hingga pengembangan Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata kelas dunia menjadi bagian dari perubahan yang masih dirasakan masyarakat.
“Selama bertahun-tahun NTT sering dipandang sebagai daerah yang tertinggal. Pak Jokowi mengubah cara pandang itu dengan menghadirkan pembangunan yang nyata dan menempatkan Indonesia Timur sebagai bagian penting dari masa depan bangsa. Itulah mengapa kedatangannya hari ini bukan sekadar kunjungan seorang mantan Presiden, tetapi kunjungan seorang pemimpin yang pernah meninggalkan jejak pembangunan yang masih dirasakan masyarakat,” ujarnya.