Pintu kerja, jalan yang panjang - ANTARA News Jawa Timur

2026/09/15

Surabaya (ANTARA) - Papan pengumuman lowongan kerja selalu menghadirkan harapan. Di balik satu posisi yang ditawarkan, ada seseorang yang menunggu kesempatan, keluarga yang membutuhkan penghasilan, atau lulusan baru yang ingin menemukan pijakan pertama dalam kehidupan profesional.

Di Kota Surabaya, Jawa Timur, harapan itu kembali dibuka melalui "Mini Job Fair Surabaya Siap Kerjo" pada 16–17 September 2026. Pemerintah Kota Surabaya menyediakan 2.150 peluang kerja, terdiri atas 450 lowongan dalam negeri dan sekitar 1.700 peluang kerja luar negeri.

Pendaftaran dibuka secara daring mulai 16 September, sedangkan pelamar yang lolos seleksi administrasi dapat mengikuti wawancara pada 17 September.

Angka 2.150 tentu menarik perhatian. Apalagi jika dibandingkan dengan target Pemerintah Kota Surabaya menempatkan 8.838 tenaga kerja sepanjang 2026. Namun, jumlah lowongan tidak sama dengan jumlah penyerapan.

Lowongan hanyalah pintu masuk. Persoalan berikutnya adalah apakah pencari kerja benar-benar memperoleh pekerjaan, mampu bertahan, bekerja sesuai kompetensi, dan mendapatkan penghidupan yang layak.

Di sinilah persoalan ketenagakerjaan Surabaya menjadi lebih dalam.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angkatan kerja Surabaya pada Agustus 2025 mencapai 1,64 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka 4,84 persen, turun dari 4,91 persen pada 2024. Penurunan itu patut diapresiasi, tetapi belum cukup menjadi tanda bahwa persoalan ketenagakerjaan telah selesai.

Sebab, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya berapa banyak orang bekerja, melainkan pekerjaan seperti apa yang mereka dapatkan.


Mutu pekerjaan

Pada Agustus 2025, sekitar 948 ribu orang atau 60,73 persen penduduk bekerja di Surabaya berada dalam kegiatan formal. Persentase itu turun 1,09 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, 80,01 persen pekerja berada di sektor jasa dan 19,79 persen di sektor manufaktur.

Angka tersebut memperlihatkan perubahan struktur ekonomi kota. Perdagangan, makanan dan minuman, transportasi, pariwisata, teknologi informasi, pendidikan, kesehatan, hingga jasa profesional terus membutuhkan keterampilan baru.

Pemerintah Kota Surabaya bahkan melihat munculnya pekerjaan yang dahulu belum lazim, seperti pengelola media sosial dan pembuat konten untuk mendukung promosi usaha.

Perubahan itu membuka peluang, terutama bagi generasi muda. Namun, peluang baru juga menghadirkan persoalan lama dalam bentuk baru, yakni ketidakselarasan antara keterampilan pencari kerja dan kebutuhan dunia usaha.

Kementerian Ketenagakerjaan dalam Rencana Strategis 2025–2029 menempatkan ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri sebagai salah satu persoalan ketenagakerjaan.

Berdasarkan data BPS yang dikutip dalam dokumen tersebut, TPT lulusan SMK mencapai sekitar 9,01 persen pada Agustus 2024, sementara TPT pemuda usia 15–29 tahun mencapai 12,87 persen pada 2024.

Artinya, lowongan dapat tersedia, tetapi belum tentu bertemu dengan orang yang memiliki kompetensi sesuai.

Karena itu, job fair seharusnya tidak berhenti sebagai tempat mempertemukan perusahaan dan pelamar. Bursa kerja semestinya menjadi ruang membaca arah perubahan ekonomi kota.

Pemerintah memiliki data pencari kerja, dunia usaha mengetahui kebutuhan tenaga kerja, sementara sekolah dan perguruan tinggi memiliki gambaran kompetensi lulusan. Ketiganya perlu dipertemukan secara rutin.

Pelatihan juga perlu bergeser dari sekadar menghitung jumlah peserta menuju hasil. Sertifikat bukan tujuan akhir. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak peserta yang memperoleh pekerjaan, bertahan, dan mengalami peningkatan pendapatan.

Tantangan itu semakin besar karena pasar tenaga kerja Jawa Timur sangat luas. Pada Mei 2026, angkatan kerja mencapai 25,32 juta orang dengan 24,46 juta penduduk bekerja. Tingkat pengangguran terbuka berada pada 3,42 persen, tetapi pekerja formal baru mencapai 36,18 persen.

Ini menunjukkan bahwa pekerjaan perlu dilihat bukan hanya dari kuantitas, tetapi juga produktivitas dan perlindungannya.


Jembatan keterampilan

Dari 2.150 peluang yang ditawarkan dalam Mini Job Fair Surabaya Siap Kerjo, sekitar 1.700 berada di luar negeri. Porsi tersebut menunjukkan bahwa pasar kerja Surabaya semakin terhubung dengan kebutuhan tenaga kerja global.

Peluang menjadi Pekerja Migran Indonesia dapat membuka jalan menuju pengalaman, pendapatan, dan keterampilan baru. Namun, kerja di luar negeri tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai jalan keluar ketika pekerjaan di dalam negeri terbatas.

Perlindungan harus ditempatkan di depan. Calon pekerja migran perlu memahami negara tujuan, kontrak kerja, jalur penempatan, dokumen, serta hak-haknya. Aktivasi Identitas Kependudukan Digital dapat membantu urusan administrasi, tetapi bukan satu-satunya fondasi perlindungan.

Pada saat yang sama, peluang kerja luar negeri harus berjalan bersama penguatan lapangan kerja di dalam kota. Surabaya tetap membutuhkan industri, jasa modern, ekonomi kreatif, konstruksi, perdagangan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai ruang tumbuh tenaga kerja lokal.

Investasi juga dapat menjadi penggerak. Pemerintah Kota Surabaya sebelumnya mencatat 368 perusahaan yang berinvestasi menyerap 32.718 pekerja, dengan sekitar separuhnya merupakan warga ber-KTP Surabaya. Tantangannya adalah memastikan kebutuhan perusahaan benar-benar bertemu dengan kompetensi masyarakat.

Karena itu, Surabaya membutuhkan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih berbasis data. Setiap kecamatan dapat memiliki peta sederhana mengenai jenis pekerjaan yang tumbuh, keterampilan yang dibutuhkan, kelompok pencari kerja, serta pelatihan yang diperlukan. Dengan begitu, job fair tidak menjadi agenda sesaat, melainkan bagian dari sistem pencocokan tenaga kerja.

Rencana job fair khusus penyandang disabilitas pada November 2026 juga penting sebagai penanda bahwa akses kerja harus semakin inklusif. Pasar kerja yang sehat bukan sekadar pasar yang banyak lowongan, melainkan pasar yang memberi kesempatan lebih luas kepada masyarakat untuk berkembang.

Surabaya sesungguhnya memiliki banyak pintu menuju pekerjaan. Hal yang perlu dipastikan adalah setiap pintu terhubung dengan keterampilan, perlindungan, dan kesempatan untuk tumbuh.

Ukuran keberhasilan 2.150 lowongan itu nantinya bukan sekadar ramainya pendaftar atau banyaknya wawancara. Ukurannya ialah berapa banyak warga yang benar-benar bekerja, bekerja sesuai kompetensinya, bertahan, dan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Lowongan adalah awal perjalanan. Pekerjaan yang layak, produktif, inklusif, dan berkelanjutan adalah tujuan yang lebih penting.

Surabaya dapat membuka sebanyak mungkin pintu. Namun, masa depan ketenagakerjaan kota bergantung pada seberapa baik setiap pintu itu mengantarkan manusia menuju pekerjaan yang bermartabat dan kehidupan yang lebih mandiri.

Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.