Timika (ANTARA) - Kehadiran Papua Football Academy (PFA) memberikan inspirasi kepada anak-anak Papua untuk mengejar mimpi menjadi pesepak bola profesional dengan bergabung di akademi tersebut.
PFA merupakan salah satu program pengembangan atlet sepak bola yang digagas oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) berbasis di Timika, ibu kota Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Direktur Papua Football Academy Wolfgang Pikal di Timika, Selasa, mengatakan perkembangan anak-anak Papua yang saat ini bergabung di akademi itu terus mengalami peningkatan.
"Banyak anak Papua yang masuk ke sini , karena masuk PFA itu merupakan salah satu cara menjadi pemain profesional dan mereka bermimpi menjadi pemain di Tim Nasional (Timnas)," ujar Pikal.
Ia menyebutkan anak-anak Papua yang saat ini bergabung di PFA melewati proses seleksi ketat dilakukan secara profesional oleh pihak manajemen PFA . Proses seleksi dipimpin oleh tim pelatih dengan berkunjung ke kabupaten/kota di seluruh Tanah Papua untuk mencari bakat dan menjaring pemain-pemain muda usia dini melalui pertandingan yang digelar.
Para peserta terbaik yang lolos seleksi di tingkat kabupaten/ kota akan dikumpulkan di Mimika Sport Complex (MSC) Timika yang menjadi markas PFA untuk mengikuti final camp (seleksi akhir).
"Anak -anak yang bagus, kami akan panggil ke final camp di Kota Timika. Sebanyak 60 anak diseleksi terbaik dari yang terbaik. Selain bermain bola, mereka juga mengikuti tes kesehatan, tes psikologi dan tes akademik. Setelah hasilnya semua keluar, kami akan memilih 20 anak untuk bergabung di PFA untuk angkatan lanjutan," jelas Pikal.
Meskipun baru berdiri sejak 2022, PFA telah menujukan prestasi membanggakan dimana sejumlah pemain yang dibina PFA telah dipanggil bergabung dengan Timnas Indonesia.
"PFA sendiri sudah mempunyai satu anak pemain di U-19 , empat pemain di U-17, dan sekarang tiga pemain lagi bergabung dengan Timnas U-16 Garuda United yang sedang dikumpulkan di Solo Jawa Tengah," ujarnya.
Pikal menambahkan proses pembinaan yang dilakukan akademi itu sudah seperti yang diterapkan oleh akademi-akademi sepak bola di Eropa.
"Anak baru punya 15 jam dalam se-minggu bermain sepak bola. Anak yang paling besar mereka 20 jam main sepak bola dan setelah selesai latihan dilakukan analisis pertandingan. Jadi levelnya seperti akademi sepak bola di Eropa ," ujarnya.
Di PFA, bukan hanya teknik saja yang menjadi perhatian tetapi pembentukan fisik serta mental juga terus dilatih dan dibina sehingga ketika anak-anak tersebut telah selesai mengikuti pendidikan di PFA dapat melanjutkan pendidik di elit pro akademi dan juga Timnas.
"Mimpi kami adalah ada pemain dari PFA lanjutkan karir sepak bola di Eropa, itu memang tidak gampang tetapi kami usahakan. Target kami anak-anak dapat melanjutkan ke elit pro akademi dan juga bergabung ke Timnas usia muda," beber Pikal.
Saat ini jumlah anak yang sedang aktif belajar di PFA sebanyak 60 orang, sementara jumlah alumni PFA sebanyak 44 orang. PFA didukung dengan sejumlah fasilitas bertaraf internasional memiliki dua lapangan untuk latihan, asrama dengan layanan lengkap keamanan, ruang gimnasium, transportasi darat dan udara, serta dukungan nutrisi seimbang.
Selain pendidikan sepak bola, anak-anak juga mendapatkan pendidikan formal 19 jam dalam satu minggu. Mereka juga dibekali materi perlindungan anak dari konsultan profesional. (*/)
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.