Prihatin Desa Adat Sade Ludes Terbakar, Turis Kanada Galang Dana Internasional

2026/08/24

Lombok Tengah -

Desa Adat Sade di Lombok Tengah hangus terbakar. Turis Kanada yang prihatin ingin membantu dan menggalang dana bantuan dari dunia internasional.

Puing-puing rumah adat Sade yang rata dengan tanah membuat Eli, turis asal Kanada begitu terpukul. Melihat kondisi kawasan cagar budaya yang hangus itu, Eli tergerak menggalang bantuan internasional untuk membantu pemulihan desa adat Sade.

Wanita berusia 26 tahun itu datang ke Sade, Lombok Tengah, bersama rekannya, Ray, pada Senin (24/8). Sehari sebelumnya, keduanya mengetahui kabar kebakaran hebat yang membumihanguskan puluhan rumah adat di Desa Sade melalui media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bule wanita ini sedih saat melihat langsung dampak kebakaran yang terjadi pada Sabtu (22/8) tersebut. Ia pun ingin membantu masyarakat Sade yang terdampak musibah.

"Kami berada di sini hari ini karena sangat ingin membantu kota ini dan masyarakatnya. Kami mencintai Indonesia dan warga di sini sangat ramah. Saya berharap bisa memulai kampanye melalui GoFundMe atau platform serupa untuk mengumpulkan dana dan meningkatkan kesadaran publik," ujar Eli diwawancarai di Sade, Senin (24/8/2026).

Bagi Eli, Desa Adat Sade memiliki nilai emosional tersendiri. Ia pernah berkunjung ke kawasan tersebut pada November tahun lalu dan menyaksikan langsung ketelitian para pengrajin kain tenun lokal.

Menurutnya, satu helai kain tradisional membutuhkan waktu pengerjaan hingga tiga bulan. Karena itu, kebakaran tersebut dinilai menjadi pukulan berat bagi perekonomian dan mata pencaharian keluarga di Dusun Sade, Lombok Tengah.

"Saya ke sini melihat kondisi rumah-rumah adat yang terbakar. Saya sedih melihatnya," ujar Eli.

Tak hanya ingin menggalang bantuan, Eli juga mengusulkan inovasi teknis dalam pembangunan kembali rumah-rumah adat yang ludes terbakar.

"Saya menilai struktur bangunan tradisional yang didominasi bahan alami membuat api menyebar sangat cepat," katanya.

Eli menyarankan pembangunan kembali rumah adat Sade memanfaatkan teknologi material modern yang lebih tahan api (fire-retardant).

Menurut dia, penggunaan material baru tidak harus menghilangkan arsitektur dan nilai estetika khas rumah adat Sasak. Identitas budaya lokal tetap perlu dipertahankan dalam proses rekonstruksi.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa terulang tanpa menghilangkan karakter budaya kawasan adat Sade.

"Sebagai wisatawan, saya tidak ingin melihat kejadian seperti ini terulang kembali. Saya berharap masyarakat Lombok dan pihak-pihak terkait dapat menemukan cara membangun kembali tempat ini menggunakan bahan yang lebih aman dan tahan lama," pungkasnya.

Kebakaran menghanguskan 75 rumah (sebelumnya disebut 129 rumah), dan 69 art shop (toko seni) milik warga desa adat Sade. Sejumlah fasilitas umum juga ikut terdampak antara lain satu unit masjid, empat berugak sekenam gazebo bertiang enam, enam berugak sekepat, hingga satu lumbung alang-alang.


---------

Artikel ini telah naik di detikBali.

(wsw/wsw)