REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Pembatasan baru terkait hijab di institusi pendidikan Republik Azerbaijan telah memicu reaksi di Iran setelah sebelumnya disambut protes di Turki. Mahasiswa dari Universitas Teheran melakukan protes dengan membentangkan spanduk di luar Kedutaan Besar Azerbaijan.
Sementara merujuk kantor berita WANA, Ayatollah Mohammad Javad Fazel Lankarani, seorang ulama terkemuka di Qom, mengecam pembatasan tersebut dan mendesak masyarakat Azerbaijan untuk melanjutkan protes mereka. Sementara itu, pengguna X mengkritik langkah tersebut dengan membagikan gambar dan video siswi serta guru di Azerbaijan yang mengenakan hijab.
Protes Mahasiswa Universitas Teheran Organisasi mahasiswa Basij Universitas Teheran merespons pembatasan hijab di sekolah dan universitas Azerbaijan dengan memasang spanduk di luar kedutaan besar negara tersebut, seraya mengaitkannya dengan kebijakan pelepasan paksa hijab yang pernah diterapkan di Iran pada masa pemerintahan Reza Shah Pahlavi.
Spanduk tersebut bertuliskan: "Konfrontasi terbuka dengan umat Islam pada akhirnya akan membuka jalan bagi Revolusi Islam."
Amir Mohammad Marzani, ketua organisasi mahasiswa Basij Universitas Teheran, mengatakan bahwa langkah tersebut bertujuan untuk menyuarakan penentangan mahasiswa Iran terhadap pembatasan baru itu. Merujuk pada kebijakan anti-hijab di masa pemerintahan Reza Shah, ia berpendapat bahwa tindakan menentang keyakinan agama suatu bangsa tidak mungkin dilakukan tanpa konsekuensi.
Ayatollah Mohammad Javad Fazel Lankarani, pimpinan Pusat Yurisprudensi Ahl al-Bayt dan anggota Asosiasi Pengajar Seminari Qom, turut mengecam pembatasan penggunaan hijab di institusi pendidikan Azerbaijan, serta mendesak pemerintah di Baku untuk belajar dari pengalaman era Pahlavi di Iran.
Menanggapi laporan mengenai pelarangan siswi berhijab di institusi pendidikan—yang memaksa mereka memilih antara mengenyam pendidikan atau mengenakan penutup kepala Islami—Fazel Lankarani menilai kebijakan tersebut tidak sejalan dengan identitas keagamaan sebagian besar masyarakat Azerbaijan.
Ia menegaskan bahwa hijab dan pendidikan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Ia juga menyatakan dukungannya terhadap aksi protes di Azerbaijan dan menyerukan kepada para demonstran untuk melanjutkan gerakan mereka. Selain itu, ia mendesak para pejabat Iran untuk menanggapi pembatasan tersebut dan menekan pemerintah Azerbaijan agar meninjau kembali kebijakannya.
Penentangan terhadap pembatasan hijab di Azerbaijan juga telah meluas di media sosial. Pengguna dari Iran maupun mancanegara telah membagikan gambar-gambar siswi yang dilaporkan dilarang masuk sekolah karena mengenakan hijab, sembari mengkritik aturan berpakaian yang baru tersebut.
Tema-tema utama dalam tanggapan mereka mencakup kebebasan berekspresi dalam beragama, kesetaraan akses pendidikan, serta pandangan bahwa hijab tidak bertentangan dengan prestasi akademik.
Seorang pengguna membagikan video yang memperlihatkan barisan siswi berhijab sedang menunggu di luar sekolah dan menggambarkan situasi tersebut sebagai tindakan diskriminatif; ia mempertanyakan apakah sekularisme berarti melarang, menekan, dan menghalangi akses pendidikan bagi anak perempuan.
Pengguna lain menyoroti apa yang mereka gambarkan sebagai solidaritas yang kian tumbuh antara perempuan yang mengenakan hijab dan mereka yang tidak mengenakannya di Azerbaijan. Pengguna tersebut mengunggah video yang memperlihatkan siswi tanpa hijab memberikan dukungan kepada teman sekelas mereka yang berhijab, serta menggambarkan solidaritas itu sebagai bentuk penentangan terhadap tindakan menghalangi siswa mendapatkan pendidikan hanya karena cara berpakaian mereka.
Pernyataan dari putri seorang veteran perang Nagorno-Karabakh juga menarik perhatian. Ia mengatakan ingin mengabdi kepada negaranya namun enggan meninggalkan keyakinannya demi tetap bekerja sebagai guru. Ia mempertanyakan bagaimana mengenakan penutup kepala dapat mengurangi rasa cinta seseorang terhadap tanah airnya.