Prof Syamsuddin Arif Ingatkan Bahaya Laten Ateisme di Kalangan Gen Z |Republika Online

2026/10/02

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT — Arus informasi digital dinilai membawa tantangan baru bagi ketahanan iman generasi muda Muslim. Ateisme kini tidak hanya hadir sebagai sikap hidup sekuler, tetapi juga sebagai konstruksi pemikiran yang menawarkan argumentasi filosofis, ilmiah, dan rasional yang mudah beredar melalui media sosial.

Guru Besar Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor, Prof Syamsuddin Arif, mengatakan fenomena tersebut perlu direspons serius oleh lembaga pendidikan Islam. Generasi muda, menurut dia, tidak cukup hanya dibekali doktrin keagamaan, tetapi juga kemampuan memahami dan menguji argumentasi yang mempertanyakan keberadaan Tuhan.

"Ateisme hari ini tidak bisa kita sederhanakan sebagai orang yang tidak mau shalat atau tidak percaya Tuhan karena malas. Ia adalah sebuah konstruksi pemikiran yang sistematis, yang punya logika, premis, dan kesimpulan. Maka melawannya tidak cukup dengan doktrin, harus dengan ilmu dan nalar kritis," kata Syamsuddin dalam kuliah umum di Institut Agama Islam Persatuan Islam (IAIPI) Garut, Jawa Barat, pada Selasa (30/9/2026).

Di hadapan ratusan mahasiswa dan dosen, mantan Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) itu mengatakan tantangan keimanan generasi hari ini semakin kompleks. Jika pada masa lalu tantangan lebih sering berkaitan dengan moral dan perilaku, kini sebagian tantangan masuk ke wilayah epistemologis, yakni mempertanyakan dasar pengetahuan dan alasan seseorang mempercayai Tuhan.

Menurut Syamsuddin, kondisi tersebut semakin penting diperhatikan karena anak muda hidup dalam ekosistem digital yang mempertemukan mereka dengan berbagai gagasan tanpa batas. Ateisme, agnostisisme, nihilisme, maupun relativisme moral dapat muncul setiap saat melalui video pendek, podcast, forum diskusi, maupun unggahan media sosial.

Ia menilai persoalan menjadi lebih serius ketika narasi tersebut tampil menggunakan bahasa sains dan logika. Tanpa bekal intelektual memadai, anak muda dapat menganggap sebuah argumen benar hanya karena disampaikan dengan istilah ilmiah atau dikemas secara meyakinkan.

Tujuh Pintu Argumen Ateisme

Syamsuddin memetakan sedikitnya tujuh bentuk argumentasi yang kerap digunakan dalam pemikiran ateisme kontemporer. Tujuh pendekatan itu adalah empirisisme, evidensialisme, evolusionisme, eternalisme, infinitisme, problem of evil atau persoalan kejahatan, serta agnostisisme.

Empirisisme, menurut dia, bertolak dari anggapan bahwa sesuatu dianggap ada hanya apabila dapat ditangkap pancaindra. Dari titik itulah muncul pertanyaan, jika Tuhan ada, mengapa manusia tidak dapat melihat-Nya?

Syamsuddin menilai argumentasi tersebut mengandung lompatan logika. Manusia, kata dia, dalam kehidupan sehari-hari mengakui banyak realitas yang tidak dapat dilihat secara langsung, tetapi keberadaannya diketahui melalui tanda atau akibat yang ditimbulkannya.

"Kita tidak pernah melihat gravitasi, energi listrik, akal, rasa sakit, cinta, atau bahkan bau itu sendiri. Tapi kita yakin ia ada karena kita melihat dampak dan tandanya. Prinsip yang sama berlaku untuk keberadaan Tuhan. Ketidakmampuan mata melihat bukan dalil ketiadaan," ujarnya.

Pendekatan kedua adalah evidensialisme, yakni tuntutan agar keberadaan Tuhan dibuktikan dengan bukti ilmiah dalam pengertian laboratoris. Syamsuddin menilai tuntutan tersebut berangkat dari penyempitan makna bukti hanya menjadi bukti empiris.

Dalam tradisi ilmu pengetahuan, kata dia, bukti dapat berbentuk rasional, logis, faktual, historis, kesaksian, pengalaman maupun tekstual. Karena itu, sesuatu yang tidak dapat diuji melalui laboratorium tidak otomatis dapat dinyatakan tidak ada.

"Harus dibedakan antara 'belum terbukti' dengan 'tidak ada'. Ketiadaan bukti bukanlah bukti ketiadaan. Ini kaidah logika yang paling dasar," katanya.