Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah wartawan ke kediamannya di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk menjawab berbagai pertanyaan terkait isu pemerintahan dan kebijakan terkini.
Dalam sesi tersebut, Prabowo memberikan kesempatan kepada wartawan untuk mengajukan pertanyaan secara langsung mengenai sejumlah isu, mulai dari evaluasi kinerja pemerintah, penegakan hukum, hingga kebijakan ekonomi dan program prioritas pemerintah.
Sejumlah topik yang menjadi perbincangan yakni peluang reshuffle kabinet, alasan pembentukan Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), hingga gagasan pembentukan akademi khusus kepala daerah dan pejabat Kementerian.
Selain itu, Prabowo juga menanggapi hasil survei penurunan tingkat kepuasan publik terhadap pemerintah, risiko penerapan hukuman mati, dan komitmen pemberantasan korupsi. Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyinggung perkara korupsi di Badan Gizi Nasional (BGN) yang menjerat Dadan Hindayana.
Berikut sejumlah pernyataan Prabowo dalam sesi wawancara ‘Presiden Prabowo Menjawab’ yang disiarkan oleh kanal Youtube Prabowo Subianto:
Buka Peluang Reshuffle Kabinet
Presiden Prabowo Subianto membuka kemungkinan dirinya melakukan kocok ulang kabinet atau reshuffle menjelang dua tahun pemerintahannya. Prabowo juga mengatakan dirinya tengah melakukan evaluasi kinerja pembantunya.
Prabowo mengatakan, periode dua tahun merupakan waktu yang cukup bagi para menteri untuk menunjukkan kinerjanya. Dua tahun pemerintahan Prabowo akan jatuh pada bulan depan.
"Saya kira (pergantian) itu sesuatu yang logis. Dua tahun, jadi masing-masing sudah punya waktu untuk membuktikan kemampuannya dan sebagainya," kata Prabowo dalam tayangan sesi wawancara ‘Presiden Prabowo Menjawab’, dikutip dari kanal Youtube Prabowo Subianto pada Kamis (17/9).
Alasan Pembentukan DSI
Prabowo menjelaskan alasan pemerintah membentuk DSI untuk mengelola ekspor komoditas melalui skema satu pintu. Pemerintah menerapkan skema tersebut untuk mencegah praktik manipulasi nilai ekspor, seperti under-invoicing dan transfer pricing, yang dinilai merugikan negara.
Prabowo menyebut praktik tersebut menyebabkan kerugian negara hingga US$908 miliar atau sekitar Rp15 ribu triliun selama 34 tahun, sejak 1991 hingga 2024.
Melalui DSI, pemerintah akan memantau seluruh transaksi ekspor secara transparan dan menargetkan peningkatan penerimaan negara hingga 30%. "Dengan ekspor satu pintu dengan DSI, ini potensi bisa dapat peningkatan minimal 30% penghasilan," kata Prabowo.
Bentuk Akademi Khusus Pejabat
Prabowo mengatakan telah membentuk akademi khusus bagi kepala daerah hingga direktur jenderal kementerian/lembaga. Ia mengatakan akademi tersebut merupakan bagian dari pengembangan Universitas Republik Indonesia (URI) untuk memberikan pendidikan khusus bagi calon pemimpin pemerintahan.
Menurut Prabowo, pembentukan URI, pembaruan Lembaga Administrasi Negara (LAN), serta rencana akademi bagi pejabat pemerintahan merupakan bagian dari upaya memperkuat sistem pemerintahan dan menyiapkan sumber daya manusia yang profesional.
"Akademi Gubernur, Akademi Bupati, dan sebagainya mungkin di bawah URI juga. Dan juga mungkin Akademi Dirjen. Sebelum dia masuk jabatan harus digembleng," ujarnya.
Tanggapi Survei Turunnya Kepuasan Publik
Presiden Prabowo Subianto menanggapi penurunan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahannya. Prabowo mengatakan dirinya tetap akan menjalankan program-program pemerintah dan bekerja untuk kepentingan rakyat meski menghadapi risiko politik ke depan.
“Saya disumpah, menurut saya ini keyakinan. Nanti pada saatnya rakyat yang akan memutuskan apa saya dikasih mandat lagi atau tidak,” kata Prabowo.
Prabowo mengakui setiap kebijakan pemerintah memiliki risiko politik. Namun, dia mengatakan risiko tersebut tidak menjadi alasan untuk menunda pelaksanaan program prioritas pemerintah. Kebutuhan masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam mempercepat pelaksanaan sejumlah program pemerintah.
“Orang lapar itu enggak bisa nunggu lama. Orang (masih) lapar, kita berani masuk G20, saya pribadi tidak terima,” ujarnya.
Ingatkan Risiko Hukuman Mati
Prabowo turut menyoroti risiko penerapan hukuman mati dalam penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan luar biasa, termasuk kepada koruptor. Menurut Prabowo, hukuman mati memiliki konsekuensi yang tidak dapat diperbaiki apabila putusan tersebut ternyata keliru.
Prabowo mengatakan aparat penegak hukum harus memastikan kecukupan bukti sebelum menjatuhkan hukuman mati. “Ini masalah bukan soal koruptor, masalah siapa pun yang hukum mati," kata Prabowo.
Ia menilai kesalahan dalam menjatuhkan hukuman mati tidak dapat dikoreksi setelah proses eksekusi nantinya. "Padahal kadang-kadang buktinya enggak cukup. Bahkan banyak yang dihukum mati itu enggak bersalah,” ujarnya.
Ketua Umum Partai Gerindra itu berpendapat bahwa penegakan hukum terhadap perkara korupsi harus mengutamakan upaya mengembalikan kerugian negara dari tindak pidana korupsi.
Prabowo mengakui upaya mengembalikan uang hasil korupsi selama ini tidak mudah karena sebagian pelaku dapat melarikan diri ke luar negeri sehingga proses pengejaran membutuhkan kerja sama dengan negara lain.
Komitmen Berantas Korupsi
Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk tidak pandang bulu dalam pemberantasan korupsi. Dia mengatakan tidak akan memberikan kekebalan hukum terhadap pihak mana pun, termasuk orang terdekat.
Kepala negara lantas menyebut mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, sebagai salah satu contohnya. Sebelum mengepalai BGN, Dadan merupakan mantan anggota tim sukses dan tim pakar Prabowo di Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2024.
Prabowo menuturkan, ia tidak memberikan perlindungan hukum ketika Dadan terseret perkara rasuah. Sebaliknya, ia menyerahkan penanganan perkara Dadan kepada kejaksaan.
"Saya sudah buktikan. Pak Dadan itu tim sukses saya, tim pakar saya. Saya yang angkat (menjadi) kepala BGN. Saya juga yang serahkan ke kejaksaan," ujarnya.
Prabowo juga menyebut penyitaan aset Hotel Sultan sebagai bukti penegakan hukum tanpa pandang bulu. Prabowo tetap menjalankan proses hukum meski hotel tersebut dimiliki Pontjo Sutowo yang merupakan kawannya.