Balikpapan (ANTARA) - Kepolisian Daerah Kalimantan Timur mengoptimalkan penggunaan aplikasi Lembuswana untuk memperkuat sistem pemantauan dan percepatan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di seluruh wilayah Kaltim.
Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro di Balikpapan, Selasa, mengatakan bahwa aplikasi ini menjadi senjata kepolisian dalam mendeteksi dini kemunculan titik panas (hotspot).
"Dengan Aplikasi Lembuswana ini, kita bisa memantau hotspot di seluruh wilayah Kaltim secara real-time. Begitu lokasi titik panas diketahui, kami bisa segera melakukan tindak lanjut penanganan di lapangan," ujar Irjen Pol Endar Priantoro dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Kesiapan Pencegahan dan Penanganan Karhutla serta Antisipasi Fenomena El Nino yang digelar di Markas Polda Kaltim.
Melalui sistem ini, personel Bhabinkamtibmas yang berada di garda terdekat akan langsung dikerahkan ke titik koordinat yang terdeteksi. Tugas mereka adalah melakukan verifikasi faktual dan melaporkan kondisi riil di lapangan.
"Petugas akan melaporkan apakah benar terdapat titik api atau tidak. Termasuk status skalanya, apakah masuk kategori api kecil, sedang, besar, atau sudah berhasil dikendalikan," papar Kapolda.
Pada kesempatan itu, Irjen Pol Endar turut menunjukkan dasbor data Aplikasi Lembuswana yang saat itu mencatat persebaran titik panas di Kaltim, meliputi 9 hotspot hijau (aman/indikasi awal), 236 hotspot kuning (waspada), dan 25 hotspot merah (kritis/kebakaran aktif).
Kapolda menegaskan, jika titik api terpantau berada di kawasan konsesi tambang atau perkebunan, Polda Kaltim akan langsung menegur dan mengingatkan pihak manajemen perusahaan agar segera melakukan pemadaman mandiri.
Langkah tegas ini diambil demi komitmen bersama menjaga lingkungan Kaltim tetap hijau."Kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan harus kita pikul bersama. Ini harus diwujudkan melalui kerja sama yang kuat antar-lini," kata Kapolda.
Inisiasi digital dari Polda Kaltim ini mendapat apresiasi tinggi dari Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud. Menurutnya, langkah kolaboratif dan sinergis lintas instansi menjadi harga mati. Karhutla dan dampak cuaca ekstrem tidak akan bisa diselesaikan jika hanya mengandalkan satu atau dua lembaga saja.
Gubernur mengingatkan bahwa ancaman El Nino di Kaltim diprediksi akan berlangsung hingga September atau Oktober.
Fenomena alam ini berpotensi memicu kekeringan ekstrem, penurunan kualitas udara, krisis air bersih, hingga gangguan kesehatan masyarakat akibat asap.
"Dampak buruk Karhutla bukan hanya merusak ekosistem lingkungan dan kesehatan, tetapi juga bisa menjatuhkan citra serta nama baik daerah di kancah nasional maupun internasional," tutur Rudy.
Rudy juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas wilayah Kalimantan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
"Jangan sampai kabut asap lintas batas kembali menjadi isu diplomatik yang merugikan," ujar Rudy.
Gubernur meminta seluruh elemen, mulai dari Pemerintah Daerah, Polri, TNI, pelaku usaha, relawan, hingga masyarakat luas untuk menyatukan kekuatan dan membuang ego sektoral.
"Mudah-mudahan yang panas itu hanya cuacanya saja, bukan lahannya yang terbakar. Sebab, yang harus terus menyala dan membara adalah semangat kita semua untuk melayani masyarakat Kaltim," kata Rudy.
Aplikasi Lembuswana resmi diluncurkan Polda Kaltim pada 16 Desember 2021, setelah melalui simulasi sejak Maret 2021 sebagai pengembangan dari aplikasi "Lancang Kuning".
Untuk memperkuat penanganan Karhutla aplikasi ini mengintegrasikan pemantauan titik panas (hotspot) dengan sistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang didukung empat satelit pencitraan.
Pewarta: Arumanto
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.