Banda Aceh (ANTARA) - Pusat kegiatan belajar masyarakat Rumah Baca Aneuk Nanggroe (PKBM Ruman) Aceh menggratiskan biaya sekolah sebanyak 33 peserta didik untuk jenjang taman kanak-kanak.
Pembina PKBM Ruman Aceh Ahmad Arif di Banda Aceh, Senin, mengatakan ada sebanyak 46 anak bersekolah di TK Ruman Aceh pada tahun ajaran 2026/2027.
"Dari 46 peserta didik tersebut, sebanyak 33 di antaranya bersekolah secara gratis. Biaya sekolah mereka ditanggung para donatur yang berbagi rezekinya Rp425 ribu per bulan per anak selama satu tahun ajaran," katanya.
Ahmad Arif mengatakan ada sebanyak 23 donatur yang membiayai biaya pendidikan 33 anak tersebut. Mereka dari keluarga dari fakir lulus survei untuk mendapatkan subsidi biaya pendidikan.
Donatur tetap tersebut, kata dia, tidak hanya berdomisili di Aceh, juga dari luar seperti Jawa Tengah, Banten, Yogyakarta dan Nusa Tenggara Barat. Termasuk beberapa diaspora Indonesia di Swiss, Uni Emirat Arab, Selandia Baru dan Australia.
"Bahkan ada warga negara Singapura, Malaysia dan Australia menjadi donatur. Alhamdulillah, terima kasih banyak kami sampaikan kepada para donatur atas kepercayaan kepada Ruman Aceh," katanya.
Menurut Ahmad Arif, di antara para donatur tersebut ada yang masih terus berbagi sejak tahun pertama TK Ruman Aceh 11 tahun lalu. Hingga kini, TK Ruman Aceh telah meluluskan 706 murid dalam masa 11 tahun ajaran
"Dari jumlah tersebut, sebanyak 531 anak berkategori tidak berbayar atau gratis. Sedangkan 122 anak berbayar sebagian atau subsidi dan 53 anak lainnya berbayar penuh," kata Ahmad Arif.
Sementara itu, Kepala TK Ruman Aceh Yusniar Agustina mengatakan pihaknya melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) kepada peserta didik yang berlangsung selama lima hari.
"MPLS pada tingkat taman kanak diprioritaskan pada belajar sembari bermain tanpa pembedaan perlakuan dan atau perundungan, sehingga anak merasa aman dan nyaman terhadap lingkungan barunya," katanya.
Yusniar mengatakan saat anak tiba di sekolah langsung disambut secara riang gembira oleh bunda guru. Kemudian, bunda guru memasangkan papan nama di seragam mereka gunakan.
Selanjutnya, mereka dituntun membuka sepatu dan meletakkannya pada rak sesuai nama masing-masing serta dibawa ke loker tas di depan kelas.
"Setelah itu, mereka ke halaman depan untuk bermain bersama. Ada yang menggambar, mewarnai, dibacakan buku oleh bunda guru dan menggunakan alat permainan edukatif luar ruangan seperti perosotan, terowongan dan lainnya," kata Yusniar.
Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.