Depok (ANTARA) - Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) melakukan observasi lapangan sebagai tahap awal pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat Skema Guru Besar (PkMGB) di Desa Wisata Rancakalong, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang yang mendorong digitalisasi promosi pariwisata berbasis QR Code dilaksanakan pada 13 Juni 2026.
Tim pengabdian dipimpin oleh Prof. Ina Sukaesih bersama dosen-dosen dari Jurusan Administrasi Niaga, Program Studi Bahasa Inggris untuk Bisnis dan Profesional (BISPRO).
"Melalui observasi lapangan, tim melakukan pemetaan kondisi eksisting serta mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi pengelola desa wisata," kata Ina Sukaesih dalam keterangannya, Senin.
Baca juga: PNJ dampingi UMKM Iwakula tingkatkan daya saing melalui branding digital
Hasil observasi menunjukkan masih terdapat sejumlah kendala yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah belum terintegrasinya sistem informasi pariwisata.
Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam mengidentifikasi kebutuhan mitra sebelum program pengabdian dilaksanakan. Desa Wisata Rancakalong dipilih karena memiliki potensi besar dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya dan ekonomi kreatif.
Kawasan ini menaungi lima desa wisata yang masing-masing memiliki kekayaan budaya, produk lokal, serta daya tarik wisata yang beragam.
Pada tahun ini, Tim PkMGB mengusung tema "Pengembangan Sistem Komunikasi Bisnis Pariwisata Berbasis QR Code dengan Konten Trilingual di Desa Wisata Rancakalong."
Baca juga: PNJ perkuat tata kelola kerja sama dan transformasi digital pendidikan dengan AI dan Google
Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola desa wisata dalam komunikasi bisnis multibahasa sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana promosi dan pengembangan ekonomi desa.
Informasi mengenai destinasi wisata, potensi budaya, produk unggulan, serta keunikan masing-masing desa masih tersebar dan umumnya disampaikan secara lisan atau melalui media yang terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan informasi belum terdigitalisasi secara optimal sehingga belum mampu menjangkau masyarakat maupun wisatawan secara luas.
Di bidang komunikasi bisnis, tim juga menemukan bahwa pelaku wisata dan pelaku UMKM masih didominasi penggunaan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia.
Baca juga: Masjid Daarul Ilmi PNJ dapat bantuan donasi Rp300 juta
Sementara itu, kemampuan berbahasa Inggris sebagai sarana komunikasi bisnis dan promosi kepada wisatawan mancanegara masih relatif terbatas. Padahal, penguasaan komunikasi multibahasa menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing destinasi wisata di era global.
Selain itu, pemanfaatan teknologi digital sebagai media promosi juga dinilai belum maksimal. Penggunaan QR Code, website, maupun platform digital lainnya masih sangat terbatas, sehingga promosi yang dilakukan belum mampu mengintegrasikan media daring dan luring secara efektif.
Akibatnya, potensi wisata dan ekonomi kreatif yang dimiliki Desa Wisata Rancakalong belum dapat dipromosikan secara optimal kepada pasar yang lebih luas, termasuk wisatawan internasional.
Melalui observasi ini, Tim PkMGB memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kebutuhan mitra sebagai dasar penyusunan program pengabdian yang tepat sasaran.
Program yang akan dikembangkan diharapkan mampu menghadirkan solusi melalui sistem komunikasi bisnis pariwisata berbasis QR Code dengan konten trilingual, sehingga informasi mengenai destinasi wisata, budaya, serta produk unggulan desa dapat diakses secara lebih mudah oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.
Selama kegiatan berlangsung, tim didampingi oleh Tatang Cahyana, Direktur BUMDesa RUSA EMAS Rancakalong, yang mengajak peserta berkeliling mengunjungi sejumlah lokasi wisata serta memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki kawasan tersebut.
Kegiatan juga diisi dengan diskusi bersama pengelola Kawasan Wisata Geo Theater Rancakalong untuk menggali kebutuhan, peluang pengembangan, serta bentuk kolaborasi yang dapat diwujudkan melalui program pengabdian.
Tatang Cahyana menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Politeknik Negeri Jakarta dalam mendampingi pengembangan Desa Wisata Rancakalong.
Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan desa wisata menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi sekaligus memperkuat daya saing pariwisata berbasis masyarakat.
"Kami berharap program ini dapat terlaksana sesuai rencana dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kerja sama antara kampus dan desa wisata diharapkan dapat terus berlanjut sehingga mampu mendorong pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan, khususnya di Desa Wisata Rancakalong," ujarnya.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Skema Guru Besar ini, Politeknik Negeri Jakarta menegaskan komitmennya untuk menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Sinergi antara dunia akademik dan masyarakat diharapkan mampu mempercepat transformasi digital sektor pariwisata sekaligus meningkatkan daya saing desa wisata menuju destinasi yang lebih modern, inklusif, dan berkelanjutan.
Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.