Pimpinan pesantren diduga lakukan kekerasan seksual, ratusan santri Ponpes Abul Barokat Wannafahat NTB dijemput orang tuanya – ‘Kami khawatir karena anak saya perempuan’ - BBC News Indonesia

2026/09/22

Pondok pesantren (ponpes) Abul Wannaafahat, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Keluarga santri menjemput anggota keluarganya selama liburan sementara, dan sebagian mengaku tidak mau kembali belajar di sana.

Telah diterbitkan 6 jam yang lalu

Waktu membaca: 6 menit

Sejumlah orang tua santri Pondok pesantren (ponpes) Abul Barokat Wannafahat, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (22/09), mengaku menjemput anaknya dan memutuskan tidak akan melanjutkan belajar dan tinggal di sana. Ini terjadi setelah terungkapnya kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan pimpinan ponpes tersebut.

Mereka menjemput anak-anaknya pada Selasa (22/09), lantaran khawatir terhadap keselamatan anak-anaknya jika tetap belajar di ponpes tersebut.

Sebagian orang tua mengaku tidak akan mengembalikan anaknya untuk melanjutkan belajar dan tinggal di pesantren tersebut.

Proses penjemputan ini berlangsung sejak Selasa pagi (22/09) saat ponpes itu meliburkan sementara aktivitasnya.

Sahfan, pengurus Komite Pondok Abul Barokat, mengaku keputusan libur sementara ini karena tidak kondusif, menyusul terungkapnya kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan pimpinannya.

"Toh juga di sini dalam keadaan begini, tampaknya ndak mungkin terlaksana pembelajaran yang bagus," kata Sahfan, Senin (22/09).

Dia menjelaskan, para santri diliburkan hingga Kamis, 24 September 2026. Setelah itu para wali santri akan diberitahu perkembangannya, tambahnya.

Pondok pesantren (ponpes) Abul Wannaafahat, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Proses penjemputan ini berlangsung sejak Selasa pagi (22/09) saat ponpes itu meliburkan aktivitasnya.

Sahfan mengatakan saat ini ada sekitar 800 orang santri laki-laki dan perempuan,

Mereka berasal dari berbagai daerah di NTB dan Kalimantan.

Menanggapi pertanyaan wartawan tentang dugaan kekerasan seksual yang dilakukan pimpinan ponpes, Sahfan berkata:

"Saya tidak berani menanggapi itu, saya merasa antara percaya dan tidak lah, kami hanya menanggapi gejolak yang terjadi."

Pondok pesantren (ponpes) Abul Wannaafahat, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Sebagian wali santri menyatakan anaknya hanya pulang sementara. Tetapi sebagian wali santri telah memutuskan anaknya tidak akan kembali ke sana.

Bagaimanapun, keputusan meliburkan sementara para santri ini menyusul mencuatnya kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan pimpinan pondok, seperti dilaporkan tim investigasi BBC Eye.

Baca liputan investigasi BBC Eye:

Kendati hanya libur sementara, sebagian wali santri mengaku bahwa anak-anaknya tidak akan kembali ke ponpes tersebut. Alasannya, mereka khawatir akan keselamatan anaknya.

"Khawatir, soalnya anak saya kan cewek, terus ada begini [kasus dugaan kekerasan seksual]," kata Hirmawati, wali santri yang berasal dari Jero Waru, Lombok Timur.

Hirnawati memiliki seorang putri yang masih duduk di kelas dua madrasah tsanawiyah (setingkat SMP, dan seorang putra yang duduk di kelas 3 madrasah aliyah (setingkat SMA).

Pondok pesantren (ponpes) Abul Wannaafahat, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Seorang wali santri mengaku bahwa kedua anaknya tidak akan kembali lagi ke Ponpes Abul Barokat.

Dia menegaskan bahwa kedua anaknya tidak akan kembali lagi ke Ponpes Abul Barokat,

"Pokoknya anak saya mau pindah, soalnya begini cara gurunya [terkait kasus dugaan seksual]," ujarnya.

Selama belajar di pondok, Hirnawati mengaku mengeluarkan biaya Rp600 ribu per bulan dan beras.

Wali santri lainnya mengaku memulangkan anaknya karena alasan yang sama.

"Khawatir akan ada tindakan di luar dugaan," kata Munzir, salah seorang wali santri.

Munzir memiliki seorang putra yang saat ini di bangku akhir madrasah aliyah.

Perihal dugaan kekerasan seksual yang dilakukan pimpinan pondok kepada santrinya, yang saat ini ramai menjadi perbincangan, Munzir tidak berani berkomentar.

"Saya tidak tahu, cuma nonton saja, tapi sebagai wali santri kita juga harus mengklarifikasi benar atau salahnya," katanya.

Sebagian wali santri menjemput anaknya menggunakan sepeda motor, dan sebagian lainnya menggunakan mobil bak terbuka.

Dari pantauan BBC Indonesia, sebagian ruangan pondok sudah ditinggalkan penghuninya pada Senin (22/09).

Hanya beberapa santri dari luar daerah yang masih menunggu dijemput.

Pimpinan ponpes bersikap tertutup?

Keberadaan Ponpes Abul Barokat dinilai tertutup oleh warga setempat, setidaknya seperti itulah penilaian dua orang warga yang tinggal di dekat ponpes.

Mereka mengaku tidak menyekolahkan anaknya di pondok tersebut.

"Tuan gurunya ndak menyatu dengan masyarakat sini," kata Amaq Sari, salah seorang warga.

Pondok pesantren (ponpes) Abul Wannaafahat, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB)

Sumber gambar, BBC Indonesia

Keterangan gambar, Salah-satu sudut bangunan Pondok pesantren (ponpes) Abul Wannaafahat.

BBC News Indonesia belum mendapat tanggapan pihak pesantren atas penilaian itu.

Gina Pratiwi, salah seorang warga yang rumahnya berada tepat di samping pondok juga menyatakan hal yang sama.

Dia mengaku, tidak ada interaksi warga dengan pihak pondok.

"Kita tidak boleh berjualan di dalam, anak-anak pondok juga ndak boleh belanja di luar, harus di kantinnya dia," katanya.

Menurutnya, hanya ada satu anak yang tinggal di sana yang belajar dan tinggal di ponpes tersebut.

Polisi janji prioritaskan kasus kekerasan seksual

Terkait kasus dugaan kekerasan seksual yang dilakukan Ahmad Imanuddin Sumar, pimpinan pondok pesantren itu, Pusat Bantuan Hukum (PBH) Universitas Mataram, NTB, selalu pendamping korban, menyerahkan tambahan alat bukti ke Polres Lombok Tengah, Selasa (22/09).

Joko Jumadi, dari PBH Unram, menyebutkan pada 3 Februari 2025 pihaknya sudah membuat laporan dugaan kekerasan seksual yang dilakukan Imanuddin Sumar atau yang kerap di sapa Abah, dengan satu orang korban.

Akan tetapi Joko mengakui saat itu alat bukti belum cukup kuat untuk menjerat pelaku.

Menurut Joko, setelah melakukan kerjasama dengan BBC Eye melakukan investigasi kasus ini, mereka menemukan sejumlah alat bukti.

Joko Jumadi, dari PBH Unram, menyebutkan pada 3 Februari 2025 pihaknya sudah membuat laporan dugaan kekerasan seksual yang dilakukan Imanuddin Sumar atau yang kerap di sapa Abah, dengan satu orang korban.

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Joko Jumadi, dari PBH Unram, menyebutkan pada 3 Februari 2025 pihaknya sudah membuat laporan dugaan kekerasan seksual yang dilakukan Imanuddin Sumar atau yang kerap di sapa Abah, dengan satu orang korban.

"Hari ini kami menyampaikan alat bukti itu ke Polres Lombok Tengah," kata Joko.

"Alat bukti baru itu, antara lain, berupa rekaman pengakuan dari Tuan Guru, bukti rekaman istri Tuan Guru."

Joko mengindikasikan terdapat lima orang korban dugaan kekerasan seksual. Sebagian korban sejauh ini tinggal di Mesir.

"ini yang menjadi tantangan dari pengungkapan kasus ini. Alat bukti yang kuat itu di Mesir."

Para korban, menurut Joko, mengalami pelecehan dan kekerasan seksual.

"Memang ada dugaan salah satu korban mengalami persetubuhan, tapi kemungkinan korban tidak akan mau [memberi kesaksian] karena sudah dikondisikan," kata Joko.

Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah, AKP Punguan Hutahaen, menegaskan aparat kepolisian akan memprioritaskan penuntasan kasus dugaan kekerasan seksual yang saat ini tengah menjadi perhatian publik.

"Penanganan perkara ini akan menjadi prioritas utama, kami juga mengawal hak-hak para santri yang mungkin takut melaporkan," kata Punguan.

Punguan mengatakan sejak dilaporkan pertama kali Februari 2025 silam, pihaknya sudah menindaklanjuti dengan melakukan pemeriksaan awal.

Akan tetapi, lanjutnya, karena ada pertimbangan lain dari pelapor kasus tersebut mengendap.

Perihal terduga pelaku yang sudah tidak berada di pondoknya, Punguan menegaskan bahwa tidak ada pengamanan yang bersangkutan oleh pihak kepolisian,

"Tadi kami menanyakan, kabarnya Tuan Guru lagi berada di Mataram, ada kegiatan pribadi." kata Punguan.

"Kalau yang bersangkutan merasa terancam, kami bersedia memberikan pengamanan," tambahnya.

Artikel ini akan diperbarui secara berkala.